Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 70


__ADS_3

Karena sudah mendapat restu, Amar pun pamit untuk menemui istrinya di kamar. Dilihatnya, sang istri tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rani tengah menatap langit-langit, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Sampai-sampai, Rani tidak menyadari kalau suaminya sudah berada di kamar.


Amar berniat mengerjai istrinya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Rani ketika dirinya tahu akan dipoligami. Amar mendekat ke arah istrinya, duduk di tepi ranjang. Rani sendiri langsung beranjak, ia terkejut akan kedatangan suaminya yang menurutnya secara tiba-tiba.


"Mas."


Amar memperlihatkan wajah sedihnya.


"Bagaimana, Mas? Apa kata Mama? Keputusannya gimana? Perjodohan itu batalkan?" cecar Rani.


Kenapa suaminya malah diam? Sedangkan ia tak sabar ingin mendengar jawaban. Rani mengguncang tubuh suaminya.


"Mas ... Jawab aku! Mama membatalkan perjodohan itu 'kan?"


"Maafkan, Mas." Amar tak berdaya.


"Apa maksudmu?"


"Perjodohan tetap lanjut, maafkan aku," lirih Amar.


Mata Rani sudah menggenang, ia tak kuasa dengan berita yang membuat hatinya hancur. Sungguh, ia tak ingin dimadu.


"Aku tidak mau dimadu, Mas. Kamu pilih dia atau aku?" desak Rani. "Aku butuh jawaban sekarang!"


Amar sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, ia masih ingat betul ketika raut wajah istrinya yang tidak ingin menikah dengannya. Tapi sekarang, Rani memperlihatkan rasa cintanya padanya. Tak bisa lagi membohongi sang istri, ia langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya.


"Kamu tetap akan menjadi istriku satu-satunya. Tidak ada yang bisa menggantikanmu."


"Lalu perjodohan itu?" tanya Rani yang masih ada dalam pelukkan suaminya.


"Tidak ada perjodohan, Mama sudah merestui kita," kata Amar.


Rani melepaskan diri dari pelukan suaminya, ia menatap wajah suaminya. Mencari kebenaran akan ucapan yang telah dilontarkan oleh Amar.


"Kamu gak bohong!"

__ADS_1


"Untuk apa aku bohong? Semuanya benar."


Rani masih tak percaya akan hal itu, jelas-jelas wanita yang akan dijodohkan dengan suaminya datang menemuinya.


"Jangan membohongiku, aku tidak suka dibohongi." Rani langsung membelakangi suaminya, melipat tangan di dada sambil bibir cemberut.


Amar memeluknya dari belakang, tapi dengan cepat Rani menepisnya. Karena ia merasa suaminya telah mempermainkannya.


"Kok ngambek sih? Aku serius, Mama sudah merestui kita. Kalau gak percaya, ayok kita temui Mama," ajak Amar. Pria itu langsung saja menarik tangan istrinya, berniat mengajaknya menemui sang mama.


Tapi Rani menahannya, ia tak mau bertemu dengan ibu mertuanya. Ia takut kalau ia hanya akan dimarahi. Nyali Rani menciut seperti kerupuk yang tersiram air. Bukan karena apa-apa, hanya saja ia belum pernah dimarahi oleh siapa pun, apa lagi oleh seorang ibu.


"Percayalah, Mama sudah merestui kita." Amar jadi menyesal, niatnya ingin ngprank sang istri. Tapi malah marah beneran. Alamat tidak dapat jatah malam ini kalau istrinya marah.


"Gak lucu, Mas. Kamu prank aku? Gak ada jatah malam ini, malam ini kamu tidur di sofa!"


"Lah, lah ... Kok gitu sih? Gak bisa gitu dong, kasian kalau gak dapat jatah."


"Biarin, salah siapa prank aku."


Amar bagai terkena senjata makan tuan. Tadinya ingin mengerjai sang istri, tapi malah ia yang kena imbasnya.


Tak berselang lama, Amar pun menyusul istrinya ke tempat tidur. Ia mencoba merayu istrinya, pokoknya malam ini ia harus dapat jatah. Mengingat umur sudah cukup matang, tentu ia menginginkan kehadiran seorang anak di rumah tangganya. Ia harus lebih ekstra dimalam-malam panasnya bersama istri tercinta.


Pada akhirnya, Rani dan Amar saling berbagi canda tawa. Amar berhasil membujuk istrinya untuk mendapatkan jatah malam ini. Canda tawa mereka terdengar di pendengaran Mirna. Karena pintu tidak tertutup dengan sempurna, jadi wanita itu mendengar jelas apa saja yang sedang mereka bicarakan.


Tanpa sepengetahuan anak dan menantunya, Mirna segera menghubungi pihak WO. Ia ingin menggelar acara resepsi pernikahan anaknya secara besar-besaran. Ia ingin semua orang tahu bahwa anak lelakinya sudah menikah, dan tidak menyandang bujangan lagi.


***


Sesuai keinginan Mirna, ia meminta anak dan menantunya menemuinya.


Dan kini, Amar dan Rani sudah berada di ruang keluarga. Lira dan sang suami pun sudah ikut serta. Rani nampak menunduk, meski sudah mendapatkan restu, tapi baginya belum afdol jika tidak mendengar langsung dari mama mertuanya.


Kini Mirna menatap ke arah Rani, tapi menantunya itu sepertinya takut akan dirinya.

__ADS_1


"Rani?" panggil Mirna.


Seketika, Rani langsung terarah pada mama mertuanya.


"I-iya, Ma," jawab Rani dengan terbata.


"Kamu kenapa? Takut sama saya?" tanya Mirna kemudian.


Rani mengangguk lalu dengan cepat pula ia menggelengkan kepalanya. Rani jadi salah tingkah dibuatnya. Amar yang mengetahui kondisi istrinya, ia langsung menggenggam tangannya. Memberi kekuatan pada istrinya itu.


"Jadi istri yang bertanggung jawab jika kamu mau menjadi menantu di keluarga ini, urus suamimu dengan baik. Jangan memberi kesempatan sedikit pun pada wanita lain, kamu ngertikan maksud saya?" Dibalik ketegasan Mirna ada kelembutan di dalam sana. Ia mendidik putra putrinya seorang diri. Hingga kedua anaknya menjadi orang hebat seperti sekarang.


"Ma, jangan begini. Rani belum terbiasa, jangan buat istriku takut," protes Amar dengan sikap mamanya yang menurutnya terlalu keras.


"Ini juga untuk kebaikanmu, Mama ingin dia menjadi istri yang bertanggung jawab. Kuatkan mental dari sekarang, pernikahanmu itu baru beberapa hari. Masih manis-manisnya, kalian tidak tahu dari mana masalah muncul di keluarga kalian nanti," jelas Mirna.


"Lalu, Mama menyuruh kami berkumpul di sini untuk apa?" tanya Lira.


"Mama sudah menghubungi WO untuk mengurus resepsi pernikahan Kakakmu. Mungkin sudah hampir 50%," terang Mirna.


Amar sampai tidak percaya mendengarnya, kapan mamanya melakukan itu?


"Mama serius?" tanya Amar.


"Sejak kapan mama tidak pernah serius?" Jika uang sudah berbicara, yang tidak mungkin pun bisa jadi mungkin. Bahkan udangan sudah dalam pencetakan. Berhubung hari ulang tahun Amar tinggal 2 minggu lagi, makan resepsi pun menunggu hari kelahiran anaknya.


"Mama memang yang terbaik, kita semua sayang, Mama." Lira memeluk sang mama dengan penuh kasih sayang. "I love you, Ma."


Keluarga itu menjadi haru biru, Amar masih tidak percaya dengan semua ini.


"Sayang, ini gak mimpi 'kan?" tanya Amar.


Rani mencubit paha suaminya, sampai pria itu mengaduh. Pada akhirnya, semua orang menertawakan Amar.


...----------------...

__ADS_1


Selagi nunggu ini up, othor ada rekomedasi novel yang bagus untuk para reader. Silahkan mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak untuk novel othor ya.



__ADS_2