Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 57


__ADS_3

Amar mengemudikan mobilnya, sesekali ia melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya. Sepertinya gadis itu terlihat lelah, terlihat jelas ia sedang menguap.


"Kalau ngantuk tidur saja, aku bangunkan nanti kalau sudah sampai," kata Amar.


"Aku tidak ngantuk!" jawab jutek Rani.


Amar menghela napas, gadis ini berbeda dengan gadis lain. Ini yang membuat Amar penasaran, biasanya kalau ada wanita yang ia perlakukan seperti ini akan malah memanfaatkan keadaan. Tidak hanya tampan, Amar memang pengusaha yang terbilang sukses di usia muda.


Akhirnya, Amar tidak mempermasalahkan Rani yang ingin tidur atau tidak. Yang jelas ia akan mengantarnya pulang dengan selamat, ia takut kejadian waktu kemarin terulang. Lambat laun, Rani menyandarkan kepalanya di sandaran jok, gadis itu tertidur dengan sendirinya.


Amar yang melihat tersenyum kecil, sebentar, ia menepikan kendaraannya. Memposisikan tidur gadis itu agar merasa nyaman. Amar sedikit menurunkan kursi yang di tempati oleh Rani itu, agar gadis itu tidak merasa pegal. Setelahnya, ia kembali mengemudi.


Sesekali gadis itu merubahkan posisinya, sampai wajahnya memiring ke arah Amar.


"Cantik." Kata itu lolos begitu saja dari bibir Amar.


Mobil terus melaju, di mana tanpa terasa kendaraan itu pun sampai dan berhenti tepat di rumah sederhana milik Rani. Pemandangan yang sangat mengejutkan bagi siapa saja yang melihatnya. Rumah itu terlihat ramai dan berisik. Ada beberpa orang di sana, tapi sedang apa mereka? Amar membuka kaca jendela, ia ingin mendengar apa saja yang dibicarakan orang itu, nampaknya begitu serius.


"Bayar hutangnya sekarang juga! Kalau tidak kamu angkat kaki dari rumah ini!" teriak orang itu pada ayahnya Rani.


Di dalam mobil, Rani mendengar keributan. Akhirnya ia pun terbangun dari tidurnya, ia mengucek kedua matanya.


"Tolong, beri saya waktu. Saya janji akan membayarnya," kata ayah Rani.


"Janji, janji. Saya tidak butuh janji," kata orang itu lagi.


"Ayah." Rani mendengar suara ayahnya. Sontak, membuatnya langsung keluar dari mobil. Aksi Rani tak bisa dicegah oleh Amar, karena gadis itu keluar tanpa memberitahukannya.


"Jangan apa-apakan Ayahku!" Rani berlari menghampiri ayahnya.


Sementara Amar, pria itu menepuk keningnya, "gawat, bisa tambah runyam ini." Amar khawatir akan keselamatan gadis itu. Ia juga melihat para preman itu menatap ke arah Rani dengan nanar. Seperti orang yang sedang kehausan, prema itu menelan salivanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang punya anak gadis! Ini bisa untuk melunasi hutangmu," kata preman itu lagi.


Mendengar ucapan itu, Amar langsung turun tangan. Ia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh gadis itu.


"Enak saja! Dia milikku!" cetus Amar.


Dan para preman itu langsung menoleh ke arah Amar.


"Siapa kau? Jangan ikut campur!" kesal preman.


"Dia pacarku, kalau kalian ingin selamat cepat pergi dari sini," usir Amar.


"Wah, wah ... Sepertinya ada pahlawan kesiangan, Bos," sahut preman satunya lagi, lebih tepatnya anak buah yang menagih hutang pada ayahnya Rani.


"Berapa hutangnya? Sekarang juga saya bayar, tapi jangan pernah lagi kalian datang kemari, apa lagi sampai mengganggunya." Ujar Amar sembari menunjuk Rani dengan wajahnya, "saya tidak bawa uang kes, ini masukkan nomor rekeningmu, aku akan transfer." Amar memberikan ponselnya pada preman itu agar ia memasukkan nomor rekening dan nominal hutang ayahnya Rani.


"Hutangnya 25 juta, saya mau lunas malam ini juga." Kata preman itu sambil meraih ponsel milik Amar.


"100 juta pun saya akan bayar malam ini juga!" tantang Amar.


"Ok, hutang Pak Kusno lunas." Ujar preman sambil mengembalikan ponsel Amar. Dan para preman itu pun pergi, tapi sebelum pergi preman itu melirik ke arah Rani.


"Dia boleh juga," batinya kemudian. Entah apa yang dipikirkan pria itu, yang jelas, Amar bisa menebak apa yang ada dalam otak preman itu.


"Dasar licik," gumam Amar. Sepertinya Rani tidak aman di sini, tapi bagaimana caranya gadis itu mau ikut dengannya?


Karena preman sudah pergi, Amar menghampiri Rani yang sedang berdiri di samping ayahnya.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Amar pada ayahnya Rani. Pria itu menjawab dengan jelas, karena pria paruh baya itu sedang tidak mabuk.


"Ayah, kenapa Ayah bisa punya hutang sebanyak itu? Rani bingung harus membayarnya dengan cara apa? Gaji Rani hanya cukup untuk makan kita, Yah," jelas Rani yang terlihat begitu khawatir. Ia takut tak bisa membayar hutangnya pada Amar.

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu dulu, yang penting premannya sudah pergi," kata Amar.


"Ayah sudah makan?" tanya Rani pada ayahnya.


Pria itu menggelangkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia memang belum makan.


"Rani bawakan ini, Ayah makan ya?" Rani mengajak ayahnya masuk ke dalam rumahnya.


Amar pun diajak masuk oleh Rani.


Setibanya di dalam, Amar melihat seisi rumah itu. Rumah yang nampak sederhana, untuk duduk pun beralaskan dengan tikar.


"Silahkan duduk, Tuan. Maaf keadaan rumahnya seperti ini." Rani mempersilahkan Amar untuk duduk.


Tapi Amar malah terdiam dengan ekspresi datar, ia mendengar ucapan gadis itu tidak seperti biasanya. Malah sering berucap kasar, tapi barusan terasa lembut di dengar. Apa karena ia sudah menolongnya barusan? Dan Rani sedikit tidak enak padanya, ya mungkin saja begitu pikir Amar.


Setelah mempersilahkan Amar duduk, Rani pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamu yang tak sengaja itu, niat Amar pun hanya mengantarkan saja. Berhubung ada insiden jadi pria itu tidak langsung pulang ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.


Amar dan ayah Rani sudah duduk di lantai beralaskan tikar. Pria tua itu mengucapkan terima kasih pada pemuda yang sudah menolongnya.


"Terima kasih sudah membantu, maaf jadi merepotkan," ucap Kusno.


"Tidak apa-apa, Pak. Lagian, saya teman dekatnya Rani," jelas Amar.


Tak lama, Rani pun datang membawakan minuman untuk Amar, dan membawa piring untuk makanan yang ia bawa untuk ayahnya. Kalau sedang tidak mabuk, Kusno memang baik. Tapi jika sedang mabuk, ia tak kenal dengan siapa ia menegur, bahkan pada putrinya pun akan bersikap kasar seperti kemarin.


"Ayah makan ya?" Rani membukakan bungkusan itu dan meletakkannya di atas piring.


Karena tidak ingin mengganggu pak Kusno makan, Amar pun beranjak dari tempatnya. Ia pergi keluar duduk di teras depan yang terbuat dari bambu.


***

__ADS_1


"Terima kasih sudah menolongku, aku janji akan membayarnya walau harus mencicil," kata Rani yang sama ikut duduk bersama Amar.


Amar hanya tersenyum menimpali perkataan Rani. Sedikit pun ia tak menagih janji itu, hutangnya pun ia tak menganggap ada. Ia hanya ingin kenal lebih dekat dengan gadis itu, tidak lebih.


__ADS_2