
Hingga percintaan kedua terus berlanjut. Sampai di mana, Amar terus memimpin permainan. Rani masih nampak malu-malu apa lagi ia sudah mencapai puncuknya beberapa kali. Amar benar-benar membuat istrinya dimabuk kepayang.
Kini bergilir, Rani memposisikan dirinya di atas tubuh sang suami. Dan itu pun suaminya yang menuntun. Gadis itu memejamkan mata, malu karena seluruh tubuh yang terekspose jelas di penglihatan sauminya.
"Buka matanya, jangan merem terus. Nanti aku ngilang bagaimana?" Perkataan Amar membuat Rani membuka mata. Ia langsung menempelkan tubuhnya di tubuh sang suami karena Amar menariknya.
"Buat aku semakin jatuh cinta padamu," bisik Amar kemudian.
Rani mengecup kening suaminya, ia tahu tugas istri yang paling penting adalah di atas ranjang. Ia juga tahu bagaimana cara melakukannya, karena sudah ada beberapa temannya yang sudah menikah. Menceritakan semua tentang terjadinya di malam pertama, kini ia sendiri akan merasakan apa yang teman-temannya rasakan.
Rani kembali mendaratkan kecupannya di kening sang suami, merambat berpindah tempat, dari kening turun ke mata, turun ke hidung, lalu mencium kedua pipinya. Dan yang terakhir di benda kenyal milik suaminya. Rani mulai mencumbu, memberi rangsangan yang semakin ke sini semakin liar.
Tak bisa menahan, Amar membalikkan posisi. Matanya bergejolak penuh cinta dan hasrat. Tak menunggu lama lagi, ia mencoba mengarahkan senjatanya.
"Hentikan bila aku menyakitimu," kata Amar.
Rani mengangguk pasrah.
Amar mulai mendorong kepemilikannya, tak semudah yang ia bayangkan. Melakukan dengan orang yang benar-benar virgin membuatnya sedikit kesusahan.
"Ah, Mas ..." Rani menahan sakit.
"Ini belum apa-apa loh," kata Amar. "Tahan, ya?" Amar kembali mendorong pinggulnya.
Rani menjambak rambut suaminya sebagai pegangan, menahan rasa sakit yang amat luar biasa. Amar berhasil menjebol gawang, hingga keluarnya darah segar yang mengalir dari ************ istrinya.
Setelah berhasil, Amar tak langsung menggerakkannya. Ia memberi jeda, merasa kasihan karena melihat wajah sang istri sudah pucat pasi.
"Sayang, kamu okey?"
Rani mengangguk.
Sedikit demi sedikit, Amar menggerakkan bagian bawahnya.
"Tahan, rasa sakit akan berubah nikmat," kata Amar kembali.
__ADS_1
Rani mengalungkan tangan di pundak, seiring berjalannya waktu, ia menikmati permainan suaminya. Benar, apa yang dirasakannya mulai berubah. Ada sensasi yang membuatnya ingin mengeluarkan sesuatu seperti di mana jari jemari suaminya bermain lincah tadi. Tapi yang ini lebih nikmat.
Amar terus lanjut, sampai di mana ia akan mendapatkan di titik pada puncaknya. Pada akhirnya, keduanya mengerang secara bersamaan. Amar berhasil menanamkan benih di rahim istrinya. Perlahan, ia memposisikan tubuh, mencabut kepemilikannya yang masih menancap sempurna.
Lalu, pria itu ambruk tepat di samping istrinya. Menarik Rani ke dalam pelukkannya, mengapit tubuh sang istri dengan kedua tangannya.
"Terima kasih sudah menjaganya dengan baik, aku ingin benih yang kutanamkan akan segera tumbuh."
Rani pun melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, ia tak begitu mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Amar. Wanita yang sudah kehilangan mahkotanya malah terlelap, antara nikmat dan sakit masih terasa di bagian intinya.
Tak mendapatkan response, Amar pun memejamkan matanya. Tak peduli akan hari esok yang akan dihadapinya. Karena sang mama masih belum memberi restu.
***
Percintaan semalam meninggalkan jejak di jenjang leher Rani, gadis itu baru selesai mandi, dan masih menggunakan handuk. Ia bercermin melihat pantulannya di kaca.
"Apa ini? Kok, pada merah sih, apa aku sakit?" Ia sendiri menempelkan punggung tangannya di kening. Tak lama dari situ, ia mendengar seseorang tertawa. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Pria itu baru terbangun dari tidurnya, saking lelapnya ia tak menyadari bahwa sang istri terbangun lebih dulu. Meski susah payah, Rani berhasil membersihkan diri, walau harus berjalan seperti pinguin.
"Lihat!" Rani menunjukkan lehernya pada suaminya.
"Gak apa-apa kok, besok lusa juga itu hilang," jelas Amar.
Rani mengingat akan kejadian pada temannya dulu. Dan ini sama persis seperti temannya. Rani terus mengingat kejadian semalam, suaminya menciumi lehernya bukan? Reflek, ia langsung memukul lengan suaminya pelan.
"Kok, dipukul sih."
"Nyebelin, ini perbuatan kamu, Mas! Bagaimana ini? Aku malu lah!" Rani mengerucutkan bibirnya karena kesal, ia tidak tahu kalau sesepan semalam akan meninggalkan bekas semerah ini.
"Sudah menikah, ya wajar saja tanda beginian," jelas Amar. "Apa mau nambah?" ledeknya kemudian.
Rani semakin kesal, ia menambah pukulan di dada bidang suaminya. Sampai pertengkaran kecil itu membuat Amar dibakar rasa gairah. Rani menelan salivanya ketika suaminya tiba-tiba saja sudah berada di atasnya.
Amar gercep membuat Rani mati kutu. Disaat Amar akan mendaratkan ciuman di bibir ranum istrinya, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar. Semalam ia lupa mengunci pintu.
__ADS_1
Ketika pintu terbuka, seorang wanita berdiri di ambang pintu. Menyaksikan aksi anak dan menantunya, siapa lagi kalau bukan Mirna. Wanita paruh baya itu akhirnya membalikkan badan, dan segera pergi dari sana. Menutup pintu itu kembali.
"Mas ..." Rani dan suaminya pun menyaksikan kepergian Mirna.
Amar langsung beranjak. "Mas mandi dulu kalau begitu." Amar pun segera pergi.
"Mas, aku gak bawa baju ganti loh," kata Rani.
"Tunggu sebentar, Mas ambilkan."
Beberapa saat kemudian, Amar telah kembali. Ia membawakan baju untuk istrinya.
"Baju siapa ini?" tanya Rani.
"Itu baju adikku, aku juga punya adik perempuan. Dia sudah menikah dan tidak tinggal di sini, umurnya tidak jauh darimu," jelas Amar.
Rani hanya manggut-manggut, karena suaminya memang belum banyak cerita tentang dirinya.
"Ya sudah, Mas mandi dulu kalau begitu."
***
Setelah selesai mandi dan berpakain, ia mengajak istrinya untuk turun ke bawah. Mengajak istrinya untuk sarapan, karena ia yakin kalau sang mama sudah berada di sana.
Dan benar saja, wanita paruh baya itu sedang menikmati teh hangat di pagi itu. Kedatangan Amar dan Rani mengalihkan pandangan Mirna, wanita itu melihat ke arah menantunya. Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia hapal betul pakaian yang dipakai gadis itu.
Ketidaksukaannya semakin menjadi, semiskin itu sampai menantunya tidak membawa baju ganti? pikir Mirna. Tapi nasi sudah menjadi bubur, melihat perlakuan Amar pada istrinya yang sangat baik dan sopan membuat Mirna berpikir, anaknya begitu sangat mencintai istrinya itu.
"Pagi, Ma," sapa Amar ketika sudah menarik kursi untuk di duduki sang istri.
"Hmm," jawab singkat Mirna.
"Sayang, kamu mau sarapan apa? Nasi goreng apa roti?" tawar Amar.
Sebelum menjawab, Rani melirik ke arah ibu mertuanya. Ia ragu untuk ikut sarapan bersama. Disaat itu pula, Mirna langsung beranjak. Namun tiba-tiba ada suara wanita yang datang menyapa mereka.
__ADS_1