Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 56


__ADS_3

Disaat semua sedang asyik, terlebih lagi bagi Zidan. Karena sang kakek tengah bermain dengannya, memanjakan cucunya dengan banyak mainan baru yang sengaja ia belikan. Zidan begitu menyukai setiap mainan itu, banyak karakter yang ia suka.


Zidan hendak membagi mainannya separu pada saudaranya, tapi Zia enggan menerima mainan itu. Ia begitu takut karena tatapan kakek Zidan begitu mengintimidasi. Takut, Zia pun melipir pergi. Ia menemui papanya yang sedang duduk bersama istrinya di sofa ruang tamu.


Zia mendudukkan tubuhnya di pangkuan sang papa, Randy mencium pucuk rambut anaknya. Zia pun mengusap rambut anak itu.


"Kenapa gak ikut bermain sama Zidan? Mainannya cukup banyak loh, apa kamu tidak menyukainya?" tanya Zia sang mama pada si kecil Zia.


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Zia bosan?" tanya mamanya lagi.


Disaat mereka sedang bersama-sama, Arya datang menghampiri. Kini saatnya pria paruh baya itu undur diri dari kota Jakarta, karena hari semakin petang ia tak ingin ketinggalan pesawat.


"Randy, jaga Zia baik-baik! Sekali saja kamu buat anak saya menderita, saya tak segan-segan memisahkan kalian!" cetus Arya yang memang saat ini masih belum percaya sepenuhnya pada menantunya itu.


"Iya, Pa. Aku janji tidak akan membuat istriku merasakan seperti dulu, lagi pula, apa yang aku cari semuanya ada di diri istriku," jawab Randy penuh keyakinan.


Zia yang mendengar pun merasa senang dan bahagia, semoga apa yang diucapkan suaminya itu benar.


Akhirnya, Arya dan Zifa pamit kepada anak dan menantunya. Tak lupa, Arya menghadiahi beberapa kecupan di wajah Zidan. Tapi tidak untuk Zia kecil, entah kenapa pria tua itu benci bila melihatnya. Karena ibunya hadir dalam rumah tangga anaknya, andai wanita itu tidak hadir. Mungkin Zia tidak akan semenderita dulu, setidaknya ia bisa merasakan kebahagiaan dalam masa pengantin barunya.


Dan sekarang, ia berharap menantunya benar-benar menepati janjinya.


"Zi, Mama pamit ya? Jaga anak-anak dengan baik, terutama untuk anak sambungmu. Jangan membeda-bedakan, dia anakmu juga," pesan Zifa.


"Iya, Ma. Tentu aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi Zidan." Jawab Zia sembari mengusap pipi anak perempuannya.


Sementara Arya memutar bola matanya dengan jengah, sekali benci tetap saja benci.


Acara perpisahan tak berselang lama, Zia dan Randy mencium punggung tangan orang tuanya, setelah itu kedua orang tua itu oun segera pergi dari kediaman Zia.


***


Karena hari semakin petang dan sudah saatnya menjalankan shalat maghrib, Randy mengajak shalat berjamaah. Mulai hari ini dan seterusnya ia akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya terlebih lagi menjadi suami yang baik untuk istrinya.

__ADS_1


"Sayang, kita shalat berjamaah dulu yuk?" ajak Randy.


"Kamu ajak saja Zia dan Zidan, aku siapkan alat shalatnya dulu," ucap Zia.


Randy pun berlenggang pergi menemui kedua anaknya yang sedang barmain di ruang tv.


"Zia, Zidan. Mainnya udah dulu ya, kita shalat maghrib dulu." Ujar Randy sambil merapihkan mainan itu ke tempat yang memang sudah disiapkan.


Dan akhirnya, mereka pun menyudahi permainan itu dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu, mereka menemui tempat ibadah, dan dilihatnya, Zia sedang merapihkan tempat itu. Meletakkan sejadah.


"Cepat kamu ambil wudhu," titah Randy pada istrinya.


"Aku lagi gak shalat, Mas. Kalian saja," jawab Zia.


Randy mengerutkan keningnya sambil mencerna jawaban istrinya.


"Libur?" tanya Randy.


"Hmm, lagi menstruasi," kata Zia.


"Sudah sana, waktunya keburu habis," celetuk Zia, wanita itu pun berlenggang pergi meninggalkan tempat ibadah itu.


***


Di tepi jalan, seorang pemuda tengah duduk di dalam mobil miliknya. Sesekali ia melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.


"Harusnya dia sudah keluar, kenapa sekarang belum juga muncul?" gumam pemuda itu sendiri, sesekali ia melihat ke arah luar. Tepatnya tengah menunggu seseorang keluar dari restaurant.


Tak berselang lama, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri. Cepat-cepat si pemuda itu keluar dari mobilnya. Ya, Amar-lah yang keluar dari mobil itu. Ia sengaja menunggu Rani pulang dari tempatnya bekerja.


"Kamu masih punya hutang!" kata Amar pada Rani setibanya gadis itu di hadapannya.


Rani sendiri sampai terkejut akan kemunculan Amar yang tiba-tiba. Pasalnya ia tengah fokus pada benda pipihnya yang hendak ia masukkan ke dalam tas kecil miliknya. Bahkan hampir saja ia menabrak tubuh pria itu.


Rani langsung terhenti, dan menatap wajah Amar.

__ADS_1


"Iya, aku akan segera melunasi hutangku," kata Rani.


Hutang yang selalu menjadi alasan bagi Amar untuk menemui gadis itu. Pasca Amar yang menolongnya waktu itu dan membawa Rani ke rumah sakit, Amar tak begitu saja melepaskan gadis kecil itu. Terlebih lagi saat dia mengantarnya pulang sampai rumah.


Amar nampak khawatir pada gadis itu, karena waktu itu ia bertemu dengan ayah Rani yang sedang mabuk.


"Duit! Mana duit?" pinta ayah Rani.


Bukannya iba melihat keadaan anaknya yang tengah dalam keadaan baju sobek dibagian pundak akibat preman waktu itu.


"Tidak ada uang, Yah. Rani belum gajian." Rani menyembunyikan tas kecil ke belakang tubuhnya.


"Itu, apa yang kamu sembunyikan?" Ayah Rani merampas tas kecil milik anaknya, "ini, apa ini? Kamu pikir ini bukan uang, hah?" Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, pria tua itu langsung pergi, bahkan tak menghiraukan keberadaan Amar di sana.


Disitulah Amar peduli pada gadis itu, entah kenapa hatinya mengatakan bahwa ia ingin melindunginya. Dan hutang Rani yang menjadikannya sebagai penghubungannya.


"Hutangmu akan lunas kalau kamu ikut denganku malam ini," kata Amar.


"Tidak! Aku harus pulang, Ayahku pasti sudah menunggu. Aku membawakan ini untuknya." Rani memperlihatkan bungkusan yang ada di tangannya, "lagian waktu itu kau sudah membawaku, dan kau berjanji setengah hutangku sudah terbayar," jelas Rani lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu." Tanpa mendengar jawaban dari gadis itu, Amar langsung menarik tangan Rani dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.


"Ini orang maunya apa sih?" geritu Rani, sejujurnya gadis itu tidak ingin merepotkannya, apa lagi kalau sampai ayahnya memanfaatkan keadaan ini, hutangnya akan semakin menumpuk. Itu artinya ia akan selalu berhubungan dengan pria ini.


Dan Rani tidak mau itu, pikirnya semua lelaki sama. Hanya manis diawal, setelah merasa nyaman pria itu akan pergi meninggalkannya seperti yang sudah-sudah.


***


"Ini tidak aku masukkan ke daftar hutangmu, aku ikhlas mengantarmu pulang," kata Amar dalam perjalanan.


Rani meliriknya sekilas, lalu kembali fokus menatap jalan.


...----------------...


Hai-hai aku kembali dengan sedikit cerita Amar di sini, semoga tidak bosan ya?

__ADS_1


__ADS_2