
Mirna menunggu kedatangan seseorang. Tadi ia menghubungi Carla, meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Ia sadar akan keinginannya kemarin. Niatnya memang baik, ia ingin anaknya menikah dan melupakan pertunangannya yang sempat gagal beberapa minggu lalu.
Kenyataan memang tak sesuai ekspektasi, tapi inilah jalan takdir yang sudah digariskan untuk Amar. Ia memang tidak mengenal menantunya itu, tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Maka dari situ ia meminta maaf pada Carla. Tapi gadis itu berniat menemuinya.
Satu jam Mirna menunggu. Keberadaan Carla memang ada di Bandung saat ini. Setelah pertemuannya dengan Amar tempo hari, ia langsung menemui mamanya Amar. Ia menceritakan apa yang ia ketahui.
Sejujurnya, gadis itu memang kecewa pada Mirna. Wanita itu sudah menjanjikan sesuatu yang membuat Carla kembali ke tanah air. Sayang seribu sayang, ia malah harus menelan pil pahit. Pupus sudah harapan untuk bisa hidup bersama sahabatnya. Cinta yang sudah lama tumbuh kini harus ia kubur dalam-dalam.
Mirna berdiri dari posisinya, ia melihat mobil masuk ke halaman rumah. Ia tahu siapa yang datang. Ia pun segera menemuinya ke depan rumah.
Nampak Amar di sana, ia pun melihat kedatangan Carla. Ia takut sang mama memaksakan kehendaknya.
"Bagaimana ini? Kenapa Mama nekat sekali," gerutu Amar. Karena pikirannya terhadap sang mama adalah menjodohkannya.
Tak lama dari situ, Rani pun datang. Ia merasa suaminya terlalu lama meninggalkannya di kamar seorang diri, padahal hanya mengambil minum ke dapur.
"Mas," panggil Rani yang hendak menuruni anak tangga.
"Iya," jawab Amar.
Rani melihat ke mana mata ekor suaminya memandang. Pintu utama terbuka lebar sehingga ia dapat melihat dengan jelas siapa yang datang.
"Mas, dia wanita kemarin yang bertemu dengan kita bukan?" tanya Rani. "Mau apa dia datang kemari? Apa Mamamu benar-benar ingin menjadikannya menantu di keluarga ini? Lalu bagaimana nasibku, Mas?" Rani tak mau di madu.
Pertanyaan Rani membuat Amar tak bisa menjawab, ia tak habis pikir pada ibunya. Bukankah ia juga wanita? Tentu mamanya bisa merasakan di posisi istrinya bukan? Tapi untuk saat ini, Amar hanya bisa memantau.
"Sudah, jangan hiraukan. Kita ke kamar saja." Tanpa menunggu jawaban dari Rani, ia langsung menarik tangan istrinya. Menuntunnya kembali ke kamar.
setibanya di kamar, Rani melepaskan pegangan tangannya.
"Mas, Mamamu niat sekali memisahkan kita. Apa kamu akan menuruti semua keinginan Mamamu?" tanya Rani.
"Tidak, aku tidak mungkin menikah untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan poligami, sayang."
"Dia cantik dan memiliki segalanya, tidak sepertiku," lirih Rani sambil memalingkan wajahnya.
"Hey, lihat aku." Amar meraih dagu istrinya. "Tidak akan ada yang bisa nemisahkan kita, sekali pun Mama," jelas Amar.
"Tapi aku takut berpisah denganmu, aku mencintaimu, Mas." Rani memeluk sang suami begitu erat. Entas sejak kapan rasa itu tumbuh, yang jelas, Rani nyaman bersama Amar. Perlakuannya yang lembut membuat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.
__ADS_1
***
"Carla, ayok masuk," ajak Mirna.
"Iya, Tante." Jawab Carla sambil berlenggang masuk ke dalam rumah. Ekor matanya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.
"Silahkan duduk, mau minum apa?" tanya Mirna kemudian. Sejak kuliah, Carla memang sering bertemu dengan Mirna. Mereka cukup dekat, jadi Carla tak sungkan-sungkan pada wanita paruh baya itu. Terlebih lagi, ia sudah menganggap mamanya Amar seperti ibu kandungnya sendiri.
"Amar ada 'kan, Tante?" tanya Carla.
"Ada, tapi-."
"Sama istrinya?" pungkas Carla.
Mirna mengangguk.
"Maafkan, Tante ya? Tante gak bermaksud membohongimu. Seperti yang Tante bilang kemarin, Tante tidak tahu kalau Amar punya kekasih."
"Gak apa-apa, Tante. Lagian, aku kemari mau pamit. Aku akan kembali ke London kalau begitu. Aku gak mau merusak rumah tangga orang, melihat Amar bahagia, aku pun ikut bahagia." Carla membohongi diri sendiri, padahal hatinya terasa sesak. Sudah sejak lama ia menyukai sahabatnya itu, kalau bukan jodoh mau digimanain juga tidak akan bersatu.
"Perlu Tante panggilkan, Amar?"
"Boleh, Tante."
"Lira, panggil Amar, bilang padanya di sini ada Carla."
"Mama nekat sekali."
Tapi apa boleh buat, Lira tak bisa membantah perintah sang mama, ia pun mengangguk lalu menaiki anak tangga.
"Mas," panggil Lira setibanya di depan pintu kamar pengantin baru itu.
"Mas, itu suara Lira," kata Rani di dalam kamar. Mereka sedang asyik bermanja-manja di tempat tidur.
"Ah, Lira ganggu saja." Amar pun beranjak dari posisinya berniat menemui adiknya.
"Ada apa?" tanya Amar setelah membuka pintu.
"Disuruh Mama ke bawah, ada Carla. Temuin gih, sekalian jelasin kalau perasaan tidak bisa dipaksakan." Lira jadi geram sendiri akan tingkah sang mama, meski ia belum tahu keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Nanti Mas nyusul." Setelah mengatakan itu, Amar menutup pintu kembali. Lalu ia menemui istri tercintanya yang duduk sambil bersandar di sandaran ranjang.
Amar mendudukkan diri di tepi ranjang, ia izin pada istrinya untuk menemui Carla.
"Gak apa-apakan Mas temui Carla?"
"Temuilah, masalah tidak akan selesai jika dihindari. Aku percaya padamu, Mas."
"Mas janji tidak akan lama." Sebelum Amar pergi, ia mencium bibir istrinya sekilas. Setelah itu ia benar-benar pergi dan menemui Carla.
***
"Hay," sapa Carla setibanya Amar di hadapannya.
Karena sudah ada Amar, Mirna pun pergi. Ia memberi ruang untuk Carla.
"Ada apa, Carla?" tanya Amar.
"Maaf, aku ke sini hanya untuk pamit. Tahu kamu sudah menikah, aku sadar. Kalau kita ditakdirkan hanya untuk berteman. Tapi sumpah, bukan aku yang ingin dengan perjodohan ini," terang Carla.
Amar menghela napas sejenak sebelum bicara.
"Maafkan Mamaku ya? Aku juga yang salah tidan membicarakan pernikahanku dengan Rani. Pernikahan ini memang di luar dugaan, aku harap kamu mengerti dan tidak membenciku mau pun Mamaku."
"Untuk apa membenci? Seorang Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Mamamu juga tidak salah karena beliau tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Semoga pernikahanmu bahagia."
"Terima kasih sudah mengerti."
"Aku kemari sekalian pamit, aku akan kembali ke London."
Setelah berbincang lama, Carla pamit pada Amar juga Mirna.
Setelah kepergian Carla, kini hanya ada Mirna dan Amar di ruang tamu. Ibu dan anak itu saling terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Maafkan, Mama," ucap Mirna kemudian.
Amar menoleh pada mamanya, pria itu pun langsung merengkuh tubuh sang mama.
"Mama tidak salah, maafkan aku juga ya, Ma?" kata Amar masih dalam kondisi memeluknya.
__ADS_1
"Hidup bahagialah bersama istrimu, Mama ingin, anak-anak Mama bahagia. Kalau Rani memang kebahagiaanmu, Mama merestui."
Betepa bahagianya Amar, ia kembali memeluk wanita paruh baya itu.