Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 55


__ADS_3

Keesokkan harinya. Kerabat Zia mau pun Randy sudah berkumpul di ruang makan yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Pengantin baru pun sudah saling suap-suapan tengah sarapan bersama. Hanya Arya dan Zifa yang tak menampakkan diri mereka di sana, karena semalam mereka langsung pulang ke rumah, dan Zidan pun belum tiba di sana.


"Mama ...," rengek Zidan yang baru saja tiba bersama sang nenek.


Mendengar rengekan anaknya, Zia pun menoleh dan menyingkirkan sendok yang hendak disuapi oleh suaminya itu, ia kira anaknya belum terbangun.


"Duh ... Anak, Mama. Sini. Cup, cup, cup ... Jangan nangis." Zia meraih tubuh Zidan dan meletakkannya di pangkuannya.


"Zidan kenapa, Ma? Kok, nangis?" tanya Randy pada Eva.


"Semalam Zidan terbangun dan dia tahu kalau Zia tidak ada, sepertinya dia marah." Eva membisikkannya di telinga Randy karena takut menantunya itu tahu apa yang terjadi, Eva tak enak hati karena Zia kecil ikut bersamanya. Sementara Zidan malah ditinggal.


"Sudah ... Jangan nangis." Zia mencoba menenangkan anaknya. Sementara mata Zidan terarah pada saudaranya, entah tatapan apa, yang jelas Zidan merajuk hari ini. Ia merasa mamanya lebih sayang ke Zia.


Karena Zidan tak kunjung berhenti dari rengekannya, Zia membawa anaknya ke luar dari tempat makan. Ia mengajak Zidan sarapan di luar.


"Mas, aku coba tenangkan Zidan dulu ya?" pamit Zia, "kamu di sini saja sama Zia."


"Tidak! Kita berempat sarapan di luar saja. Aku tidak mau mereka salah paham," tolak Randy.


Akhirnya, mereka berempat pergi dari sana. Zia dan Zidan dituntun oleh kedua orang tuanya, mereka ingin dua bersaudara itu akur. Karena di sini Randy yang tahu apa yang terjadi pada Zidan, anaknya itu tengah cemburu karena takut kasih sayangnya diberikan hanya pada Zia, gadis kecil itu.


***


Randy mengajak sarapan di restaurant dekat hotel. Dan mereka sudah sampai di sana. Zia mendudukkan Zidan dan Zia kecil secara berdampingan. Lalu, Randy berjongkok di depan kedua anaknya itu.


Randy meraih tangan Zia dan Zidan, lalu menyatukan tangan mereka.


"Lihat, Papa!" kata Randy pada kedua anaknya.


Zia dan Zidan pun menatap wajah sang papa dengan serius.


"Apa pun yang terjadi, kalian itu saudara. Tidak boleh seperti ini. Maafkan Papa dan Mama juga karena semalam membiarkan Zidan tidur sama Oma," jelas Randy.

__ADS_1


Ternyata mengurus dua bocil tidak mudah, apa lagi dengan keadaan Zia yang seperti ini. Karena istrinya lebih mengutamakan Zia, seolah gadis kecil itu membutuhkan perhatian ekstra. Mungkin istrinya belum hapal bagaimana anak sambungnya itu.


Padahal Zia sendiri, adalah gadis kuat. Entah kenapa semalam ia mendadak melow, mungkin karena orang disekitarnya melihatnya sedikit berbeda dari anak yang lainnya. Dan itu membuatnya menjadi sedih dan menangis.


"Tapi kenapa semalam Zia tidur bersama kalian, sementara aku tidak diajak. Apa karena tubuhku besar jadi tidak muat di ranjang?" tanya Zidan dengan polosnya.


Zia yang mendengar merasa lucu dengan pertanyaan anaknya itu, jadi ia malah ketawa.


"Tuh, Mama malah ketawa, apa itu benar kalian tak mengajakku karena aku gendut," tutur Zidan.


"Ish ... Bicara apa kamu ini? Siapa yang bilang kamu gendut, hmm? Anak Papa ganteng dan gak gendut," jelas Randy yang menangkan hati anaknya.


"Sudah, jangan marah lagi. Sebagai gantinya kita tidur sama-sama nanti malam," timpal Zia.


Randy langsung melihat wajah Zia sambil mengerutkan keningnya, gagal lagi malam pertamanya kalau begini. Randy menepuk keningnya sendiri.


Zia yang tahu apa maksud suaminya malah tersenyum tipis, lagi pula ia sedang datang bulan. Ia tak mungkin melakukan itu dengan suaminya. Jadi Zia mengajak anak-anaknya untuk tidur bersama.


"Nah ... Gitu 'kan bagus." Randy mengacak rambut Zidan dengan gemas.


Karena semua sudah baik-baik, Randy memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dan si pelayan pun datang. Zia nampak terkejut ketika melihat si pelayan.


"Rani? Kamu Rani 'kan?" tanya Zia.


"Mbak, Mbak pengantin yang semalam 'kan?" tanya Rani balik.


"Iya, kamu kerja di sini?" tanya Zia.


"Iya, Mbak. Masih baru tapi." Rani mengakui pekerjaannya tanpa merasa minder. Karena tidak ada yang perlu ia tutupi dengan pekerjaannya. Lagi pula, ia juga bukan tunangan Amar, pikirnya.


Namun beda dengan pemikiran Zia, "kenapa Amar membiarkan calon tunangannya bekerja di sini, padahal ia bisa membantu mencarikan pekerjaan yang lain selain menjadi pelayan," batin Zia.


Lamunan Zia pun tersadar kala Randy menanyakan makanan apa yang diinginkannya pagi ini.

__ADS_1


"Kok, malah ngelamun sih! Mau makan apa?" tanya Randy.


"Samakan saja, Mas," jawab Zia.


Makanan sudah dipesan, Rani pun undur diri dari hadapan tamu pengunjung. Namun sebelum pergi ia berucap, "ditunggu sebentar ya, Mbak, Mas." Rani segera pergi setelah itu.


Menunggu beberapa menit makanan datang. Namun yang datang bukan Rani, karena tugas gadis itu hanya melayani setiap pemesan.


Sesuai harapan, mereka sarapan pagi ini dengan khidmad. Zidan dan Zia nampak akur-akur saja.


Karena sarapan sudah selesai, akhirnya mereka kembali ke hotel. Namun Zia dan Zidan merasa tidak betah di sana, ia meminta segera pulang. Tentu, orang tuanya menuruti apa yang diinginkan kedua anaknya. Lagi-lagi kedua anaknya berebut, Zia ingin pulang ke rumahnya, begitu pun dengan Zidan.


"Bagaimana ini, Mas. Aku pusing jadinya," keluh Zia.


"Zia sayang, kita ke rumah Mama saja ya?" bujuk Randy.


Mau tak mau, Zia pun mengalah. Meski ia takut akan keberadaan seseorang di sana, tentu yang ditakutkan Zia adalah kakek tirinya. Karena di pesta semalam, pria paruh baya itu mengucapkan sesuatu padanya. Hanya Zia yang tahu apa yang diucapkan lelaki tua itu.


"Gitu, dong ... Kamu 'kan Kakakku, jadi sedikit mengalah tidak apa-apa ya?" ujar Zidan.


***


Karena pengantin baru sudah izin pulang lebih dulu, jadi kerabat yang lain pun ikut pulang. Seperti, Angga, Mila, dan Eva. Mereka pulang sama-sama.


Angga mengajak istrinya bermalam di apartemen miliknya, karena di rumah Zia sudah ada Randy. Jadi ia tak mungkin lagi tinggal di sana, terlebih lagi ia akan kembali ke Surabaya setelah Mila melahirkan nanti.


Zia dan Randy sudah berada di kediaman Zia. Di sana masih ada Arya dan Zifa. Namun hari ini juga mereka akan kembali ke Surabaya, sesuai janji Arya waktu itu.


Kedatangan Zia dan Randy disambut hangat oleh Zifa. Zidan pun langsung di gendong oleh Arya, pria tua itu menghabiskan waktunya bersama Zidan sebelum ia pergi. Sementara Zia kecil menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh papanya.


...----------------...


Untuk sementara ini, hanya bisa up 1 bab saja. Dikarenakan lagi sibuk dengan dunia nyata, pekerjaan lagi banyak²nya. Lagi musim lembur di tempat kerja, di dunia nyata pun harus kejar target. Tetap setia ya readers😘😘

__ADS_1


__ADS_2