Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 28


__ADS_3

Randy pasrah dengan hidupnya sekarang, ini sudah takdir yang tak dapat diubah. Pada hari itu juga, Camelia langsung dimakamkan. Randy tersungkur dibatu nisan istrinya, di sinilah tempat peristirahatannya sekarang.


"Randy, pulang yuk?" ajak Eva.


"Mama duluan saja, lagian setelah ini aku mau ke rumah sakit jenguk Zia," jawab Randy.


Zia yang dimaksud Randy adalah anak yang sudah dilahirkan oleh istrinya. Permintaan Camelia yang terakhir adalah memberi nama anaknya yaitu Nazia.


"Ya sudah, Mama duluan kalau begitu. Kamu jangan lama-lama di sini, sebentar lagi hujan turun," kata Eva


Langit memang sudah sangat mendung, seakan mewakili perasaan Randy hari ini.


"Mel, kenapa begitu cepat kamu meninggalkan kami? Aku janji akan merawat anak kita dengan baik. Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku, aku sudah berpisah dengan Zia. Bahkan aku tidak tahu keberadaannya sekarang." Randy bicara seolah Camelia di hadapannya.


Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak akan menyia-nyiakan jodoh yang sudah diberikan lewat ibunya. Ia hanya berharap, setelah Zia tahu mengapa selama ini ia lebih condong pada istri keduanya, mantan istrinya itu bisa mengerti. Tapi selama perpisahannya dengan Zia, ia tak dapat lagi kabar darinya.


"Apa mungkin Zia tidak membaca surat yang kutulis untuknya?" pikir Randy. "Apa kamu benar-benar benci sama aku, Zi?" Randy semakin tersungkur, menangis sambil memeluk batu nisan mendiang istrinya.


Dan hujan pun turun membasahi bumi, karena hujan, Randy pun langsung beranjak dari posisinya. Ia putuskan untuk segera ke rumah sakit menemui anaknya yang lahir secara prematur. Ia berharap anaknya dapat hidup normal seperti anak yang lainnya.


***


Randy menatap dengan sendu ketika melihat anaknya yang terkurung di dalam inkubator, matanya kembali meneteskan air mata. Ia hanya bisa melihat tanpa menyentuh, melihat dibalik kaca.


"Papa akan menjaga dan merawatmu sampai , besar," ucap Randy sendiri.

__ADS_1


Dan di sebalah ruangan bayi itu terdapat ruangan dokter bagian obigyn. Di sana terdapat Zia dengan mamanya, ia memeriksakan kandungannya di sana.


"Selama ini kandungan Anda baik-baik saja, 'Bu Zia. Perbanyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran, tensi darah Anda sedikit tinggi," jelas penuturan dokter.


Zia mengangguk sebagai jawaban tidak dapat dipungkiri memang, ia masih memikirkan soal mantan suaminya itu. Tak mudah melupakan seseorang yang memang berarti dalam hidupnya. Tak lama dari situ, pemeriksaan selesai. Zia dan mamanya pun pamit dari sana.


"Terimakasih, Dokter. Kami permisi," kata Zifa.


Zia dan mamanya keluar, tanpa mereka sadari, bahwa mereka tengah melewati tubuh Randy yang masih berdiri di depan ruangan bayi. Begitu pun dengan Randy, saking fokusnya menatap anaknya di dalam sana, tak sedikit pun ia menolah ke belakang.


Mungkin memang jodoh mereka sampai di sini, dunia terasa sempit pun tak membuat mereka bertemu, sampai Zia dan mamanya sudah tak terlihat baru Randy membalikkan tubuhnya, ia pergi ke ruangan spesialis anak. Ia berniat untuk menanyakaan kesehatan anaknya itu.


***


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sudah 5 tahun Randy merawat anaknya hingga sebesar ini. Sampai sekarang ia masih menduda, tak berniat untuk mencari ibu untuk anaknya.


Randy mengurus putrinya dibantu oleh Eva, meski terlahir cacat, Eva menyayangi cucunya itu. Karena hanya Zia satu-satunya cucunya, tanpa ia ketahui ada cucu yang lain. Yaitu anak Randy bersama Zia.


"Ok, anak Papa sudah cantik. Kamu sekolah diantar, Oma. Papa ada urusan di kantor, Papa tidak bisa mengantarmu sekolah," kata Randy pada putrinya itu.


Zia mengangguk, mengiyakan apa kata papanya. Gadis kecil itu memeluk sang papa begitu erat, ia memberikan kecupan singkat di pipi papanya. Tak dapat mengungkapkan, hanya lewat ciuman yang mewakili perasaannya, betapa ia menyayangi papanya.


"Zia, ayok. Kita berangkat sekarang," ajak Eva.


Gadis kecil itu berlari menghampiri neneknya, menempelkan tangannya di tangan sang nenek. Zia membalikkan tubuhnya, lalu melambaikan tangan ke arah papanya sambil tersenyum. Randy pun tersenyum pada putri kecilnya itu.

__ADS_1


Sementara di tempat lain.


Seorang ibu berparas cantik tengah menyisir rambut putranya, lalu mencium pipi gembul putranya itu.


"Mama, aku sudah besar," protes Zidan yang tak ingin dicium oleh mamanya.


Ya, Zidan adalah anak dari Zia. Anak pria itu tengah bersiap-siap akan pergi ke sekolah.


"Mama akan mengantarku 'kan?" tanya Zidan.


"Kamu berangkat sama Papa Angga, Mama ada urusan penting di kantor," jawab Zia. Karena Zia sekarang menggantikan posisi papanya di kantor.


Anak kecil itu menghemuskan napasnya, ia sedikit kecewa. Tapi setelah Angga datang menemuinya dan mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah, Zidan langsung berantusias. Meski tak ada papanya, ia tak kekurangan kasih sayang dari seorang papa. Selama ini Angga ikut merawat anak Zia.


Zia hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah bocah itu, ia merasa bersyukur, adanya Angga membuat Zidan tidak pernah menanyakan keberadaan papanya.


"Sudah siap, Mas?" tanya Mila pada Angga.


"Sudah," jawab Angga.


Lalu Mila menghampiri suaminya, memakaikan jas di tubuh Angga. Angga sendiri menikah dengan Mila gadis kecil yang dulu diam-diam menaruh hati padanya. Seringnya bertemu membuat cinta di antara mereka tumbuh dengan sendirinya. Ditambah lagi, Zia yang selalu mendekatkan mereka. Hingga akhirnya Mila dan Angga menikah. Dan itu oun membutuhkan waktu lama menyatukan keduanya, pasalnya, Angga selalu menunggu Zia membuka hati untuknya.


Memang tidak berjodoh dengan Zia, hingga akhirnya yang menjadi jodoh Angga adik angkat dari Zia. Dan pernikahan mereka dilandasi dengan cinta bukan pelarian karena Angga tak mendapatkan cinta dari Zia.


"Sini, peluk cium Mama dulu," kata Zia pada Zidan. Setelah itu, Zidan pun berangkat sekolah bersama Angga.

__ADS_1


Mila dan Angga memang tinggal satu rumah dengan Zia, Zia meminta pada adiknya untuk tidak pindah dari rumah yang mereka tempati. Karena Zia tidak ingin kesepian, dan akhirnya Mila dan Angga setuju. Ditambah lagi adanya Zidan yang membutuhkan sosok ayah, sampai pria itu mampu membuat Zidan tak kehilangan sosok ayah dari hidupnya.


__ADS_2