
Zia dan Randy masih berada di danau, bahkan mereka sudah kembali menghangat. Mereka tengah membicarakan masa depan mereka yang akan dibawa kemana.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan, aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku sewaktu dulu." Ucapnya sambil terus menatap wajah Zia, bahkan wajah wanita itu terlihat malu-malu. Pipinya merah merona.
Ah ... Andai mereka sudah resmi saat ini, mungkin Randy tidak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Apa lagi dengan jarak yang sedekat ini. Takut adanya bisikkan setan di antara mereka, Zia meminta pulang pada Randy.
"Kita pulang sekarang," ajak Zia, "aku coba telpon Amar." Baru saja ia akan mengambil ponselnya dari dalam tas, Randy lebih dulu menghentikannya.
Randy menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa Zia jangan menghubungi Amar. Ia sendiri yang akan mengantarkan Zia pulang, bukannya Zia memintanya untuk meyakinkan papanya itu? Inilah saatnya ia membuktikan keseriusannya.
"Zidan, kita pulang sekarang," ajak Randy pada anaknya yang tengah bermain sendiri dengan mainan yang memang sudah disiapkan Randy.
"Papa ikut pulangkan?" tanya Zidan.
"Iya, kita pulang sama-sama," jawab Randy.
"Hore ... Hore ..." Zidan nampak bahagia karena papanya akan ikut pulang bersamanya.
"Kamu yakin?" tanya Zia.
"Tentu, lebih cepat lebih baik bukan?"
Pada akhirnya, mereka bertiga bersiap-siap untuk pulang. Randy membereskan alas tempat duduk mereka, setelahnya mereka menuju mobil sama-sama.
***
Di dalam mobil, Zia melirik pria yang ada di sampingnya yang tengah mengemudi. Ia tak menyangka bahwa ia akan kembali bersamanya. Semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar, dan ia juga berharap papanya merestuinya. Tapi hatinya sangat gelisah, rasa takut itu muncul tiba-tiba.
Zia ingat betul bagaimana papanya marah, apa lagi sekarang? Ia pergi bersama zidan juga Randy. Kekhawatirannya begitu nampak, sampai Randy menyadarinya.
"Kamu kenapa, Zi?" tanya Randy.
Zia pun langsung menoleh ke arahnya, "aku takut, Mas. Takut kemarahan, Papa," jawab Zia.
"Mama jangan takut, ada Zidan yang akan melindungi Mama dari kemarahan Kakek," tutur Zidan, ia seolah mengerti karena kemarin ia mengetahui kakeknya marah-marah.
Mendengar ucapan Zidan, ia menyuruh anaknya untuk duduk bersamanya. Dan Zidan pun pindah posisi, yang awalnya duduk di jok belakang, kini berpindah ke pangkuan sang mama. Zia mencium pucuk rambut anaknya, ia bangga dengan anaknya itu. Selalu paham apa yang tengah ia rasakan.
__ADS_1
***
Di kediaman Zia.
Arya sudah mondar-mandir di ruang tamu, ia tengah menunggu kepulangan Zia yang pergi bersama Amar. Pria itu nampak begitu marah setelah tahu bahwa anaknya tidak pergi bersama calon menantunya itu. Terlebih lagi Zia yang sudah ikut berbohong padanya, padahal Zia tak tahu sama sekali akan pertemuanya dengan mantan suaminya itu.
Hingga akhirnya, suara deruman mobil terdengar di pendengaran Arya, matanya langsung menyalak marah karena yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Sementara di luar sana, Zia nampak segan turun dari mobil. Karena ia yakin kalau papanya pasti akan marah soal ini, lantas ia melihat ke arah Randy. Randy pun memejamkan matanya sejenak, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan mereka pun turun secara bersamaan, tak hanya Randy yang akan berjuang di sini. Zia pun akan ikut bicara pada papanya, mereka akan berjuang sama-sama demi anak mereka.
Zia dan Randy sudah melangkahkan kakinya menuju pintu utama, sedangkan Zidan tengah di gendong oleh papanya. Bocah itu tidak mau lepas dari tubuhnya, karena Zidan akan melindungi papanya dari amukan sang kakek. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi dengan orang dewasa itu, yang ia tahu bahwa sang kakek marah pada papanya.
Klek, pintu dibuka oleh Zia. Mereka langsung masuk ke dalam. Zia mau pun Randy menarik napasnya dalam-dalam, menetralkan perasaan yang sudah terasa campur aduk di dalam dada.
Mereka berdua melihat keberadaan Arya.
Pria itu tengah berdiri tegak menghadap ke arah Zia dan Randy. Pria itu semakin marah ketika ia tahu yang pulang bersama anaknya adalah Randy, bahkan Amar sendiri tak terlihat. Ia juga kecewa pada pemuda itu, beraninya ia mempertemukan anaknya dengan mantan suaminya.
Kemarahan Arya tertahan kala Zidan berada dalam pangkuan Randy, ia tak mungkin menunjukkan kemarahannya pada pria itu sekarang.
Papanya yang semula terdiam kini menunjukkan senyumnya. Melihat senyuman itu, Zia langsung tersenyum. Dalam hatinya merasa bersyukur bahwa papanya tak marah padanya. Tapi entah pada Randy, apa Arya akan memperlihatkan kemarahannya di hadapan anaknya?
Sampai Arya menghampiri mereka, ia langsung saja meraih tubuh Zidan yang ada di pangkuan papanya. Sampai sini, sikapnya masih terlihat baik.
"Kenapa tidak izin pada Papa akan pertemuan kalian?" tanya Arya dengan nada biasa, padahal dalam hatinya ia menahan rasa kesalnya.
"Papa, marah?" duga Zia.
"Papa marah karena kalian pergi diam-diam," jawab Arya.
Zia mengerutkan keningnya, ia bingung dengan jawaban papanya itu.
"Kalau aku izin, apa Papa tidak akan marah?" tanya Zia.
Sementara Randy, ia masih diam untuk saat ini. Ia hanya menjadi pendengar setia antar percakapan anak dan ayah itu. Lagi pula, tak ada kemarahan Arya pada Zia.
Arya masih tetap menggendong Zidan.
__ADS_1
"Kakek jangan marah sama Papa dan Mama, aku yang menginginkan pertemuan ini. Aku ingin Papa dan Mama bersatu," ujar Zidan.
"Siapa yang akan marah pada Mama dan Papa, hmm? Kakek tidak marah, Kakek hanya kesal karena kalian pergi tidak bilang-bilang," terang Arya pada Zidan.
"Papa tidak marah kami bertemu?" tanya Zia, "Papa tidak akan marah 'kan kalau aku dan Mas Randy rujuk?" sambung Zia.
Sekilas, Arya melihat ke arah anaknya. Kemudian menatap wajah Randy.
"Tidak, Papa merestui kalian." Ujar Arya sambil menatap tajam ke arah Randy. Randy pun menyadari akan tatapan itu, pria itu tengah berbohong pada anaknya. Entah apa yang direncanakan pria paruh baya itu selanjutnya.
Zia yang tak percaya akan hal itu langsung mendekatkan diri di dekat papanya.
"Papa serius?" tanya yakin Zia.
Arya mengangguk sebagai jawaban.
"Papa merestui kami?" tanya Zia lagi.
"Apa ucapan Papa kurang jelas? Perlu Papa mengulanginya lagi?" tanya Arya.
"Terima kasih, Pa." Zia memeluk papanya juga Zidan. Zidan pun ikut senang karena sang kakek yang tak marah pada papanya. Apa lagi dengan ucapannya yang lain, yang mengatakan bahwa sang kakek menerima kembalinya papanya itu untuk bersama mamanya.
Karena merasa ada yang ganjal, Randy pun tak bisa berkata-kata. Ia memilih untuk pulang saat itu juga. Mungkin ini belum waktu yang tepat.
"Aku pulang sekarang," pamit Randy pada Zia.
"Aku akan kembali besok," sambungnya lagi.
"Iya, Mas. Kamu hati-hati." Wajah ceria begitu nampak di wajahnya.
Randy pun pamit pada Arya, pria itu tak mengeluarkan suaranya sedikit pun padanya, karena ia tahu bahwa ucapannya tidak benar.
Dan Randy segera pergi dari sana. Zia langsung saja mengambil alih Zidan, dan pergi meninggalkan sang papa yang masih berada di ruang tamu.
Selepas kepergian mereka, Arya menghubungi seseorang.
"Beri dia pelajaran, pastikan dia tidak kembali menemui anakku!" ucap Arya pada sambungan itu.
__ADS_1