
"Kakek, Zidan mau Papa sama Mama kembali," rengek Zidan.
Melihat sang cucu begitu menginginkan mereka kembali, sebelum ia menyesal nantinya ia pun merestui mereka. Namun tidak begitu saja, Arya memberikan syarat pada Randy. Jika kelak ia melukai putrinya lagi, ia tak segan-segan merebut paksa Zia kembali ke rumah utama. Ia tak akan mempertemukan Randy dengan anak istrinya.
"Berbahagialah, Papa lakukan ini demi Zidan." Setelah mengatakan itu, Arya dan Zifa pun pergi meninggalkan kediaman anaknya. Meski hati dalam keadaan dongkol, ia mengalah demi kebahagiaan putri serta cucu kesayangannya.
"Papa ..." Teriak Zia sembari beranjak dari tempatnya, ia mengejar sang papa yang tengah berjalan keluar dari rumahnya. Zia berlari menghamburkan tubuhnya ke pelukkan papanya, "terima kasih sudah memberikan kesempatan pada Mas Randy," ujar Zia dalam pelukkan Arya.
Tak lama, Randy pun menyusul karena ia memang belum mengeluarkan kata sepatah pun. Arya keburu beranjak dari tempatnya, ia tahu bahwa mertuanya itu menerimanya karena terpaksa, mungkin jika bukan karena Zidan, mertuanya itu belum tentu menerimanya kembali.
"Aku berjanji akan membahagiakan Zia dan Zidan, sikapku di masa lalu tidak akan pernah aku ulangi," janji Randy pada papa mertuanya.
"Persiapkan pernikahan kalian, setelah kalian menikah Papa akan kembali ke Surabaya bersama Angga." Karena perusahaan pusat berada di sana, Angga pun akan kembali ke Surabaya dan akan menetap di sana bersama istri tercintanya.
Setelah mengatakan itu Arya dan Zifa benar-benar menghilang dari hadapan mereka. Zia pun tak menyangka bahwa papanya akan kembali merestuinya kembali dengan Randy. Karena Arya sudah pergi, Zia mengajak Randy kembali masuk ke dalam menemui Zidan yang tidak ikut menemui mereka.
Anak kecil itu bahagia ketika mendengar sang kakek mengiyakan keinginannya untuk bersama orang tuanya. Setibanya Zia dan Randy di dalam rumah, mereka berdua menciumi Zidan. Sampai anak kecil itu kewalahan dibuatnya.
"Aku ikut bahagia, Zi," kata Angga. Mila pun ikut bahagia karena selama ini ia tahu bagaimana perasaan kakak angkatnya itu. Hanya kepada Mila Zia mencurahkan isi hatinya.
"Selamat ya, Mbak. Aku ikut seneng," timpal Mila.
Karena ini kabar yang sangat membahagiakan, saat itu juga Randy mengajak Zia dan Zidan menemui mamanya juga anaknya. Memastikan mereka bahwa ia telah mendapat restu dari Arya. Eva sendiri belum tahu siapa orang tua Zia, apa wanita paruh baya itu akan menerima kenyataan bahwa yang menjadi menantunya adalah anak dari sahabat suaminya? Persahabatan yang pernah terjalin dengan baik namun seketika menjadi hancur karena sikap suaminya yang merasa selalu kalah.
***
Karena Zia mau pun Randy tidak tahu masa kelam orang tuanya, ia bahagia-bahagia saja dengan ini.
Randy dan Zia serta Zidan sudah berada di depan rumah Eva. Mereka baru sampai di sana, bahkan mereka belum turun dari mobil. Randy tengah menatap ke arah Zia. Keduanya tersenyum karena tinggal menghitung hari mereka akan kembali bersatu. Semoga semua berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Mereka pun turun dari mobil, karena suara deruman mobil terdengar oleh penghuni rumah, si kecil Zia pun keluar, ia menemui orang yang sudah diketahui siapa orangnya. Karena sebelum kemari, Randy menguhubungi mamanya lebih dulu.
Karena jam menunjukkan jam makan siang, Eva menyambut kedatangan menantu serta cucunya mengajak makan siang bersama.
"Zia, Mama senang kalian bisa kembali bersatu," ujar Eva setibanya Zia di hadapannya.
"Mungkin kami masih berjodoh," kata Zia, meski malu-malu tapi ia mengakuinya. Perasaan yang memang tidak bisa disembunyikan, wajahnya terlihat begitu bahagia. Sampai Randy sendiri menyadarinya.
"Aku sudah pastikan, Zia pasti kembali padaku. Hanya aku yang dicintainya, Ma." Ucap Randy sambil melirik ke arah Zia.
"PD banget sih kamu, Mas. Kalau bukan karena Zidan aku ogah!" dusta Zia.
"Masa?" Randy tak percaya akan hal itu.
Hingga keduanya malah saling tidak mengakui akan perasaan karena gengsi.
"Sudah-sudah, kalian ini kaya anak abg saja," seru Eva, "mending sekarang kita ke ruang makan, Zidan dan Zia sudah berada di sana," ajak Eva kemudian.
***
"Ma, ini enak," kata Zidan yang begitu lahap dengan makanannya.
"Iya, Mama emang sengaja memasak makanan kesukaan Zidan. Mama tahu dari Randy," ujar Eva pada Zia.
"Terima kasih sudah menerima kami di sini, Ma," ucap Zia.
"Justru Mama yang harusnya berterima kasih, kamu sudah mau memberikan kesempatan pada Randy," jelas Eva.
"Mau ngerumpi apa mau makan ni? Aku sudah laper," kata Randy.
__ADS_1
Kalau dulu Zia yang selalu melayaninya, kini ia yang akan memperlakukan Zia seperti putri. Ia mengambilkan makanan untuk Zia, dan mempersilahkan tuan putrinya menyantap makanannya.
"Terima kasih, Mas." Ucap Zia sambil tersenyum.
"Cuma Mama yang dapet perlakuan itu? Aku tidak?" Zidan pun cemburu akan sikap papanya yang lebih mengutamakan sang mama.
"Iya-iya, Papa layani kamu juga. Mau apa? Ayam, ikan? Apa sayurnya mau nambah?" tawar Randy tanpa jeda.
Si kecil Zia yang melihat sikap papanya yang berlaku manis pada Zidan, ia sampai terabaikan. "Aku juga mau ditawari, Pa," batin Zia. Tapi gadis kecil tak berani mengucapkan itu, ia takut mengganggu momen kebersamaan papanya dengan anaknya yang normal. Zia pun melanjutkan makannya sampai selesai.
Karena sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya, ia lebih dulu undur diri bahkan tidak pamit. Randy sendiri tidak menyadari kalau anaknya sudah pergi meninggalkan mereka.
"Mas, coba kamu susul Zia," kata Zia. Karena ia menyadari perubahan anak itu yang terlihat cemburu pada Zidan.
Randy pun kini tersadar, ia memang terlalu fokus pada putranya sampai ia mengacuhkan anak perempuannya. Sesuai perintah Zia, ia menemui anaknya yang sepertinya memang merajuk. Randy menemuinya ke kamar, karena ia yakin anaknya itu berada di sana.
Klek, pintu dibuka olehhnya, dan benar saja. Si kecil Zia tengah duduk di kursi meja belajarnya sambil menatap wajah sang mama di poto. Tak terasa ia menitikkan air matanya.
Randy langsung meraih tubuh anaknya dan meletakkan tubuh itu tepat di pangkuannya. Randy sendiri duduk di kursi yang diduduki Zia tadi.
"Anak Papa kenapa, hmm?" tanya Randy.
Bukannya menjawab, Zia malah memeluk tubuh Randy begitu erat. Ia tidak ingin papanya pilih kasih, ia takut keberadaan Zidan akan menggantikannya.
"Zia marah sama, Papa? Papa minta maaf, Papa gak bermaksud mengacuhkanmu tadi."
Tak lama, Zia dan Zidan pun menyusul. Zidan sendiri membujuk saudaranya untuk tidak marah padanya, ia tak bermaksud merebut kasih sayang papanya itu. Karena ia juga baru merasakan kasih sayang Randy sekarang , Zidan harap Zia mengerti itu.
"Zia, kasih sayang Papa tidak akan terbagi. Kalian sama-sama anak Papa." Randy merengkuh kedua anak-anaknya.
__ADS_1
Zia yang melihat pun tersenyum, semoga Zidan dan Zia bisa berbagi akan kasih sayang papanya.