Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 44


__ADS_3

Angga dan Amar sudah sampai di kediaman Randy, namun di sana terlihat nampak sepi seperti tidak ada penghuni.


"Kamu yakin rumahnya di sini?" tanya Amar sesampainya tepat di kediaman sahabat Angga, "sepi sekali," sambungnya lagi.


Angga pun turun dari mobilnya, lalu disusul oleh Amar. Mereka berdua tengah berada di depan gerbang, lalu seorang security menemui mereka.


"Cari siapa ya?" tanya security itu.


"Randy-nya ada?" tanya Angga, "saya ingin bertemu dengannya."


"Kalau boleh tahu dengan siapa saya bicara?" tanya security itu lagi.


"Angga, bilang padanya saya ingin bertemu," ujar Angga.


"Tunggu sebentar, saya hubungi beliau dulu." Security itu pun masuk kembali ke dalam pos, ia tak langsung mengizinkan tamu masuk sebelum ada persetujuan dari sang majikan. Setelah menelpon, security itu kembali menemui Angga. Karena sudah mendapat persetujuan, ia mempersilahkan Angga dan Amar masuk.


Setibanya mereka di dalam, Zidan melihat keberadaan Angga. Bocah kecil itu tengah melihat ikan di aquarium bersama papanya.


"Papa," teriak Zidan. Bocah kecil itu berlari ke arah Angga.


Angga langsung memangkunya dan menciumi wajah lugu Zidan.


"Aku kangen." Kata Zidan sembari membalas ciuman Angga.


Randy yang melihat hanya terdiam, kedekatan mereka membuatnya iri.


"Zidan pulang ya?" pinta Angga pada anak kecil itu.


Zidan langsung turun dari pangkuan Angga, ia beralih pada Randy. Ia tak ingin pulang, ia masih ingin bersama papanya.


"Aku gak mau pulang, Pa. Biarkan aku di sini sama Papaku!" Zidan bersembunyi di balik tubuh Randy.

__ADS_1


"Biarkan dia di sini, lagi pula aku Papanya. Aku berhak atas Zidan." Randy tidak mengizinkan anaknya pulang, jika pun Zidan ingin pulang, ia sendiri yang akan mengantarkannya.


"Zidan gak kasian sama, Mama? Mama kesepian loh." Berbagai macam cara, Angga membujuk Zidan untuk pulang.


"Jangan memaksanya," sahut Amar. Bukannya ikut campur, ia tak ingin anak itu menjadi keegoisan orang tuanya. Apa lagi, orang tua Zia nampak tak mengizinkan Zidan untuk bertemu papanya. Ia memang tak tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi. Jika dilihat dari keduanya, Zia dan Randy masih terlihat saling mencintai.


"Kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya kamu bantu aku membujuk Zidan pulang," kata Angga.


"Punya hak apa, aku? Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Ga. Ini masalah keluarga, aku tidak ada hak untuk ini." Amar mundur alon-alon dengan masalah ini, terkecuali Zia yang menjadi topik utama.


Angga pun berpikir demikian, yang ada urusan tambah runyam kalau Amar ikut campur. Lalu, Angga mencoba bicara pada Randy.


"Untuk sekarang, biarkan aku membawa Zidan pulang. Om Arya menunggu kepulangan cucunya," jelas Angga.


Mendengar perkataan Angga, Randy pun akhirnya bicara pada anaknya.


"Zidan pulang dulu, besok Papa jemput. Kita main sama-sama," bujuk Randy, "Papa yang antar, kamu maukan?" bujuknya lagi.


Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di sini, ia harus meluruskannya sendiri akan hubungannya dengan Zia dulu.


Mereka berempat akhirnya menuju kediaman zia.


***


Zia sudah ketar-ketir, ia terus mondar-mandir menunggu kedatangan anaknya. Bahkan, Arya terlihat bersedekap tangan di dada. Pria itu masih terlihat marah, tepatnya ia kecewa pada putrinya. Zia seakan memberi harapan pada Randy. Karena mereka memang sama-sama saling mencintai, hanya kesalahpahaman yang menjadi pemicu di antara mereka.


Tak lama dari situ, suara deruman mobil terdengar di pendengaran Zia. Wanita itu langsung beranjak dari tempatnya, ia pun menyambut kedatangan mereka, karena ia yakin bahwa Angga pasti berhasil membujuk anaknya pulang. Zia terhenti tepat di ambang pintu, ia tak percaya mantan suaminya ikut kemari.


Pria itu tengah menggendong Zidan. Tanpa ragu, Randy terus berjalan, sampai ia terhenti tepat di hadapan mantan istrinya. Arya yang mengetahui kedatangan Angga, pria paruh baya itu menyusul Zia. Karena ia sudah pernah bertemu Randy sebelumnya, ia tak begitu terkejut ketika melihatnya. Ia malah terlihat marah pada Randy.


Pria itu yang sudah membuat anaknya menderita selama pernikahan itu berlangsung. Tanpa kata, ia langsung mengambil alih Zidan. Karena di situ juga ada Mila, Arya memberikan Zidan pada wanita hamil itu.

__ADS_1


"Ajak Zidan masuk!" titahnya pada Mila.


Setelah kepergian Mila dan Zidan, Arya menatap wajah Randy begitu tajam bak Elang yang siap menerkam. Zia yang menyadari kemarahan papanya, langsung menyuruh Randy segera pulang. Tapi pria itu tak menggubrisnya, ia malah mendekatkan diri di hadapan Arya.


Ia hapal betul wajah Arya, ia teringat akan pembelian rumah sewaktu dulu. Angga mengenalkannya pada Arya yang mengatakan bahwa pria ini pemilik properti, hingga ia berpikir, perpisahannya dengan Zia memang sudah direncanakan Arya matang-matang.


Kali ini, ia akan menanyakannya secara langsung.


"Kedatangan saya kemari ingin meluruskan semuanya, terlebih padamu, Zia!" Randy menatap wajah mantan istrinya itu.


Randy menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali berucap, setelah dirasa tenang ia pun kembali bersuara. Selama ia belum mendapatkan jawaban apa yang ada dalam tulisan surat yang pernah ia berikan pada Zia, selama itu pula ia tak akan beranjak dari sana.


"Sebelumnya saya minta maaf," ujarnya pada Arya, "kedatangan saya kemari ingin meminta jawaban dari Zia, apa saya tak berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri?" Meski pertanyaan itu sempat ia lontarkan pada Zia, karena ia yakin kalau mantan istrinya itu masih mencintainya.


Arya tahu apa yang dimaksud pria itu, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Bahkan ia masih menyimpan surat dari Randy yang menuliskan kata maaf untuk Zia, ia akan menebus semua kesalahannya dimasa lalu.


Karena posisi waktu itu ia sudah bercerai dengan mantan istrinya, ia berjanji tidak akan menikah dengan siapa pun lagi terkecuali rujuk dengan Zia.


Randy hendak kembali berucap, tapi sayang, sebuah tamparan mendarat sempurna di wajahnya. Arya marah karena ia merasa Randy sudah lancang padanya, bahkan ia berani menemui anaknya sebelum ia menemuinya. Seakan Randy tak menghargai keberadaannya sebagai orang tua Zia.


"Papa," protes Zia yang melihat papanya menampar mantan suaminya. Kenapa papanya sampai segitunya? Bahkan ia tak memberi kesempatan Randy untuk bicara, apa yang sebenarnya terjadi?


Randy tersungkur karena tamparan itu, ia tak marah karena ia menyadari kesalahannya. Orang tua mana yang tak kecewa akan sikapnya terhadap anaknya?


"Pergi! Jangan menampakkan lagi wajahmu!" usir Arya pada Randy.


Kemarahan Arya terlihat jelas di depan Amar, pria itu pun melihat ke arah Zia yang tengah menatap wajah mantan suaminya. Sepertinya ia tahu apa yang harus ia lakukan, kemarahan Arya mungkin akan luluh jika ia ikut menenangkan calon mertuanya itu.


Dan benar saja, Amar berhasil melerai pertengkaran itu, bahkan ia berhasil mengajak Arya masuk ke dalam rumah.


Kini hanya menyisakkan Randy dan Zia di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2