
Angga mengantar Zidan sekolah, setelahnya ia akan menjemputnya kembali seusai pulang sekolah nanti.
"Baki-baik di sekolah, ingat! Jangan nakal!" kata Angga pada Zidan.
"Siap, Bos!" Zidan memberi hormat pada Angga, sampai ia dibuat geleng-geleng kepala. Tingkah lakunya persis dengan Randy, bahkan wajahnya pun begitu mirip dengan papanya sewaktu kecil.
Angga mencium gemas bocah itu, ia sudah mengganggap Zidan seperti putranya sendiri.
"Dah, Papa ..." Zidan melambaikan tangannya setelah ia turun dari mobil. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam kelas. Zidan sekolah di tempat di mana Yola mengajar. Dari Bogor ia pindah ke Jakarta karena mendapatkan jodoh di sana, hingga ia menetap di kota metropolitan itu.
Jam pelajaran akan segera dimulai, beberapa menit kemudian bu guru masuk ke dalam kelas taman kanak-kanak itu, setiap kelas berjumlah 20 murid saja.
"Ok, anak-anak. Keluarkan buku kalian yang ibu beri tugas kemarin," kata guru mereka yang bernama Yola.
Namun hanya ada satu anak kecil yang terlihat murung, ia duduk di pojokkan. Gadis yang tak dapat bicara itu masuk sekolah umum, karena kepintarannya mampu menyeimbangi kepintaran anak normal yang lainnya.
Yola menghampiri anak tersebut. "Keluarkan bukunya," pinta Yola pada anak perempuan itu.
Tanpa menolak, anak itu mengeluarkan bukunya. Tak seperti biasanya anak ini terlihat murung, padahal ia selalu ceria, dan ikut bergabung dengan temannya yang lainnya.
Sampai di mana, guru itu menyebut nama siswa satu persatu untuk maju ke depan. Menceritakan tentang sosok ibu yang bertemakan 'IBUKU, PAHLAWANKU'
"Siapa yang mau maju duluan ke depan?" tanya sang guru pada muridnya.
"Saya." Jawab Zidan sembari mengangkat jari telunjuknya ke atas. Bocah berumur genap 5 tahun itu maju ke depan sambil menenteng sebuah buku, dibukanya buku tersebut. Ia mulai membaca buku itu yang berkisahkan tentang ibunya.
"Ibuku, pahlawanku." Zidan menjeda bacaannya sejenak, ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan bacaan bukunya itu.
"Mama, Mama adalah sosok pahlawan bagiku. Karena selama ini dia sudah membesarkanku sampai sekarang. Tidak kenal lelah ketika merawatku, kasih sayangnya mampu menyempuranakan hidupku. Dan dia tak sekedar menjadi ibu bagiku, karena dia juga mampu menjadi sosok Papa. Aku tak kenal sosok Papa, aku hanya punya Mama," terang Zidan pada tulisan dalam bukunya.
"Sekian, dan terimakasih," ujar Zidan setelahnya.
Guru yang mendengarkan menjadi sedih, karena ia tahu perjalanan hidup Zidan. Dan berikutnya, Yola kembali menyuruh siswanya maju ke depan.
__ADS_1
Hingga anak perempuan yang sempat murung tadi maju ke depan, ia menteng bukunya. Lalu gadis kecil itu memberikan buku tersebut pada gurunya. Yola membuka buku tersebut, ia hendak membacakan kisah ibu dari anak kecil ini. Yola sedikit terkejut ketika mendapati buku tersebut, buku itu terlihat kosong tanpa tulisan di sana.
Hingga ia berjongkok mensejajari tubuh mungil anak itu.
"Kenapa bukunya kosong? Apa kamu salah membawa buku?" tanya Yola pada muridnya.
Anak kecil itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Lalu?" tanya Yola lagi.
Yola melihat anak itu menuliskan sesuatu di buku yang selalu ia bawa, buku yang selalu menggantung di lehernya.
"Aku tidak kenal sosok ibu, tidak ada yang harus diungkapkan tentangnya. Makanya buku itu sengaja aku buat kosong." Itulah isi dari buku yang ia tulis.
Yola memeluk anak kecil itu, mendekapnya penuh kasih sayang. Pantas, selama mengajar, ia tak pernah melihatnya diantar oleh ibunya. Kalau tidak dengan neneknya, pasti dengan papanya. Tidak dapat melanjutkan tentang cerita 'ibuku, pahlawanku' Yola mengakhirinya, karena ia tak ingin melihat muridnya menjadi sedih.
"Zia boleh duduk kembali," kata Yola pada anak kecil itu. Zia pun akhirnya duduk kembali ke meja belajarnya, ia duduk tepat di sebelah Zidan.
Zidan merasa kasihan pada temannya itu, bahkan ia sering mengejeknya karena temannya itu tak dapat bicara. Untuk pertama kalinya, ia memberikan senyumnya pada teman sekelasnya itu.
Sampai Zidan menyonggol tangannya, baru Zia menoleh ke arah Zidan.
"Jangan sedih, kita bernasib sama," kata Zidan pada Zia. "Kamu tahu? Namamu sama dengan nama Mamaku," terang Zidan lagi.
Zia mengerutkan keningnya, seolah meminta penjelasan yang lebih dari Zidan.
"Intinya kita bernasib sama," kata Zidan lagi. Hingga obrolan kedua anak kecil itu nampak serius.
Tanpa terasa jam pelajaran telah usai. Zia sendiri langsung keluar dari ruang kelasnya, ia menghampiri sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman sekolah. Sedangkan Zidan tetap berada di dalam kelas bersama gurunya.
Anak laki-laki itu mengintip dari sisi pintu, ia melihat keberadaan Zia. Zia tengah dijemput oleh seorang lelaki yang tak lain adalah papanya. Zidan yang melihat merasa iri, betapa ia menginginkan sosok ayah dalam hidupnya.
"Zidan, sedang apa?" tanya Yola.
__ADS_1
Sontak, Zidan merasa terkejut akan keberadan ibu gurunya yang tiba-tiba ada di belakangnya. Yola melihat ke arah di mana mata Zidan memandang, ia melihat Zia tengah menaiki sebuah mobil, mobil yang datang untuk menjemputnya.
"Jangan sedih, 'kan ada Papa Angga." Kata Yola sembari mengusap kepala Zidan. "Oh iya, Papa Angga gak jadi jemput. Kamu pulang bareng Tante," kata Yola. Ketika Angga mau pun Zia tak bisa menjemput Zidan, bocah itu akan pulang bersama Yola.
"Tante, kita ke tempat Mama saja," pinta Zidan.
"Ok, kita ke kantor, Mama." Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman sekolah.
Setelah mereka berdua berada di dalamnya, mobil tersebut langsung melaju menuju kantor Zia.
Membutuhkan waktu 45 menit sampai di kantor. Karena tempat itu sudah tidak asing lagi bagi Zidan, hingga bocah itu langsung memasuki area kantor. Ia pergi menuju ruangan sang mama. Yola hanya menggekengkan kepala ketika melihat tingkah Zidan.
***
"Mama ...," panggil Zidan sesampainya di ruangan Zia.
Zia yang sedang bekerja langsung terhenti dari aktivitasnya. Ia melihat keberadaan putranya, tak lama dari situ, sahabatnya yang bernama Yola pun muncul di hadapannya.
"Angga tidak bisa menjemut, tadi dia menghubungiku," terang Yola pada Zia.
"Maaf, selalu merepotkanmu," kata Zia. Ia bukan tak ingin menjemput Zidan, ia sendiri pun baru sampai di ruangannya karena habis meeting.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah merasa merepotkanku. Kamu 'kan tahu, aku suka sama anak kamu ini. Dia begitu menggemaskan," kata Yola. Ia sendiri belum memiliki anak, padahal, pernikahannya sudah hampir 3 tahu.
"Oh iya, aku mau cerita. Kamu ingat sama muridku yang tidak bisa bicara itu?" tanya Yola.
"Hmm, kenapa emangnya?" Zia bertanya balik.
"Aku merasa berdosa hari ini, aku tidak tahu kalau dia tidak punya ibu." Raut wajah Yola menjadi sedih.
"Sudah meninggal maksudmu?"
"Kurang tahu, aku tidak menayakan itu."
__ADS_1
Lalu, Zia pun melihat ke arah Zidan yang sedang bermain game lewat ponsel miliknya. Ia sendiri pun sedih karena Zidan sampai saat ini belum mengetahui papanya.