Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 41


__ADS_3

Sayang seribu sayang, yang datang ternyata bukan Randy. Melainkan, Amar. Randy keduluan oleh pria itu, langkah Randy terhenti kala ia melihat Zia tersenyum pada pria itu. Karena Zia mengira kejutan ini dibuat oleh Amar.


Sepertinya, Amar lebih beruntung dari pada Randy. Zia memang tahu akan kedatangannya, tapi ia tak mengira bahwa Amar akan memberikan kejutan padanya. Yang tak kalah mengejutkan bagi Randy, ternyata lelaki yang pernah bertemu dengannya sewaktu di Bandara dulu, dan saling menceritakan hidup masing-masing ternyata pria itu menceritakan wanita yang sama.


Dan sepertinya doa Randy terkabul, Zia sepertinya senang akan kedatangan pria itu. Randy patah hati malam itu juga, rancananya gagal total. Ia juga melihat, pria itu tengah memberikan bunga pada Zia. Zia menerima perjodohan itu demi membahagiakan orang tuanya.


Tak kuasa melihat pemandangan itu, Randy hendak meninggalkan tempat itu. Tapi sepertinya Amar melihatnya, dan mengenalinya.


"Randy, apa kamu, Randy?" ucap Amar. Meski kurang jelas tapi ia yakin kalau itu Randy, pria yang pernah bertemu dengannya tempo hari.


Karena sudah ketahuan, Randy pun membalikkan tubuhnya menghadap Zia dan Amar. Ia tersenyum miris kepada mereka. Akhirnya, Zia tahu siapa yang menyiapkan ini. Karena tidak mungkin kalau Amar yang melakukannya dalam waktu singkat. Sudah jelas sejak tadi ia berchat ria dengannya beberapa jam lalu.


Randy pun akhirnya mendekat, ia melihat ke arah Zia. Wanita itu sangat terlihat cantik dari biasanya, apa ia berdandan karena menyambut pria itu? Pria yang telah dijodohkan dengan Zia. Ia ingat betul cerita Amar tempo lalu padanya, bahkan ia sempat mendoakan Amar dengan perjodohan itu. Ucap adalah doa, Randy mendoakan wanitanya berjodoh dengan pria lain.


Apa ia harus pasrah dengan ini? Apa ia harus merelakan Zia bersanding dengan Amar? Batin Randy menjerit, terlebih lagi mendapat penolakan dari Zia. Ternyata ini alasan Zia menolaknya? Karena ia menerima perjodohan yang direncanakan orang tuanya.


"Wah ... Dunia sempit ya? Apa Zia yang kita maksud adalah orang yang sama?" tanya Amar. Amar sendiri tidak mempermasalahkan perasaan Randy pada Zia, karena semua orang berhak memiliki perasaan. Yang penting, Zia tak membalas perasaan itu.


Amar sudah tahu bagaimana Zia, selama ini mereka cukup dekat meski belum memiliki hubungan spesial. Karena ia memberi waktu pada Zia untuk menerima kehadirannya. Ia juga tidak memaksa Zia untuk membalas cintanya.


Yang ingin ia lakukan sekarang adalah, menyembuhkan luka yang pernah tertoreh di hati Zia karena pernah tersakiti oleh seorang pria. Mengarapkan balasan itu pasti, tapi itu semua ia serahkan pada Zia. Karena sejatinya, cinta yang tulus tak mengharapkan balasan.

__ADS_1


Zia sendiri menjadi bingung, apa yang harus ia lakukan? Pura-pura tidak tahu dengan kejutan yang diberikan Randy, apa pura-pura menyanjung Amar dengan kesalahpahaman ini? Di sini, ia akan menguji kejujuran Amar. Apa ia akan menggunakan kesempatan yang ada dengan adanya kejutan ini.


"Terima kasih atas kejutannya," kata Zia.


Amar mengerutkan keningnya karena bingung, karena ia merasa tak membuat kejutan apa-apa untuk Zia. Ia hanya membawa seikat bunga untuk diberikan pada calon tunangannya itu. Lalu, Amar menoleh pada Randy. Mungkin pria ini yang sudah membuat kejutan ini, sepertinya ia mempunyai saingan untuk mendapatkan hati Zia.


"Aku merasa tidak melakukan apa-apa, aku datang dengan tujuan ingin bertemu saja. Apa kamu mengira aku yang mengadakan acara ini?" Amar melihat dekoran ala-ala anak muda, ia mengangkat kedua alisnya. Secara tidak langsung ia mengakui bahwa Randy memang sangat berharap Zia kembali padanya. Namun, seperti yang ia bilang, ia tak akan memaksa seseorang untuk mencintainya.


Pada akhirnya, Amar mengajak Randy untuk bergabung. Dan mereka pun menikmati acara malam itu bertiga. Sementara Zia merasa tidak nyaman dengan ini, ingin rasanya ia pergi dari sini. Berada dikedua lelaki ini membuatnya canggung. Tapi ia tak bisa meninggalkan Amar begitu saja, pria itu datang jauh-jauh hanya ingin menemuinya. Apa lagi ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, tak ingin membuat malu mereka dengan sikapnya.


Ia hanya mengikuti alur hidupnya, entah siapa yang akan menjadi jodohnya karena keduanya pun tak bisa dibandingkan. Zia jadi pusing sendiri dengan ini. Rasanya ingin menenggelamkan diri dan pergi jauh dari kedua lelaki itu. Ia hanya bisa melirik keduanya secara bergantian. Pada akhirnya jam terus berputar.


Sedikit pun ia tak melihat persaingan di antara mereka, karena Amar memang terlihat baik selama ini. Ia orangnya mudah berbaur, apa lagi mereka memang sudah saling mengenal sebelumnya.


"Amar, kamu menginap di hotel 'kan?" tanya Zia.


"Iya, aku menginap di hotel sebelah villa ini. Apa kamu sudah mengantuk?" duga Amar.


"Hmm," jawab Zia singkat.


"Tidurlah, kasian Zidan," timpal Randy.

__ADS_1


Padahal, hatinya merasa terbakar kala melihat mereka berbincang. Lebih baik Zia bersama Zidan dari pada di sini, itu hanya akan menjadikannya obat nyamuk. Karena sedari tadi Zia hanya mengobrol dengan Amar, meski Amar melibatkannya dalam obrolannya.


"Besok kita pergi, aku jemput kamu sama Zidan," kata Amar. "Aku ingin lebih dekat dengan Zidan," sambungnya lagi.


Zia hanya menanggapi dengan sebuah anggukkan dan senyuman.


Melihat Zia tersenyum pada Amar, Randy semakin terbakar. Ia tak dapat menahan rasa cemburunya. Karena Zia pergi, ia pun akhirnya ikut pamit pada Amar.


Sementara Amar, ia bersikap santai saja. Menikamati hidupnya, dan tak ingin memikirkan sesuatu yang mungkin akan merasa sesak sendiri. Ini yang membuat daya tarik bagi Zia, selama berada di dekatnya, Zia selalu dibuat nyaman tanpa adanya sebuah paksaan.


***


Zia merebahkan tubuhnya setibanya di kamar. Hatinya dirundu kebimbangan, ia terlanjur menerima perjodohan. Kedatangan Randy pun tak kalah membuatnya bingung, karena Zidan begitu berharap ia dapat bersama dengan kedua orang tuanya.


Zia melamun dalam pikirannya. Tiba-tiba lamunannya buyar ketika ponselnya berbunyi, ada notif masuk ke dalam ponselnya. Ia pun membuka pesan itu.


"Selamat tidur dan beristirahat." pesan singkat dari Randy. Karena ia tahu sikap Randy yang memang tidak romantis, tapi ia sendiri suka dengan perubahan yang ditunjukkan Randy padanya. Ia pun mengulas senyum di bibirnya.


Lalu, ponselnya kembali berbunyi.


"Jangan banyak pikiran, hidup dibawa enjoy saja." Pesan Amar padanya.

__ADS_1


Kedua lelaki itu memiliki sikap yang jauh berbeda. Amar begitu baik dan mengerti dirinya, bahkan ia tak marah ketika tahu Randy berada di sini bersamanya. Tapi sayang, persaannya padan Amar tidak dapat muncul walau hanya secuil, ia hanya merasa nyaman ketika bersamanya.


Zia tak membalas pesan dari keduanya, ia memilih untuk tidur menyusul mimpi putranya.


__ADS_2