
Seketika, Arya langsung membalikkan tubuhnya. Ia sudah tidak dapat menyangkal apa yang sudah disudutkan oleh anaknya, karena itu memang benar keadaannya. Ia hanya bisa diam tanpa menjawab. Arya mematikan ponselnya, lalu mendekati Zia.
"Aku gak nyangka Papa bisa ngelakuin itu, apa Papa mau Zidan tidak punya Papa?" Mata Zia menyalak marah, karena ia merasa ini sudah keterlaluan, "perlu aku mengemis pada Papa untuk meminta restu, aku rasa Mas Randy sudah berubah. Dia sudah menyesal dengan sikapnya yang dulu padaku."
"Apa tidak ada laki-laki lain selain dia yang bisa membahagiakanmu? Banyak laki-laki yang baik dan bisa menerima Zidan, Zia."
"Tidak ada yang bisa menggantikan, Papa!" Tiba-tiba saja Zidan datang menghampiri mamanya, "Mama jangan menerima laki-laki lain, aku hanya ingin, Papa." Zidan terisak sambil memeluk tubuh ibunya.
"Tidak sayang, hanya Papa Randy yang akan menjadi Papa Zidan." Zia mengusap lembut kepala anaknya, bahkan ia menggendong Zidan dan membawanya pergi dari hadapan Arya. Sejenak Zia menatap wajah papanya sebelum pergi.
"Hanya Mas Randy yang akan menjadi suamiku, Pa. Tidak ada yang bisa membahagiakan Zidan selain kami bersatu, maafkan aku." Setelah mengatakan itu Zia pun berlalu
***
Sesuai janji, hari ini Randy akan datang menemui anaknya. Tak peduli dengan wajahnya yang terlihat masih lebam bekas pukulan kemarin. Meski pun terlihat lebam, tak menghilangkan ketampananya.
Disaat ia sedang bercermin, gadis kecilnya datang menghampirinya. Gadis kecil itu memeluknya dari belakang, Randy pun menoleh karena ada yang memeluknya. Ia langsung saja menggendong putri kecilnya itu, membawanya ke ruang tamu menemui mamanya.
"Zia, Papa akan menemui Zidan sebentar. Kamu tunggu di rumah sama Oma, ya? Papa janji, akan membawa mereka ke sini. Kita tinggal sama-sama," ujar Randy.
Zia kecil itu menganggukkan kepalanya bahwa setuju akan hal itu. Mungkin akan terasa hangat jika mereka berada di sini bersamanya, sejujurnya ia membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Ia yakin kalau mamanya Zidan orang baik, dia pasti menyayanginya seperti anaknya sendiri, pikir Zia.
Karena anaknya sudah setuju, Randy pun pamit pada sang mama. Mencium pipi kiri dan kanan mamanya sebelum ia pergi, "aku titip Zia ya, Ma. Doakan semuanya lancar."
Emang dari dulu sudah merestuinya, Eva pun mengangguk memberikan doanya pada putranya itu, ia memang berharap dari dulu Zia yang menjadi menantunya.
"Hati-hati, doa Mama menyertaimu."
__ADS_1
***
Jius ... Mobil yang dikendarai Randy melesat membelah jalanan di ibu kota. Siang ini terik matahari terasa begitu menyengat, hari yang begitu cerah secerah hati Randy karena ia merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari papanya Zia. Meski sedikit curiga akan hal itu, karena yang ia tahu papanya Zia tak menyukainya.
Ia juga tidak tahu kalau orang-orang kemarin adalah suruhan Arya. Randy begitu semangat hari ini, karena ia akan meyakinkan papanya Zia bahwa ia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan ia berjanji akan membahagiakan keluarganya nanti.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarainya pun sampai di kediaman Zia. Jalanan lancar membuatnya tak membutuhkan lama, hingga akhirnya ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Zia. Sesampainya di sana, ia langsung membunyikan klakson mobilnya.
Orang yang berada di dalam rumah itu langsung mendengar.
"Papa, Ma. Itu pasti, Papa." Zidan yang sedang bermain langsung beranjak dari tempatnya, ia berlari menuju keluar untuk menemui papanya.
"Papa ...," teriak Zidan sambil merentangkan tangannya. Tentu kedatangan Zidan disambut hangat oleh Randy, pria itu langsung meraih tubuh gembul Zidan. Menggendongnya sambil berputar.
Di atas loteng, Arya tengah melihat kedekatan cucunya itu. Bibirnya mengulas senyum ketika melihat Zidan tertawa lepas. Tawa yang belum pernah ia lihat sebelumnya, meski ada Angga dan pria itu sering membuat cucunya tertawa tapi tak seperti sekarang.
Tak lama dari situ, Angga pun mengetahui kedatangan Randy. Kedua pria yang sempat berseteru itu kembali menghangat ketika Randy menunjukkan rasa sayangnya kepada Zidan.
"Masuk, Ran," ajak Angga.
Randy pun mengangguk, lalu mengikuti Angga yang masuk lebih dulu. Zidan sendiri tak lepas dari gendongannya. Setibanya di dalam, Zia sudah terlihat. Melihat Zidan ada dalam pangkuan Randy langsung menyuruh putranya itu untuk turun.
"Sayang, turun dari pangkuan Papa, nak. Kasihan Papa," kata Zia.
"Tidak apa-apa," elak Randy. Karena ia memang tidak merasa direpotkan justru ia senang akan kedekatan mereka. Itu tandanya, tanda-tanda rujuk sudah di depan mata.
Tak berselang lama, Zifa datang menghampiri. Ia berniat pulang sekalian mengajak suaminya, ia tak ingin suaminya itu kembali rusuh apa lagi dengan kejadian kemarin. Takut Randy curiga dan malah berakibat patal nantinya.
__ADS_1
"Nak, Randy," sapa Zifa.
"Ma." Randy memberi salam kepada mertuanya itu, senyum hangat yang diberikan Zifa padanya membuatnya semakin yakin akan restu dari kedua orang tua Zia. Namun belum 100% yakin akan papa mertuanya.
"Zidan, duduknya di sofa. Kasihan tuh Papanya keberatan," Zifa terkekeh.
"Ah, Nenek. Zidan 'kan kangen sama Papa." Zidan tak mau turun dari pangkuan papanya.
Zifa menyelidik wajah Randy yang terlihat masih lebam, ia benar-benar tak menyangka bahwa suaminya begitu serius akan mencelakai menantunya itu. Tak ada pilihan lain selain ia pura-pura tidak tahu apa yang menimpa Randy kemarin.
"Nak, Randy. Itu mukanya kenapa?" tanya Zifa.
Angga yang baru sadar langsung melihat ke wajah sahabatnya itu, ia memperhatikan secara detail.
"Iya, Ran. Kamu kenapa? Berantem?" Angga sendiri tak percaya kalau pria yang tak pernah berkelahi itu jadi babak belur seperti ini. Jangan-jangan ... Ini ada sangkutannya dengan papa Zia? Pikir Angga.
"Oh, ini. Biasalah, cowok," kata Randy sok dalam keadaan baik-baik saja, padahal itu masih jelas terasa sakit. Apa pun akan ia lakukan demi bertemu Zia juga anaknya.
"Kasian Papa, kemarin ada yang mencoba mencelaki Papa." Zidan pun kembali sedih bahkan ia memeluk papanya.
"Ish ... Laki-laki tidak boleh cengeng, lagian Papa gak apa-apa, kok." Randy menenangkan anaknya sembari melihat ke arah Zia. Wanita itu tersenyum malu-malu.
"Zi, Mama sama Papa pamit ya? Masih banyak urusan," kata Zifa.
Muncullah sosok Arya di sana. Zia sendiri tidak ingin melihat papanya, karena pria itu masih menaruh dendam pada Randy. Zia sendiri tidak menyangka pada papanya, mengapa dendamnya begitu mendarah daging? Padahal, sikap Randy yang memang tidak bisa berbuat adil padanya karena dulu pria itu memang tidak mencintainya, dan itu masih dibilang wajar, pikir Zia.
Tapi sekarang, Randy sudah berubah. Jadi apa alasan Arya sampai sebegitunya? Sampai-sampai sang papa tega berbuat jahat padanya.
__ADS_1
Mau tak mau, Arya pun mendudukkan tubuhnya di sana. Ia ikut bergabung dengan mereka. Randy pun menunjukkan rasa hormatnya pada pria paruh baya itu. Zia nampak harap-harap cemas, apa papanya akan bersikap baik?