
Perlahan, Zia menghampiri kedua lelaki itu. Mereka terlihat begitu bahagia ketika bersama, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Rasa canggung itu muncul tiba-tiba.
"Kemarilah, apa kamu tidak ingin bergabung dengan kami?" ajaknya yang tak lain adalah Randy.
Di sinilah Randy meminta bantuan pada Amar, Amar sendiri sudah mundur untuk menjadi calon suami dari Zia. Ia tak ingin menjadi penghalang bagi keduanya, karena ia menganggap pertemanannya dengan Randy bukan sekedar teman biasa. Ia juga yakin, ia pasti mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Zia.
"Sini, Mama," ajak Zidan.
Randy memang menyiapkan ini matang-matang, Zia pun melihat ke arah bawah sana, di lihatnya sudah ada alasan untuk duduk. Tak lupa cemilan untuk dinikmati bersama, lebih tepatnya liburan ala-ala keluarga.
Zidan terlihat begitu bahagia, duduk di pangkuan papanya. Inilah momen yang diinginkan Zidan saat ini. berkumpul dengan kedua orang tuanya.
"Zia tidak kamu ajak?" tanya Zia.
"Ajak, 'kan ada di sini," jawab Randy.
"Mana? Aku tidak melihatnya." Ia mengedarkan tatapannya ke arah lain, namun tetap saja ia tak melihat siapa-siapa di sini.
"Ini, Zia." Kata Randy sambil melihat ke arah mantan istrinya.
Mendengar ucapan itu, Zia pun menoleh. Hingga tatapan mereka saling beradu, lama dengan posisi itu. Mungkin jika Zidan tak bersuara, mereka akan tetap seperti itu.
__ADS_1
"Mama, aku mau pipis," ucap Zidan.
Randy dan Zia pun sedikit menjauhkan wajah mereka, karena posisi mereka sangat dekat.
"Apa di sini ada toilet?" tanya Zia, tapi sepertinya tidak ada, mana ada toilet di danau, pikirnya, "bagaimana ini, Zidan mau pipis?" tanyanya pada Randy.
"Ikut, Papa. Ayok?" Randy mengajak Zidan ke tempat sedikit jauh dari Zia, karena keadaan darurat, di mana pun jadi untuk membuang air kecil. Setelahnya, mereka pun segera kembali.
Tak terasa, sudah satu jam mereka di sana. Kali ini, Zidan mengeluh ngantuk. Dijam segini, tepatnya jam 11 siang, jadwalnya tidur siang.
Seusai pulang sekolah, anak itu selelu tidur. Akhirnya, anak kecil itu tertidur. Paha Zia dijadikan sebagai bantal. Zidan tertidur begitu nyenyak, ditambah alam yang sedikit mendukung. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah, siapa pun akan merasa mengantuk karena udaranya sangat sejuk.
"Zi," panggil Randy.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Randy tanpa basa-basi. Karena ia merasa bukan anak muda lagi yang harus menanyakan soal perasaan yang dimulai dengan gombalan.
Zia terdiam sejenak. "Iya, dari dulu sampai sekarang aku masih mencintaimu. Tidak akan pernah terganti, kamulah cinta pertamaku." Tapi sayang, ucapan itu tak mampu ia ucapkan.
Sesungguhnya, ia tak ingin menyakiti Amar. Pria itu sangat baik padanya. Ah ... Masalah ini menjadi semakin rumit. Disatu sisi, ia ingin membahakian anaknya. Disatu sisi lain, ia juga ingin berbakti pada orang tuanya. Ini pilihan yang sangat sulit baginya.
Untuk sementara, biarkan seperti ini dulu. Ia akan memastikan bahwa Amar benar-benar melepasnya dengan ikhlas. Semoga saja, Amar mendapatkan penggantinya.
__ADS_1
"Kok, melamun?" tanya Randy, "apa perasaanmu sudah menghilang?" duga Randy.
"Duh bagaimana ini?" batin Zia menggerutu.
"Aku hanya berharap kita bisa kembali, kita rawat Zidan sama-sama. Tapi jika memang perasaan itu sudah hilang, dan tergantikan oleh Amar, aku siap mundur. Asal kamu bahagia, aku pun ikut bahagia."
Mendengar kata itu, Zia tak lagi bisa membendung perasaannya. Ia tak ingin kehilangan Randy untuk yang kedua kalinya. Dan untuk Amar, kalau bisa ia akan mencarikan jodoh untuknya. Biar semua sama-sama bahagia, pikir Zia. Tapi, apa ia terlalu egois mementingkan perasaannya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan itu.
"Jadi segitu doang perjuanganmu?" tanya Zia tiba-tiba.
"Lalu, aku harus apa? Aku tidak ingin memaksa kehendakku untuk bisa bersama lagi." Sepertinya ia sudah berhasil membuat Zia tak ingin kehilangannya. "Katakan, aku harus apa?" desak Randy.
"Yakinkan Papaku, buat dia merestuti kita. Dan untuk Amar, bila perlu kamu carikan jodoh untuknya, bagaimana?"
"Cari jodoh untuk, Amar?" tanya Randy tak percaya akan permintaan Zia. Ia pikir gampang, tapi ia akan coba mengenalkannya dengan sahabatnya, itu pun kalau Amarnya mau. Pikirnya.
Hingga akhirnya, Zia kembali menerima cinta Randy. Demi Zidan, akan ia lakukan. Tak hanya untuk anaknya, ia pun memikirkan perasaan yang memang hanya untuk Randy seorang.
Sementara disebrang sana, Amar tengah menikmati minumannya di sebuah kape. Tanpa ia ketahui, ada seseorang yang mengikutinya. Dan orang itu tengah menghubungi seseorang.
"Dia sendirian, tidak dengan siapa-siapa," kata orang itu.
__ADS_1
Orang yang dihubunginya tengah mengerang, ia merasa dibohongi. Ia begitu marah ketika mengetahuinya.