Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 22


__ADS_3

Randy hanya mengantar Zia pulang ke toko, ia tidak menginap malam ini. Karena Camelia lebih butuh dirinya. Bahkan tadi saja, ia meninggalkan Camelia disaat istrinya tertidur. Randy tidak tega meninggalkan istrinya.


Wajah Camelia terlihat pucat, mungkin efek dari kehamilannya. Pikir Randy, dan ia putus untuk segera kembali ke rumah. Ia pamit pada Zia, memberikan pelukkan hangat serta kecupan singkat di bibirnya.


"Mas, pulang ya? Besok Mas janji akan bermalam di sini," kata Randy sebelum pulang.


"Hmm, baiklah," jawab Zia.


Randy kembali memeluk istrinya, dan setelah itu ia pun segera pergi meninggalkan istri pertamanya.


***


Keesokkan harinya.


Angga datang ke toko untuk menemui Zia, karena ia merasa rindu pada gadis itu. Terlebih lagi, ia ingin tahu kabar tentang rumah tangga Zia. Moga-moga gadis itu tidak kembali pada suaminya, pikir Angga.


Dan Angga sudah berada di dalam toko tersebut, Mila menyambut kedatangan pria manis itu.


"Pagi, Mas Angga?" sapa Mila.


"Pagi juga, cantik," puji Angga. Bukannya ganjen, Angga hanya menggap gadis kecil itu seperti adiknya sendiri. "Mbak Zia ada?" tanya Angga kemudian.


"Ada," jawab Mila.


Tak lama dari situ, Zia pun datang. Ia juga melihat keberadaan Angga bersama Mila, Zia sendiri menjadi bingung antara menyapanya atau tidak. Setelah kejadian kemarin membuat Zia sedikit ragu untuk berteman dengan lelaki itu, apa lagi ia tahu bahwa Angga memiliki perasaan padanya.


Akhirnya, Zia tidak menemui keberadaan Angga. Ia malah langsung pergi ke dapur untuk menghindar. Tapi sayang, sepertinya tidak mudah menghindari lelaki seperti Angga. Angga langsung menghampiri Zia.


"Zia?" panggil Angga. "Kamu marah padaku?" tanya Angga kemudian, karena Zia tidak merespons panggilan Angga.


Zia sendiri bukan marah, melainkan ia harus menjaga nama baiknya. Ia adalah seorang istri yang tidak boleh bergaul sembarangan dengan seorang laki-laki, apa lagi lelaki itu sahabat suaminya sendiri.


"Maaf, Mas. Aku sibuk," kata Zia.


Namun, Angga langsung beraksi ketika Zia hendak meninggalkannya. Angga meraih tangan Zia menariknya sampai tubuh Zia terjermbab di dada bidang Angga. Sontak, Zia langsung melepaskan diri dan menampar pipi pria itu keras-keras.


"Maaf, Zi. Aku tidak bermaksud-," ucap Angga terputus.


"Pergi! Dan jangan menampakkan wajahmu di depanku!" usir Zia. Karena Zia merasa Angga sudah kurang ajar padanya. "Jangan berharap ada pertemanan di antara kita, aku sudah kembali pada Mas Randy, jadi tolong jangan menemuiku lagi."

__ADS_1


Angga tidak bermaksud kurang ajar, ia belum bisa melepukan Zia. Ia sadar bahwa ia sudah salah, tapi, apa perasaan ini salah? Memiliki perasaan pada istri sahabatnya sendiri.


"Pergi kataku!" Setelah mengusir pria itu Zia langsung pergi meninggalkan Angga.


Angga tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendapatkan usiran dari Zia, mungkin ini karma baginya karena selama ini sudah mempermainkan banyak wanita dalam hidupnya. Setelah ia benar-benar menetapkan pada hati seorang gadis, ternyata gadis itu sudah bersuami bahkan istri dari sahabatnya sendiri.


Mila pun menghampiri Angga, pria itu menyentuh pipinya yang terasa kebas. Mila jadi kasihan padanya.


"Mas gak apa-apa?" tanya Mila. "Lagian, Mas tadi ngapain ngelakuin itu? Kalau aku ada di posisi Mbak Zia juga pasti marah."


"Mas gak sengaja tadi," jawab Angga membela diri. Dan tak lama dari situ, ponsel miliknya bergetar, disaat itu juga ia langsung mengangkatnya.


"Iya, Om," jawab Angga.


"Kamu di mana? Bisa ke sini sekarang temui, Om? Ada hal yang ingin Om bicarakan," kata orang itu yang bernama Arya.


"Iya, Om. Aku kesana sekarang." Angga langsung mematikan ponselnya, setelah itu ia pamit pada Mila. Angga sedikit mengacak rambut gadis itu.


"Ih ...," protes Mila.


"Mas pergi dulu, dadah, cantik."


***


Angga sudah berada bersama Arya, Arya adalah teman ayahnya yang sedang mengelola bisnis bersama Angga. Sudah hampir 1 bulan ini Angga mengurus bisnis itu sendiri. Sedangkan Arya terlalu sibuk dengan masalah keluarganya, terlebih lagi sedang mencari keberadaan putri kandungnya yang sengaja dipisahkan oleh istrinya sendiri. Dan sekarang masalah sudah selesai, Arya sudah kembali bersama istrinya yang bernama Zifa.


Dan putrinya pun sudah ditemukan, jadi ia bisa kembali fokus menangani perusahaannya yang digabungkan dengan perusahaan Angga. Perusahaan properti yang dilakoninya sekarang, dan sekarang itu sedang berkembang pesat. Arya meminta bertemu dengan Angga karena akan mengatakan bahwa ia sudah siap kembali bekerja dengannya.


"Jadi, Om sudah siap kembali bekerja?" tanya Angga pada Arya.


"Iya, Om sudah menemukan putri, Om. Jadi Om akan kembali fokus."


"Aku ikut senang, Om."


Pertemuan mereka tidak berlangsung lama, karena Arya sendiri akan menemui anaknya. Ia ingin tahu kehidupan Zia, apa anaknya diperlakukan baik atau tidak oleh menantunya itu.


"Ya sudah kalau begitu, Om permisi. Om ada janji dengan anak, Om." Arya menjabat tangan Angga sebelum pergi.


"Iya, Om. Hati-hati," kata Angga.

__ADS_1


Setelah pertemuannya dengan Angga, Arya langsung menemui anaknya. Dan kini ia sudah berada di tempat usaha Zia. Mila sendiri terkejut akan pemandangan yang dilihatnya, Zia tengah berpelukan dengan seorang laki-laki yang sudah berumur. Namun dimenit berikutnya, Zia mengenalkan papanya pada Mila.


"Jangan salah sangka, ini Papa, Mbak," jelas Zia pada Mila. Karena gadis itu sepertinya curiga, bukannya apa-apa, Mila tidak pernah melihat laki-laki paruh baya itu.


"Papa, jadi selama ini Mbak punya orang tua?" tanya Mila.


"Iya, Mil. Mbak juga gak nyangka, tapi Mbak seneng bisa bertemu kembali dengan mereka." Jelas Zia sembari memeluk papanya dari samping.


"Kalau kamu mau, kamu juga bisa jadi anak, Om," kata Arya.


Karena Zia sudah mengatakan semua tentang hidupnya, termasuk Mila yang sudah ia anggap sebagai adiknya.


"Terimakasih sudah menerimaku sebagai anak, Om." Mila membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Panggil Papa, jangan, Om," pinta Arya.


Arya menelisik tempat kerja anaknya, di sini ia mulai bisa menilai menantunya. Zia diperlakukan tidak layak di sini.


"Kenapa kamu tinggal di sini? Bukankah suamimu pengusaha sukses?" tanya Arya.


"Mas Randy masih sibuk, Pa," jawab Zia.


"Itu bukan suatu alasan, Zia. Kalau dia memang sudah berubah seharusnya dia langsung mencari tempat tinggal yang layak untukmu, apa lagi setelah kamu meminta untuk tidak tinggal satu atap bersama istri mudanya."


"Iya, Pa. Aku akan bicarakan ini sama Mas Randy, aku juga belum bilang padanya kalau aku sudah bertemu dengan kalian."


"Bagus, Papa sendiri yang akan menilai suamimu. Apa dia benar akan adil terhadapmu? Jika tidak, Papa sudah bilangkan padamu? Papa akan membawamu pulang."


"Kalau Mas Randy tidak adil padaku, aku sendiri yang akan pergi dari hidupnya."


"Kamu persis seperti Mamamu. Ya sudah, Papa pulang dulu," pamit Arya.


"Salam buat, Mama." Zia kembali memeluk pria paruh baya itu.


***


Hari sudah mulai gelap, Zia sedang duduk di meja kasir. Sambil menunggu suaminya datang, ia sedang mengerjakan laporan pemasukkan dan pengeluaran bulan ini. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk, dan ia langsung membuka chat tersebut.


"Maafkan, Mas. Mas gak bisa datang malam ini, Mas usahakan besok."

__ADS_1


Zia langsung kecewa setelah membaca pesan itu, namun ia masih bersabar. Ia berharap, tidak datangnya suaminya bukan karena madunya.


__ADS_2