Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 43


__ADS_3

Zia tengah berada di perjalanan bersama Amar. Amar mengemudi mobilnya sendiri, sesekali ia melirik wanita yang ada di sampingnya. Zia terlihat melamun, seperti banyak beban yang ia pikul. Ia sendiri bingung, siapa yang ada dalam hatinya itu?


Tapi ia juga merasakan perasaan Zia padanya, karena selama ini wanita itu selalu bersikap baik sampai ia semakin jatuh cinta padanya. Amar mencoba mencairkan suasana, ia memutar sebuah lagu untuk Zia, agar wanita itu tak semakin larut dalam lamunannya.


Ia sendiri mengajak Zia pergi untuk mengenalkannya pada keluarganya yang memang berada di Bandung. Karena selama ini, ia tinggal di jakarta seoarang diri. Memulai kariernya dari nol hingga sekarang mencapai titik kesuksesannya. Kini ia sudah siap mengenalkan calonnya pada keluarganya. Dan kebetulan keberadaan Zia di puncak membuat Amar mudah untuk mempertemukan mereka.


***


Randy tengah gelisah gundah gulana, memikirkan apa saja yang dilakukan Zia dengan Amar. Ia tak bisa tenang jika ia belum tahu kabar dari mantannya itu. Mencoba ikhlas tapi tetap tak bisa. Sampai ia frustrasi sendiri.


"Papa, Papa kangen Mama ya?" tanya Zidan, "kenapa Papa membiarkan Mama pergi? Zidan tidak mau Mama sama Om Amar, aku maunya Mama sama Papa. Kita berkumpul bersama-sama."


Randy memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam. Ia tak bisa melakukan apa-apa, siapa dirinya? Kalau ia bertindak seperti itu, yang ada Zia semakin marah padanya karena sudah berani melarangnya pergi.


"Papa tidak bisa, sayang. Lagian, Papa tidak mau membuat Mama semakin jauh dari Papa. Papa tidak mau Mama marah sama Papa, kamu mengertikan?"


"Tapi, Pa ..."


"Sudah, sebaiknya kamu gabung bersama teman-temanmu. Bu Yola pasti sudah menunggumu, Papa tunggu saja di sini."


Akhirnya, Zidan kembali berkumpul bersama Zia dan teman-temannya. Melaksanakan acara summer camp tersebut.


Hingga hari-hari pun berlalu, bahkan hubungan Zia dan Randy pun tidak ada perubahan. Zia semakin menjaga jarak setelah ia pergi bersama Amar tempo kemarin, sampai Randy sedikit bingung. Apa pria itu melarangnya untuk dekat?


***


Zia dan Zidan tengah bersiap-siap kembali pulang ke Jakarta, bahkan kepulanganya ke ibu kota bersama Amar. Amar tidak mengizinkan Zia mengendarai mobilnya sendiri, ia menyuruh orang untuk membawa mobil Zia.

__ADS_1


Sementara Randy, ia melihat kebersamaan Zia dan Amar. Semakin hari, mereka semakin dekat, hingga tak ada waktu baginya untuk mendekati Zia. Wanita itu mulai bersikap dingin padanya, mungkin Zia ingin menjaga perasaan calon tunangannya. Karena setelah ia kembali ke Jakarta, ia memutuskan untuk mempercepat pertunangannya.


Rela tidak rela, Zidan harus menerima Amar sebagai papanya. Zia tak bisa begini terus, ia berharap adanya Amar membuatnya bisa melupakan Randy. Meski pun sulit tapi ia akan mencoba, karena ia yakin lambat laun perasaan itu pasti hilang.


"Kita pulang sekarang?" ajak Amar pada Zia.


Zia sempat terdiam, ia melirik ke arah mobil yang ditumpangi Randy karena Zidan pun berada di sana, ia memilih pulang bersama papanya. Benar dugaannya, Zidak tak mau lepas dengan papanya tu. Akhirnya, ia membiarkan Zidan sementara waktu bersama Randy.


Semua rombongan sudah lebih dulu meninggalkan daerah puncak, lalu disusul oleh mobil Amar dan Randy. Karena beda jurusan, mobil mereka berpisah di pertengahan jalan tol mengambil arah jalan masing-masing.


"Amar, bagaimana kalau nanti Papaku marah? Dia belum tahu kalau aku sudah bertemu dengannya, aku takut Papa marah karena Zidan pulang bersamanya." Zia nampak begitu khawatir, yang ia khawatirkan adalah kemarahan papanya terhadap Randy.


Ia tidak ingin ada pertengkaran di antara mereka, pertengkaran yang semakin membuat hubungan keduanya menjadi jauh. Sedangkan itu tidak bisa karena adanya Zidan. Zidan membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"Kamu tenang, aku akan mencoba bicara pada Papamu jika ia menanyakan keberadaan Zidan. Randy juga berhak atas Zidan, karena dia Papanya." Amar selalu membuat hatinya tenang, perkataannya selalu benar, bahkan Randy lebih berhak atas anaknya itu.


Perlahan, Zia turun dari mobil. Ia melihat Papanya tengah menanti dirinya, terlebih lagi mungkin menyambut kedatangan Zidan.


Sedari tadi Arya menunggu kemunculan cucunya itu, tapi ia tak melihat Zidan turun dari mobil. Ia kira bocah itu tertidur di dalam sana, sampai ia menghampiri pintu mobil untuk ia buka. Tapi Zia keburu bercakap akan hal ini.


"Zidan tidak ikut pulang, Pa. Dia ikut sama-." Zia tak mampu melanjutkan pertanyaannya, menyebut nama Randy saja ia tak mampu jika di hadapan Arya.


"Sama siapa? Jangan becanda kamu! Papa sudah merindukannya." Karena sejujurnya, ia tak bisa jauh-jauh dengan Zidan apa lagi dengan waktu yang cukup lama.


"Dengan siapa Zidan pulang?" tanya Arya lagi.


"Sama Papanya," timpal Amar.

__ADS_1


"Papanya, maksudmu!" Arya merasa ini tidak lucu, ia menyorotkan tatapan tajamnya pada Zia.


"Ma-mas Ra-Randy, Pa." Jawab Zia dengan wajah menunduk, ia tak berani menatap wajah papanya karena ia tahu betul karakter papanya itu.


"Bagaimana bisa Zidan sama pria itu?!" Sampai sekarang, Arya tak sudi menyebut nama Randy. Melihatnya pun ia tak ingin.


"Jemput dia sekarang juga!" bentak Arya.


"Tapi, Pa ..."


"Tidak ada tapi-tapian, jemput sekarang juga!" titahnya lagi, "Angga, kamu jemput Zidan, bawa dia pulang sekarang!" titahnya pada Angga.


"Baik, Om." Angga pun segera pergi, sebelumnya ia pamit terlebih dulu pada Mila, "Mas pergi dulu." Mila pun mengangguk.


"Aku ikut," sahut Amar. Karena ia juga ikut bertanggung jawab mengenai hal ini.


***


"Papa tak habis pikir dengan jalan pikiranmu, apa kamu tidak punya hati dengan sikapnya dulu padamu!" cecar Arya, "kenapa membiarkan pria itu bersama Zidan, punya hak apa dia? Kamu saja tidak dipedulikan, dan sekarang dengan seenak jidatnya dia mau mengambil cucuku!" Arya terlihat begitu murka.


Zia sendiri tidak berani bersuara.


"Sudah, Pa. Kasian Zia dimarahi terus. Papa juga harus ingat posisi Papa dulu ketika kita tak dapat bersama, sakit bukan rasanya," kata Zifa.


"Lain halnya dengan kita! Jangan samakan hubungan kita dengan pernikahan Zia dengan pria itu!" Kemarahan Arya meledak-ledak, ia tak menghiraukan dengan siapa ia bicara, istrinya pun terkena bentakan darinya.


Sampai tidak ada yang berani bersuara lagi, mereka semua takut kemarahan pria paruh baya itu.

__ADS_1


Yang Zia lakukan hanya menanti kedatangan putranya, semoga Angga dan Amar berhasil membujuk Zidan pulang tanpa adanya paksaan. Ia takut mental Zidan terganggu nantinya, hanya tangisan yang menemaninya saat ini.


__ADS_2