Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 54


__ADS_3

Dari kejauhan, Amar terus melihat ke arah pengantin. Siapa yang tak sakit melihat wanita yang pernah dicintainya bersanding di pelaminan bersama dengan pria lain? Amar hanya manusia biasa yang tak selamanya bisa menahan itu semua. Tapi ia tak ingin memperlihatkan kekecewaannya, itu mengapa ia datang bersama seorang gadis ke sana.


"Selamat untuk kalian," kata Amar setibanya di hadapan sang pengantin.


Mata Randy terarah pada gadis yang ada di sebalah Amar, gadis itu terlihat malu-malu. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Amar. Melihat ekspresi Randy, Amar tahu apa yang ada dalam pikirannya itu.


"Nanti aku ceritakan," bisik Amar di telinga Randy yang terlihat begitu penasaran.


"Ngomongin apa sih?" tanya Zia penasaran, "Amar, apa kamu tidak berniat mengenalkannya pada kami?" tanya Zia soal perempuan yang berada di sampingnya itu.


"Oh, iya. Saking panglingnya aku sama kamu, Zi," Amar terkekeh, "oh iya, kenalin. Ini Rani," kenalnya kemudian, "calon tunanganku," jelas Amar.


Gadis yang ada di sebelah Amar langsung melihat ke arahnya, ia terkejut mendengar penuturan pria itu. Kesepakatannya bukan seperti ini, ini namanya sudah berbohong, pikir Rani.


"Wah-wah ... Sepertinya bakal ada yang nyusul kita nih, sayang," ujar Randy pada istrinya.


Zia hanya tersenyum menanggapi itu, semoga saja benar, dan gadis ini bukan hanya sekedar dijadikan pelampiasan. Zia tahu bagaimana perasaan Amar sekarang, tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak orang tuanya yang menginginkannya menikah dengan pria ini. Amar begitu pandai menyembunyikan perasaannya itu.


"Mama, Zidan ngantuk," keluh Zidan tiba-tiba datang menghampiri orang tuanya, dijam segini memang sudah saatnya anak seumur Zidan tertidur.


"Sini, Papa gendong." Randy meraih tubuh Zidan dan memeluknya, "aku pamit sebentar," ujar Randy pada Amar dan yang lainnya. Pria itu turun dari vodium, menemui pengasuh untuk membawa Zidan ke hotel kamar. Setelah itu, ia pun mencari anak perempuannya, karena ia mengira Zia pun pasti sudah mengantuk.


Tapi di mana gadis kecil itu? Sedari tadi ia tak melihat akan keberadaanya sekali pun, hingga ia terus mencari keberadaannya. Dan akhirnya, Zia ditemukan. Gadis itu tengah berada dikerumunan, bahkan ada salah satu dari tamu yang hadir sedang mencibirnya. Tamu itu tidak tahu kalau gadis bisu itu adalah anak sang pengantin yang tengah menggelar pesta.


Sontak, membuat Randy marah. Beberapa orang melihat kejadian itu, hingga menjadi sedikit ricuh. Amar yang melihat langsung menghampiri dan melerai pertengkaran itu.


"Lihat, anak bisu itu sepertinya membuat ulah," ujar Arya, pria paruh baya itu ternyata masih menaruh dendam pada keluarga Randy.


"Sudah 'lah, Pa. Jangan mempermasalahkan ini," cetus Zifa yang tak menyukai sikap suaminya.

__ADS_1


"Belum apa-apa sudah buat malu! Kasian anak kita 'kan, Ma. Harus mengurus anak cacat itu!"


Zifa tak menanggapi ucapan suaminya, toh yang menjalani rumah tangga itu adalah anaknya. Ia yakin kalau Zia pasti bisa menyangi anak itu, begitu pun Zidan. Cucunya pasti menerima kekurangan saudaranya. Ia hanya ingin semuanya bahagia, tapi kenapa suaminya begitu tidak menyukai keturunan Baskara? Padahal Zidan juga masih keturunan Baskara.


"Ma, sebaiknya kita pulang sajalah. Sudah malam juga." Arya tetaplah Arya, pria keras kepala itu pun pergi meninggalkan pesta.


***


Si Zia kecil menangis, karena mendapat ledekan dari tamu undangan yang hadir. Lalu, Amar mengambil alih Zia dari pangkuan papanya.


"Biar aku yang menenangkannya, kamu kembali saja temui istrimu." Amar membawa pergi Zia dari sana, ia menyusul ke kamar di mana Zidan berada. Rani pun ikut mengekor dari belakang, karena tempat ini begitu asing baginya.


Sementara Randy menjadi tidak bisa tenang, untung pesta yang digelar akan segera berakhir karena malam semakin larut, ditambah lagi para tamu yang hadir sudah mulai undur diri dari sana. Karena tak bisa membiarkan anaknya terpuruk, Randy pun pergi dan mengajak istrinya untuk segera turun dari vodium sana.


"Kita temui Zia, aku gak bisa tenang sebelum melihat keadaannya." Randy pun berlenggang lebih dulu, dan Zia sang istri mengekor dari belakang.


Pesta jadi tak sesuai harapan, karena acara langsung bubar setelah sang pengantin meninggalkan gedung resepsi.


***


"Di dalam, dia sudah tenang. Biarkan dia tidur." Amar mencegah Randy untuk menemuinya.


"Aku tidak bisa membiarkannya sebelum aku menemuinya dan memastikan keadaannya." Randy masuk ke dalam kamar hotel yang di tempati Zia dan Zidan.


Zidah sudah tidur pulas, sementara Zia, ia tahu kalau anaknya itu belum tidur. Terlihat dari punggungnya yang masih bergerak, gadis kecil itu menangis tanpa suara.


"Papa tahu kamu belum tidur," kata Randy.


Mendengar suara papanya, Zia langsung terbangun dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang papa. Gadis kecil tak bisa menahan tangisannya, meski ia tak bisa bicara tapi telinganya cukup mendengar ketika orang tadi memakinya.

__ADS_1


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Randy.


Meski dalam keadaan menangis, Zia mengatakan apa yang terjadi tadi pada dirinya. Ia mengatakan bahwa ia tak sengaja menumpahkan air ke gaun tamu tadi, sampai ia dimarahi. Karena tak bisa menjawab, ia langsung dikatai.


"Maafkan Papa yang tak bisa menjagamu," sesal Randy.


Anaknya itu langsung menggelengkan kepalanya, bahwa papanya tidak salah, ia sendiri yang salah tak mendengarkan apa kata neneknya. Padahal sang nenek sudah mengajaknya untuk tidur, tapi ia terlalu asyik sampai tidak merasa mengantuk.


Tak lama dari situ, Zia pun datang. Ia menghampiri mereka, bahkan ia mengajak Zia kecil tidur bersamanya.


"Tapi bagaimana dengan Zidan?" tanya Randy.


"Dia sudah tidur, Zidan tidak akan bangun tengah malam," tutur Zia.


"Iya, ada Mama di sini," timpal Eve.


Hingga akhirnya, Randy, Zia dan anak perempuannya tidur bersama dalam satu kamar.


***


"Maafkan aku ya, sayang?" kata Randy setelah berhasil menidurkan Zia anaknya.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Zia.


"Setiap malam pertama selalu ada kendalanya," Randy jadi terkekeh sendiri teringat kenangan masa lalunya.


"Ih, apaan sih? Kenapa mikirnya seperti itu? Masih ada malam-malam yang lain," bisik Zia.


Pada akhirnya, malam ini tidak terjadi apa-apa di anatara mereka. Bahkan Randy memilih untuk tidur di sofa, ia memberi kenyamanan pada istri dan anaknya agar tertidur dengan lelap tanpa merasa sempit.

__ADS_1


Tapi ketika Zia membuka ressleting gaunnya merasa kesusahan, tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada suaminya. Perlahan Randy membukanya, setelah terbuka, Zia langsung pergi menuju kamar mandi.


Randy menghela napas dengan kasar, karena gagal malam pertama malam ini. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena ada anaknya di dalam kamarnya.


__ADS_2