Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 60


__ADS_3

Karena mendapat gerbekan, mau tak mau malam ini juga Rani dan Amar akan menikah. Meski tak sesuai dengan harapan apa yang diinginkan gadis itu dipernikahannya. Ia berangan-angan ingin menikah dengan pasangan yang ia cintai, bukan dengan orang asing seperti Amar.


Karena semua sudah berkumpul, Amar dan Rani pun sudah duduk berdampingan. Tak ada persiapan apa pun dari Amar, ia hanya membawa uang satu juta kes dalam dompetnya, dan itu ia jadikan sebagai mas kawin.


"Siapa nama calon pengantin pria?" tanya Pak Halim sebagai penghulu.


"Amar Haidar Syahri, Pak," jawab Amar tegas.


"Sudah siap?" tanya pak Halim lagi.


"Sudah," jawab mantap Amar.


"Saudari, Rani. Apa sudah siap menikah dengannya?" tanya pak Halim.


"Su-sudah, Pak." Siap atau tidak ia memang harus menikah dengan pria itu, demi menyelamatkan nama baik sang ayah ia akan menikah dengan pemuda yang belum lama ia kenal. Bahkan keluarganya saja ia tidak tahu, bagaimana kalau laki-laki itu memiliki kekasih atau istri? Rani jadi takut sendiri akan hal itu, ia takut menjadi orang ketiga di sini.


"Segera dimulai saja, Pak. Ini sudah semakin larut," tutur pak ustadz sebagai saksi pernikahan mereka.


"Silahkan dimulai, Pak Kusno," kata pak Halim.


Kusno mengulurkan tangan ke arah Amar, pria itu pun menjabat tangan calon mertuanya. Hingga kedua tangan itu saling bersentuhan, Kusno menarik napas dalam-dalam lalu berkata


"Saudari Amar Haidar Syahri, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Mahari dengan mas kawin satu juta tuunai." Kusno mengguncangkan tangan Amar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani bin Kusno dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Amar benapas lega.


"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.


"Sah ...," jawab pak Ustadz.

__ADS_1


"Alhamdulilah." Pak penghulu membacakan doa sampai selesai, setelah itu, Rani mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu, Amar pun mencium kening istrinya.


Karena acara pernikahan sudah selesai, pak Halim dan pak Ustadz undur diri dari sana.


"Terima kasih, Pak Halim, Pak Ustadz," kata Kusno di ambang pintu.


"Iya, sama-sama, Pak," jawab serentak Halim dan Ustadz.


***


"Rani, Amar, sebaiknya kalian tidur. Ini sudah jam dua, Ayah juga sudah ngantuk." Setelah mengatakan itu, Kusno langsung saja masuk ke dalam kamar meninggalkan sepasang pengantin yang resmi menjadi suami istri beberapa menit lalu.


Rani jadi bingung sendiri, malam ini ia sudah resmi menjadi istrinya Amar. Dan ia juga harus tidur bersamanya, sedangkan tempat tidur begitu sangat kecil, dan ia harus berbagi tempat. Rani menghela napas sebelum mengajak suaminya masuk ke kamar.


"Ma-Mas ... Ayok, kita tidur." Rani mencoba menerima pernikahan ini meski pernikahan itu bukan keinginannya, tapi ia harus bersikap sopan pada suaminya itu.


Amar mengangguk, Rani lebih dulu masuk dan Amar menyusul kemudian. Pria itu melihat sekeliling kamar, cukup rapi. Tapi tempat tidurnya kecil sekali, apa itu muat? Pikir Amar. Ia melirik ke arah istrinya sekilas, gadis itu terlihat seperti gerogi dan salah tingkah. Tapi ia memakluminya.


Rani langsung melongo, kenapa tidur di mobil? Apa ia merasa jijik tidur di sini? Kalau tidur terpisah, apa kata ayahnya nanti? Bisa-bisa ayahnya menyalahkannya. Rani tidak ingin itu terjadi, meski pernikahan ini terpaksa, tapi mereka sudah sah menjadi suami istri, itu artinya mereka harus tidur bersama, setidaknya tidur dalam satu ruangan.


"Kenap tidak tidur di sini saja? Tempat tidurnya cukup untuk berdua, kok," kata Rani, Walau harus saling berdempetan.


"Tidak apa-apa memangnya?" tanya Amar, ia takut Rani belum siap saja, dan ia tidak ingin memaksakan kehendak.


"Ti-tidak apa-apa, Mas." Rani pun akhirnya merebahkan tubuhnya lebih dulu, seteleh terbaring ia melihat Amar membuka baju. Terkejut ketika melihat itu, sontak ia langsung memejamkan matanya. "Yang benar saja? Apa dia akan meminta haknya sekarang?" Pikiran Rani berkelana sampai ia memikirkan hal yang tidak-tidak. Keningnya sudah berkeringat kala Amar mendaratkan tubuhnya di sampingnya.


"Aduh ... Bagaimana ini?" Rani semakin tak karuan. "Ah, lebih baik aku pura-pura tidur saja."


Beberapa menit kemudian

__ADS_1


"Rani?" panggil Amar.


Tidak ada sahutan, Amar pun beranjak hendak melihat gadis itu.


"Sudah tidur ternyata." Tanpa aba-aba, Amar mencium kening istrinya. "Selamat tidur istriku," ucap Amar. Dan ia pun akhirnya memilih tidur dan tak mengganggu istrinya.


"Syukurlah tidak terjadi apa-apa." Rani takut suaminya itu mencium bibirnya, karena ia belum pernah ciuman, jangankan untuk itu, pacaran saja ia belum pernah.


Hingga keduanya terlelap bersama. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.35 dini hari, jadi waktu begitu cepat bergeser pada jam 5. Rani terbiasa bangun pada jam segitu, karena tidur baru terlelap, ia sampai tak mendengar suara ponsel yang sudah di setting pada pukul 5.


Rani dan Amar kesiangan, mereka terbangun ketika mentari sudah menerobos masuk lewat celah jendela. Bahkan Kusno pun sudah pergi bekerja pagi itu, mulai sekarang ia akan merubah sikap dan tak akan mabuk-mabukkan lagi. Terlebih lagi ia sudah memiliki menantu.


Ketika Rani terbangun, ia sangat terkejut ketika mendapati dirinya yang tertidur dalam keadaan memeluk suaminya, kepala bersandar di dada bidang Amar. Pria itu tertidur dalam keadaan tidak memakai baju, aroma dari tubuh pria itu sangat menyeruak di penciuman Rani. Wangi mascoolin begitu memabukkan, sejujurnya ia sangat menyukai aroma itu.


Hampir saja ia mengendus dan memperdalam penciumannya, tapi ia keburu tersadar. Disaat Rani ingin beranjak dari tempatnya, Amar menahan kepergian gadis itu. Suaminya malah mempererat pelukkan hingga Rani tak bisa berkutik.


"Duh ... Bagaimana ini, bisa kesiangan kalau begini caranya."


"Mas, bangun. Ini sudah pagi, kamu gak kerja?" tanya Rani. Ia tahu kalau suaminya itu pasti sudah bangun, buktinya, ia tahu kalau suaminya langsung menahan kepergiannya dengan cara memeluknya.


"Tidak, inikan hari bahagia kita. Kita harus merayakannya." Jawab Amar dalam keadaan mata masih terpejam.


"Tidak bisa, Mas. Aku harus kerja, hutangku padamu begitu banyak, aku takut tidak bisa membayarnya kalau tidak bekerja. Aku tidak mau dipecat," cerocos Rani.


Amar tidak menyangka kalau istrinya itu masih kepikiran akan hutangnya, padahal ia sudah menjadi istrinya mana mungkin ia menagih hutang istrinya sendiri.


"Hutangmu akan lunas jika kamu mau-."


"Mau apa?" pungkas Rani, "jangan macam-macam! Aku belum siap." Rani tahu apa maksud ucapan suaminya itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rani, Amar langsung membuka mata. Lalu merubahkan posisi menjadi di atas tubuh istrinya, ia mengungkung tubuh Rani, hingga tatapan keduanya saling beradu dan terkunci.


"Please ... Jangan lakukan itu, aku belum siap!" Rani ketakutan.


__ADS_2