Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 75


__ADS_3

Pesta terus berlanjut, tapi Zia meminta pulang lebih dulu pada papanya. Ia merasa bosan di pesta itu. Zia menarik baju sang papa.


"Apa, sayang?" tanya Randy pada putrinya. "Pulang?" tanyanya kemudian.


Zia mengangguk.


"Papa cari Mama dan Zidan dulu kalau begitu, kamu tunggu sebentar di sini, ya?"


Lagi-lagi Zia mengangguk.


Sementara Randy, pria itu terus mengarahkan pandangannya, mencari keberadaan istrinya. Tadi mereka berpisah karena teman kerja istrinya menghampirinya. Lalu, tatapannya tertuju pada sosok yang dicarinya. Perlahan tapi pasti, Randy menemui Zia.


"Aku pulang duluan gak apa-apa 'kan?" Randy berbisik di telinga istrinya.


Zia menoleh, ia mengerutkan keningnya. Apa suaminya jadi BT karena soal papanya yang selalu mengeluarkan kata yang tak mengenakkan untuk anak sambungnya itu?


"Zia bosan, dia mau pulang. Aku dan Zia nunggu di hotel saja, ya? Zidan mana?" tanyanya kemudian.


"Zidan sama Papa," jawab Zia.


"Hmm, baiklah kalau begitu. Aku duluan ke hotel." Setelah mengatakan itu, Randy pun berlalu.


Zia menatap kepergian suaminya, Randy tak mengajaknya untuk pulang. Andai suaminya mengajaknya pulang, tentu ia akan ikut bersamanya. Tapi ini? Zia malah berpikir kalau suaminya memang sedang marah.


***


Di mobil.


Tanpa sepengetahuan Randy, Zia menitikkan air matanya. Gadis kecil itu bersedih karena perkataan Arya kakek tirinya. Sebenarnya ia tak ingin menghiraukan itu. Tapi pria tua itu selalu membandingkannya dengan Zidan, tentu dari segi mana pun Zidan pasti lebih unggul.


Bukan keinginannya terlahir cacat. Yang lebih menyakitkan bagi Zia, ia memiliki ibu yang menjadi penghalang di antara papanya dan juga mama sambungnya sewaktu dulu. Ia tahu semuanya dari teman-teman sekolahnga. Terkadang, ia juga sering mendapatkan ejekan.


Randy yang terlalu fokus pada kemudinya sampai ia tak menyadari bahwa putri kecilnya tengah menangis. Dan Zia, gadis itu sedang menulis sesuatu di bukunya. Setelah itu, ia memperlihatkan hasil tulisannya pada papanya. Ia menarik baju sang papa dari samping.


"Apa? Papa lagi nyeti," kata Randy. Ia menyadari kalau anaknya tengah ingin menunjukkan sesuatu padanya. Penasaran, ia pun menepikan mobilnya terlebih dulu. Bertepi di sisi jalan. "Apa, sayang?" tanya Randy setelah menepikan mobilnya.

__ADS_1


Randy meraih buku yang disodorkan anaknya, lalu membacanya.


"Pulang? Inikan kita mau pulang, sayang," kata Randy seusai membacanya.


Zia kembali menulis.


"Aku mau pulang ke Jakarta, aku mau sama Nenek saja." Zia pun akhirnya menangis.


"Hey, kok malah nangis? Mama Zia dan Zidan masih berada di pesta Om Amar, malah kita gak sopan pulang duluan. Tunggu sampai Mama dan Zidan kembali ya? Kita tunggu di hotel," bujuk Randy.


Akhirnya, Zia pun mengiyakan. Setelah berhasil membujuk anaknya, Randy kembali menyetir. Ia ingin segera sampai di hotel. Cuaca sedikit panas, sampai matanya terasa silau dari cahaya mata hari.


Akhirnya, Mereka pun sampai di hotel. Setibanya di sana, Zia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Bocah itu merasa mengantuk. Dan Randy, pria itu tak ada kegiatan. Akhirnya, ia pun menyusul anaknya yang lebih dulu ke tempat tidur.


Mereka malah tidur siang bersama.


***


"Mana Randy?" tanya Arya pada anaknya


"Sudah pulang, dia pulang duluan karena Zia mengajaknya," jawab Zia.


"Iya, Ma. Kenapa Papa pulang duluan." Zidan merasa kesal karena ditinggal oleh papanya.


"Sudahlah, kita pamit sama Amar kalau begitu. Kasian Zidan." Ucapan Arya seolah mengompori Zia. Perkataannya selalu mengingatkannya pada ketidakadilan Randy sewaktu dulu.


"Apa iya Mas Randy berbuat tidak adil pada Zia dan Zidan?" Zia malam berpikiran yang tidak-tidak pada suaminya itu.


Sejujurnya, ia masih taruma akan ketidakadilan itu. Semoga saja suaminya tidak akan mengulangi hal yang sama. Zia dan Zidan sama-sama anaknya. Tidak akan ada perbedaan di sana, pikirnya.


Mereka semua menemui pengantin. Mereka berpamitan, setelah pamit mereka langsung menuju hotel.


***


Setibanya di hotel, Zidan langsung menuju kamar yang di tempati oleh mereka. Zidan pun masuk setelah Zia membuka pintunya. Di dalam sana ia melihat suaminya tengah tertidur dalam keadaan memeluk putrinya.

__ADS_1


"Ma, kok Papa malah tidur sih? Kenapa Papa pulang duluan dan meninggalkan kita?" cerocos Zidan.


Karena pulas, Randy dan anaknya itu tak mendengar akan kedatangan istri juga anaknya.


"Gak biasanya kamu begini, Mas." Kekeh, pikiran Zia bahwa suaminya marah karena sikap papanya terhadap anak perempuannya. Gak bisa dibayangkan memang, ia pun merasa kalau sikap papanya terlalu berlebihan. Ia tak menyalahkan suaminya bila keadaan seperti ini.


Selama ini, suaminya selalu bersikap adil pada kedua putra-putrinya. Semoga saja dugaan papanya tidak benar. Randy sudah berubah, bahkan suaminya begitu menyayangi keluarganya.


Tak lama dari situ, Randy terbangun karena Zidan. Bocah kecil itu naik ke atas ranjang dan mengguncangkan tubuh papanya.


"Pa, bangun Pa ..." Zidan terus mengguncangkan tubuh papanya.


"Kalian sudah pulang?" Tanya Randy sambil terbangun dan mengucek kedua matanya.


"Sudah baru saja. Kelihatannya kamu lelah ya, Mas? Tidurnya pulas banget, aku datang sampai kamu tidak tahu," celetuk Zia.


"Ketiduran, niatnya hanya menemani Zia sampai tertidur," elak Randy.


"Kita pulang hari ini ya? Zia kangen neneknya," kata Randy.


"Kok pulang sih, katanya kita ke sini sekalian berlibur?" kata Zia.


"Tapi Zia mau pulang, dia tidak betah di sini. Apa lagi sengan suasananya," kata Randy.


"Karena ada Papa 'kan?" tanya Zia. "Atas nama Papa aku minta maaf, Mas. Maaf kalau perkataannya selalu menyinggung."


"Ngomong apa sih kamu? Aku ngajak pulang karena Zia mau pulang, itu saja. Gak ada sangkutannya sama Papa kamu kok."


"Tapi Zidan masih ingin di sini, Pa," rengek Zidan.


"Lain kali kita ke sini lagi ya? Hari ini kita pulang," kata Randy pada anaknya.


Mau tak mau, Zidan dan Zia mengiyakan keinginannya itu. Lebih baik mengalah dari pada jadi masalah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai, aku kembali. Jangan bosan ya dengan author yang meminta readers untuk berkunjung di karya teman othor. Mampir yuk di cerita ini, kisahnya sangat menarik. Sudah tamat juga, jadi bisa baca maraton di sini. Semoga terhibur ya.



__ADS_2