Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 39


__ADS_3

Malam pun berganti. Pagi ini, anak-anak sudah berkumpul di lapangan. Mereka hendak melakukan joging pagi ini, tapi tidak dengan Zidan. Anak bocah itu malah menemui papanya yang masih tertidur pulas di kamar. Zidan mengguncangkan tubuh papanya, memintanya untuk segera terbangun dari tidurnya. Ia sengaja melakukan itu, karena ia sudah merencanakan sesuatu.


"Pa, bangun. Ini sudah pagi, apa Papa tidak berniat menemui seseorang pagi ini?" Ucapan Zidan sudah seperti orang dewasa saja, ia mengajak papanya untuk mengeceng melihat gadis-gadis cantik yang sedang melakukan joging di luar sana.


Tapi sepertinya Randy tidak mudah terbangun. Karena semalam ia tak dapat tidur dengan nyenyak malam tadi, ia terlalu memikirkan Zia akan percakapannya semalam dengan papanya. Randy juga merasa kalau papanya Zia tak menyukai dirinya, karena ia sendiri pun belum sempat bertemu dengan mertuanya itu.


Zidan tak patah arang, ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air. Zidan mencipratkan air pada wajah papanya itu, berharap papanya akan segera terbangun dari tidurnya . Dan benar saja, Randy terbangun seketika.


"Ish ... Kamu nakal, siapa yang mengajarkanmu seperti itu, hah?" Randy langsung meraih tubuh anaknya itu, mengajaknya untuk masuk ke dalam gulungan selimut. Sampai keduanya malah bercanda. Randy menggelitik Zidan sampai napas Zidan tersengal menahan geli.


"Cukup, Pa. Aku sudah tidak tahan," keluh Zidan.


Randy pun menghentikan kejahilannya itu, merasa ada yang kurang karena putrinya tidak ada di tempat tidur.


"Kakakmu di mana?" tanya Randy pada anaknya.


"Zia sudah di luar, dia ikut berolahraga sama teman-teman yang lain," jawab Zidan. "Termasuk, Mama," bisik Zidan di telinga papanya.


Randy sampai mengerutkan kedua alisnya karena sedikit bingung akan maksud anaknya itu, padahal sudah jelas ia tak menanyakan mamanya. Apa Zidan tahu perasaannya pada mamanya? Ya, mungkin saja begitu.


"Ok, kalau begitu, Papa mau mandi dulu." Randy segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. lima belas menit waktu yang ia butuhkan, setelahnya ia langsung memakai baju olahraga yang memang ia siapkan kemarin sebelum pergi ke puncak. Karena ia memang berencana bermalam selama acara summer camp berlangsung.

__ADS_1


Setelah semuanya sudah siap, Randy pun menuju ke lapangan di mana anak-anak berkumpul di sana. Randy berlaga cuek ketika di depan Zia, ia malakukan gaya lamanya untuk memikat hati seorang wanita. Dengan gaya cool-nya ia melakukan pemanasan di sana.


Zia yang sedang membantu Yola mengajarkan anak-anak pun melihat keberadaan mantan suaminya itu. Ia pun melakukan hal yang sama, Zia menganggap seolah tidak ada siapa-siapa. Ia fokus bersama anak-anak yang sedang berolahraga itu.


Zidan menghembuskan napasnya, merasa gagal dengan rencana yang ia pikirkan secara matang-matang. Hingga ia membuat kekonyolan di sana, ia berpura-pura kesakitan di kaki-nya dengan mengakatakan keram d bagian kaki. Sontak, membuat Randy dan Zia langsung menghampiri anaknya. Sampai keduanya saling beradu pandang.


Zidan yang merasa berhasil langsung tersenyum, tapi senyumnya kembali hilang karena takut ketahuan bahwa ia tengah membohongi mereka.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Zia.


"Iya, mana yang sakit?" tanya Randy.


"Sebaiknya aku ajak Zidan ke dalam, kamu teruskan saja acaranya." Entah ada angin dari mana, Randy berkata lembut seperti itu pada Zia. Meski kemarin memang sikap Randy sudah mulai berubah sebelum mereka berpisah.


"Tidak, biar aku saja yang bawa Zidan ke dalam. Dia tanggung jawabku!" Zia tidak ingin anaknya berpaling pada Randy, ia takut anaknya akan merasa nyaman bersama ayahnya. Takut Zidan tidak ingin berpisah dan malah berakhir lain.


Akhirnya, Randy mengalah untuk itu. Ia membiarkan Zidan di gendong oleh mantan istrinya, namun demikian, Randy tetap menyusul berjalan dari arah belakang Zia.


Zia yang belum tersadar tengah diikuti ia berjalan santai saja ke arah kamarnya, sampai di mana ia sudah berada di ambang pintu, ia terlihat ke susahan ketika akan membuka pintunya. Randy yang menyadari akan hal itu langsung membuka pintunya sampai wanita yang ada di hadapannya merasa terkejut.


Setibanya di dalam, Zia langsung mengusir Randy.

__ADS_1


"Pergi 'lah. Biar aku yang urus Zidan, karena aku lebih tahu apa yang diinginkannya." Zia langsung menutup pintunya, dan menghampiri anak semata wayangnya itu.


"Berhenti-lah berpura-pura, Mama tahu kamu berbohong." Zia tahu kalau anaknya itu tengah membohonginya, karena selama berada di gendongannya dalam perjalanan kemari, Zidan tak mengeluh sakit sedikit pun.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Zia pada anaknya.


Zidan menundukkan wajahnya karena merasa bersalah, ia memang tak dapat berbohong pada mamanya. Sekali pun berbohong pasti ketahuan seperti sekarang.


"Apa yang kamu rencanakan?" cecar Zia lagi.


"Aku hanya ingin Papa dan Mama kembali bersatu, memiliki orang tua yang utuh tidak terpisah seperti ini. Sudah cukup Mama berpisah dengan Papa, aku juga ingin seperti teman-teman yang lain," ujar Zidan dengan polosnya.


"Zidan ... Dengar, Mama! Kamu tidak akan berpisah dengan Papa, kapan pun kamu mau bertemu dengannya, Mama izinkan. Mama sama Papa sudah tidak berjodoh. Mama ingin bahagia, begitu pun dengan Papa. Kami sudah tidak lagi mungkin bisa bersama." Sebisa mungkin Zia memberi pengertian pada anaknya itu.


Tanpa disadari, ternyata Randy menguping pembicaraan mereka. Ia mendengar penuturan mantan istrinya itu, hatinya terasa tertusuk ribuan duri yang menancap di hatinya. Luka yang pernah ia torehkan ternyata mendarah daging dihidup Zia.


Tidak pantaskan ia kembali bersatu? Sepertinya berharap pun ia tidak bisa karena penuturan Zia sangat jelas.


"Ternyata kamu sangat membenciku, Zia. Tidak ada kata maaf kah darimu untukku?" gumam Randy. Hatinya merasa hancur berkeping-keping. Apa mungkin ia harus mengubur rasa inginnya? Tapi hatinya terus mendorong berkata untuk tidak mundur selagi Zia belum menetapkan hatinya pada pria lain.


Apa pun ia akan lakukan demi bersatu kembali, meski pun nyawa taruhannya.

__ADS_1


__ADS_2