
Satu hari sudah mereka berada di Jakarta. Hari ini, Amar berniat untuk menemui Zia dan Randy. Sudah beberapa hari, mereka tak bertemu. Amar akan menyampaikan berita bahagianya bersama Rani.
"Sayang, Mas mau ke rumah Zia. Apa kamu mau ikut?" ajak Amar.
Rani nampak berpikir sebelum mengiyakan, tapi bagaimana?
"Jangan kebanyakan mikir, kamu ikut saja. Sekalian kita cari cincin pernikahan kita."
"Hmm, baiklah." Akhirnya, Rani pun ikut, "aku bilang sama Ayah dulu kalau begitu."
Mereka berdua pun akhirnya pamit.
"Yah, aku sama Mas Amar akan pergi sebentar. Gak apa-apakan kami tinggal?" kata Rani.
"Kalau memang ada urusan, pergilah. Ayah juga ada urusan." Kusno mengizinkan anak dan mantunya itu pergi.
***
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rani ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah Zia.
"Apa?" jawab Amar sambil menyetir kendaraannya.
"Apa perasaanmu sudah benar-benar hilang sama Mbak Zia?" Rani harap-harap cemas menunggu jawaban suaminya. Ia takut kalau dirinya hanya menjadi pelampiasan.
Amar langsung tergelak mendengar pertanyaan istrinya itu, "kamu gak percaya kalau Mas sudah tidak lagi mencintainya?"
"Bukan begitu, Mas. Aku merasa ini terlalu cepat. Cepat sekali kamu berpaling."
"Itu memang harus, ngapain juga memendam rasa sama pasangan orang lain. Mas sudah bertekad melupankannya, beruntung Mas bertemu denganmu. Kehadiranmu membantu Mas melupakannya."
Rani hanya manggut-manggut.
"Sudah ah, jangan bahas itu lagi. Kita saling percaya ya?"
"Hmm, aku percaya sama kamu, Mas."
Tak lama, mereka pun akhirnya sampai di kediaman Zia. Karena hari ini hari weekand, Randy dan Zia berada di rumah. Mereka sedang berada di taman, menemani anak-anak mereka sedang bermain.
Amar dan Rani turun dari mobil. Zia dan Randy pun menoleh. Mereka memang tahu akan kedatangan Amar karena pria itu mengabari si pemilik rumah bahwa ia akan datang. Zia sendiri tidak menyangka kalau Amar datang bersama gadis itu.
Nampak jelas di pandangan mereka kalau Amar tengah menggandeng gadis yang ada di sampingnya itu. Zia dan Randy semakin dibuat penasaran.
"Hay, apa kabar?" sapa Amar setibanya di hadapan Zia dan Randy.
"Baik, kami sangat baik," jawab Randy. Lalu, Randy menaik turunkan kedua alisnya. Seolah meminta penjelasan, tapi sebelumnya, ia mengajak tamu untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Zidan, Zia. Papa sama Mama masuk dulu, kalian baik-baik main-nya ya?" pesan Randy kepada kedua putra dan putrinya.
Zidan dan Zia mengangguk.
"Hai, Zidan," sapa Amar.
"Hai juga, Om." Zidan tersenyum ke arah Amar.
Setelah menyapa Zidan, mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
***
"Sepertinya ada kabar baik, ya?" duga Randy.
"Iya, kedatangan kami kemari ingin memberitahukan kalau kabar bahagia," terang Amar, "kami sudah menikah beberapa hari lalu, resepsi akan dilaksanakan di Bandung. Kalian datang ya?"
Zia dan Randy saling pandang. Sepintas, mereka tak percaya akan kabar itu. Tapi jika dilihat dari pasangan itu, mereka nampak begitu bahagia. Apa lagi, Amar tak melepaskan genggamannya di tangan Rani.
Namun demikian, Zia dan Randy senang dengan kabar yang dibawa oleh Amar.
"Kapan resepsi itu dilaksanakan?" tanya Randy.
"Dua minggu lagi, nanti kalian datang ya? Kalian tamu kehormatan bagi kami, iyakan sayang?" kata Amar pada Rani.
Rani hanya tersenyum menimpali ucapan suaminya.
Amar hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sendiri menyadari akan perbedaan umur yang terpaut jauh. Namun demikan, Rani tak mempermasalahkan itu. Justru ia lebih bangga mendapatkan suami seperti Amar, sudah baik, tampan. Dia jiga tak memandang siapa yang menjadi pasangannya.
Hingga pada akhirnya, mereka berempat begitu asyik berbincang. Zia sampai lupa tak menyuguhkan minuman.
"Mas, aku ke dapur dulu. Lupa kalau tamu kita tidak suguhkan minuman." Zia beranjak dari tempatnya, tapi Rani memanggilnya.
"Mbak, aku bantu," kata Rani.
"Hmm, boleh. Ayok."
Kebetulan, asisten di rumah Zia sedang pergi ke pasar. Jadi, Zia sendiri yang harus turun tangan.
Sementara Randy dan Amar, mereka asyik membicarakan pernikahan Amar. Sampai Randy meledek pengantin baru itu.
"Bagaimana dengan malam pertamamu? Gimana rasanya daun muda, hmm." Randy menyenggol bahu Amar.
"Ya, gitu deh. Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Jawab Amar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tak lama kemudian, para istri sudah kembali. Membawa minuman serta cemilan yang akan disantap bersama-sama.
__ADS_1
"Ngobrol apa sih, sampai asyik begitu?" tanya Zia, wanita itu meletakkan nampan di atas meja. Dan disusul dengan cemilan yang dibawa oleh Rani.
Mereka kembali berbincang. Lalu, Zidan dan Zia datang ikut bergabung. Kedua anaknya itu bergelayut manja di pangkuan Zia. Si kecil Zia pun sudah tak sungkan, ia menganggap ibu sambungnya seperti ibu kandungnya sendiri.
Keluarga yang sangat harmonis, Rani yang melihat kedekatan mereka sampai tak percaya. Zia benar-benar menyayangi kedua anaknya tanpa membeda-bedakan.
"Cepet nyusul ya, Ran. Seneng kalau sudah punya anak," kata Zia.
"Iya, Mbak. Mas Amar memang ingin cepat-cepat punya momongan," jawab Rani.
"Kalian tenang saja, sebentar lagi istriku hamil. Aku tak memberi jeda disetiap malamnya." Perkataan absurd itu membuat Rani melototinya, bisa-bisanya suaminya itu menceritakannya kepada orang lain. Itu kan membuatnya malu.
"Mas," protes Rani.
"Kan emang bener, Mas mau kamu cepet hamil. Lihat deh, mereka lucu-lucu 'kan?" Amar menunjuk ke arah Zidan dan Zia.
"Zidan, Zia. Apa kalian mau punya adik lagi?" tanya Amar pada kedua bocah itu.
"Mau, Om. Zidan mau punya adik laki-laki," terang Zidan.
Sementara Zia, ia hanya tersenyum sebagai mewakili perasaannya.
"Kapan kalian nambah?" tanya Amar.
Randy hanya tersenyum, ngenes, kalau ia memang belum mendapatkan jatah dari istrinya. Dengan setia menunggu selesainya mentruasi yang dialami oleh istrinya, dan semoga saja malam ini ia mendapatkan haknya kembali.
Karena sudah terlalu lama akan keberadaannya di rumah Zia, Amar dan Rani pun pamit. Karena mereka masih ada urusan, Amar akan mengajak istrinya untuk membeli cincin serta kebutuhan untuk istrinya itu.
"Randy, aku sama istriku pamit kalau begitu," kata Amar.
"Loh, kenapa buru-buru?" tanya Zia.
"Ada urusan," jawab Amar.
Pada akhirnya, Amar dan Rani pun pamit. Si pemilik rumah mengantar mereka sampai depan rumah. Zia dan Randy melambaikan tangannya ke arah mobil yang sudah mulai melaju. Setelah itu, Randy dan Zia kembali masuk.
Randy meraih pinggang istrinya sambil berbisik.
"Sudah selesaikan? Malam ini sudah mulai bisa 'kan?"
Zia menoleh sambil mengangguk.
"Yes, yes ..." Randy tersenyum bahagia.
...----------------...
__ADS_1
Mampir yuk di karya teman othor, ceritanya tak kalah menarik. Yok, merapat di sini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya.