Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 81


__ADS_3

Akhirnya Zia dan Zidan sampai di rumah sakit. Berhubung Zidan masih di bawah umur dan ia dalam keadaan sehat, jadi ia tak dapat masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Bahkan Zia pun tertahan di receptionis. Ia tak dapat masuk karena Zidan.


Ruangan yang akan dikunjunginya adalah ruangan yang di mana anak kecil dilarang masuk. Akhirnya, Zia menghubungi suaminya. Tapi ponsel milik suaminya masih belum aktif. Di depan receptionis itu sedikit ricuh karena Zia memaksa untuk masuk ke dalam.


"Maaf, Bu. Ibu gak bisa masuk kalau bawa anak," kata suster mencegah Zia.


"Tapi suami saya ada di dalam, Sus. Saya juga tidak mungkin meninggalkan anak saya di sini tanpa saya," ujar Zia.


Kericuhan itu terus terjadi, kebetulan Tohir lewat. Pria paruh baya itu melihat keberadaan istri dari majikannya tersebut.


"Nyonya," panggil Tohir.


"Pak, tolong saya, Pak. Saya mau masuk tapi gak boleh ajak Zidan," terang Zia. "Saya titip Zidan sebentar, saya harus masuk," kata Zia lagi.


"Zidan tunggu sebentar sama Pak Tohir ya? Mama mau temuin Papa dulu," ujar Zia pada Zidan.


"Tapi, Ma-."


"Aden sama Bapak saja di sini ya? Mamanya masuk dulu sebentar," bujuk Tohir.


"Iya, nanti Mama ajak Papa ke sini," kata Zia lagi.


Zidan pun akhirnya setuju, bocah itu menunggu bersama Tohir, duduk di depan meja receptionis. Sementara Zia, wanita itu masuk ke dalam menemui suaminya.


Setibanya di dalam, Zia melihat suaminya tengah duduk di depan ruangan yang mungkin ada Zia di dalamnya. Pria itu duduk bersama mertuanya, dengan langkah pelan, ia menghampiri.


"Mas," panggil Zia.


Randy dan Eva menoleh ke arah sumber suara. Randy berdiri lalu menghampiri istrinya.


"Kamu tahu aku di sini?" tanya Randy.


"Iya, Mas. Aku tahu dari Bibi." Jawab Zia sambil mengusap sudut matanya yang hampir mengeluarkan air matanya.


"Loh, kok nangis. Kamu kenapa?" tanya Randy bingung.


Bukannya menjawab, Zia malah memeluk suaminya. Randy semakin bingung dibuatnya.


"Maafkan aku ya, Mas. Aku gak tahu semua yang sudah terjadi padamu sewaktu dulu," lirih Zia yang masih dalam pelukkan suaminya. "Surat itu, aku belun membacanya," sambungnya lagi.


"Surat?" ulang Randy.


Zia melepaskan pelukkannya. "Iya, surat itu."


Randy mengerutkan keningnya.


"Nanti saja kita bahas itu, aku mau tahu kondisi Zia. Bagaimana kondisinya?" tanya Zia.


"Lagi ditangani Dokter," jawab Randy. "Kamu kesini sama siapa?" tanyanya kembali.

__ADS_1


"Zidan, Zidan ada di depan sama Pak Tohir."


"Kenapa kamu ajak? Kasian 'kan."


"Aku gak tahu kalian di rumah sakit. Aku-."


"Kamu kenapa?" tanya Randy.


"Aku bertengkar sama Papa," jawab Zia.


"Bertengkar? Bertengkar kenapa?"


"Soal surat itu, ternyata Papa tidak menyampaikannya padaku. Maafkan Papa ya?"


"Sudahlah, kejadian itu sudah lama. Aku tidak ingin mempermasalahkan itu, yang penting sekarang kita sudah berkumpul dengan anak-anak kita." Randy kembali memeluk istrinya.


Tak lama dari situ, dokter keluar dari ruang rawat Zia.


"Tuan Randy," panggil dokter.


Randy menoleh, lalu melepaskan pelukkannya.


"Ke ruangan saya sebentar, ada hal yang ingin saya sampaikan."


Randy mengikuti dokter menuju ruangannya. Sementara Zia menunggu bersama mama mertuanya.


Beberapa menit kemudian, Randy sudah keluar dari ruangan dokter. Langkahnya begitu gontai, pria itu tak bersemangat setelah mendengar penuturan dokter. Si kecil Zia harus segera dioperasi, ditemukan benjolan dalam tenggorokannya. Dan itu harus segera diangkat.


Randy langsung terduduk lemas di samping istrinya.


"Apa kata dokter, Mas?" tanya Zia penasaran.


"Aku gak tahu kenapa Zia tak pernah cerita akan keluhannya, Zia menyembunyikan ini dariku." Randy menangis, ia tak dapat membendung rasa sakitnya.


"Maksudmu apa, Mas? Zia kenapa?" Zia semakin penasaran.


"Zia harus dioperasi, ada benjolan di tenggorokannya," jawab Randy.


Zia menutup mulutnya, ia terkejut mendengar itu.


"Tapi kalau itu memang yang terbaik untuknya kenapa tidak kita mencobanya, Mas. Siapa tahu nanti Zia bisa bicara setelah dioperasi."


"Aku takut. Takut operasinya gagal." Randy menelusupkan wajahnya di telapak tangannya. Ini membuatnya sangat terpukul, ia takut kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Sudah cukup ia ditinggalkan istrinya, dan sekarang, ia tak mau sampai kehilangan putrinya.


"Lalu kita harus apa? Dokter menyarankan operasi, ya kita harus lakukan itu, Mas. Kita berdoa semoga operasi lancar. Bila perlu kita bawa ke luar negri," usul Zia. "Aku siap menemanimu di sana, kita tinggal di sana selama pengobatan Zia."


Randy mengangkat wajahnya, lalu melihat ke arah istrinya.


"Terima kasih dukungannya, apa kamu benar-benar sedia ikut denganku?"

__ADS_1


"Tentu, Mas. Kemana pun kamu pergi aku akan ikut, demi kebahagiaan kita."


"Baiklah kalau kamu setuju, aku akan mengatakan ini pada dokter."


Setelah mendapatkan dukungan dari sang istri, akhirnya Randy memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit yang berada di luar negri tersebut. Tak peduli dengan biaya berapa pun itu, demi kesembuhan putrinya ia akan lakukan.


Setelah Randy menemui dokter, dan dokter pun sepakat. Malam ini juga mereka akan terbang ke Amerika. Dan kebetulan sang dokter memiliki kenalan dokter yang handal menangani penyakit seperti Zia.


Dan kini, Randy, Zia serta Eva berada di ruangan di mana Zia berada. Gadis kecil itu masih belum sadar.


"Kamu yang kuat ya, nak? Papa yakin kamu bisa melewati semua ini." Tangisan Randy akhirnya luruh seketika.


***


Zia dan Randy akhirnya pulang ke rumah terlebih dulu. Mereka mempersiapkan keberangkatan mereka hari ini juga.


"Mama, kita mau ke mana?" tanya Zidan yang melihat sang mama tengah mengemas barang-barang mereka. Zidan belum tahu akan keberangkatannya ke luar negri.


Lalu, Arya datang. Ia melihat anak dan menantunya sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Arya menyangka akan kepergian anaknya karena masalah dengannya.


"Karena masalah ini kalian pergi? Kamu lebih memilih pergi meninggalkan orang tuamu?" tanya Arya pada Zia.


"Pikiran Papa itu selalu buruk, kalau pun iya aku pergi karena Papa, Papa mau apa? Papa gak bisa melarangku pergi bersama suamiku, aku akan ikut kemana pun suamiku pergi," kata Zia.


"Zi, jangan begitu. Dia 'kan Papamu, sopan sedikit," kata Randy pada istrinya.


"Lalu kenapa kalian pergi?" timpal Zifa.


Zia menghampiri mamanya.


"Untuk sementara aku akan tinggal di Amerika, Zia butuh pengobatan di sana. Mama doakan saja semoga opersainya berhasil."


"Operasi, Zia sakit apa memangnya?" tanya Zifa.


Zia menceritakan semua yang dialami anak sambungnya itu. Arya yang mendengar pun sedikit terkejut, pasalnya ia selalu memperlihatkan ketidaksukaannya pada gadis kecil itu.


Karena sudah siap, Zia dan Randy pamit pada Arya dan Zifa.


"Zidan." Panggil Zifa sambil memeluk cucunya itu. "Hati-hati di sana ya? Jangan lupa kabari Kakek dan Nenek." Zifa mencium wajah Zidan. Anak polos itu masih belum mengerti akan kepergiannya, anak itu hanya manggut-manggut.


"Ma, Pa. Aku pergi," pamit Zia.


Arya tak menjawab, ia hanya melepas anaknya itu pergi bersama suaminya. Ia tahu kalau anaknya itu kecewa padanya. Kepergiannya bukan hanya karena pengobatan Zia, melainkan pergi dari kehidupan Arya yang masih menaruh dendam pada Randy.


Akhirnya, Zia, Randy, dan Zidan pergi dari rumah itu.


......................


Hai-hai ... Jangan lupa kasih like di karya othor ya. Maaf kalau kisahnya kurang memuaskan, tapi di sini othor ada rekomendasi novel yang sangat bagus untukmu.

__ADS_1



__ADS_2