Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 36


__ADS_3

Rombongan taman kanak-kanak sudah sampai di puncak. Zia yang baru saja turun dari mobilnya langsung menghirup udara segar di sana. Tiba-tiba, ada seorang anak kecil datang menghampirinya. Seorang anak perempuan menarik ujung bajunya, sontak membuat Zia menoleh. Dan ternyata Zia yang menemuinya, gadis kecil itu memberikan sebuah botol berisikan air mineral.


Zia tersenyum pada anak kecil itu sambil mengacak gemas rambutnya. Lalu, Zidan datang menghampiri.


"Ma, aku ngantuk," keluh Zidan.


Zia pun menggendong anaknya itu, dan mengajak Zidan pergi ke penginapan. Pihak sekolah menyewa sebuah villa, tempat itu masih sangat asri. Disaat Zia menggendong Zidan, Zia kecil terus memperhatikan, mungkin jika mamanya hidup pasti akan seperti itu.


Setelah kepergian Zia, Eva datang menghampiri cucunya. Ia mengajaknya untuk istirahat terlebih dulu, semua murid pun ikut beristirahat di sana. Mereka berancana satu minggu berada di puncak, mengenalkan alam pada anak-anak.


Pas sudah di kamar, Zia kecil merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tiba-tiba tubuhnya panas, ini yang disebabkan Randy tidak menyetujui anaknya ikut acara itu ke puncak. Udara dingin di sana membuat Zia sedikit menggigil. Eva menyentuh kening cucunya.


"Duh ... Kok, panas." Eva sedikit khawatir akan hal itu, ia meraih tas yang dibawanya. Ia mencari obat di sana, obat-obatan yang memang sudah ia siapkan. Tapi sepertinya obat itu tidak ada, karena panik ia langsung ke luar mencari bantun.


Kebetulan ada Zia di luar, ia meminta pertolongan padanya. Zia pun melihat.


"Mama, ada apa?" tanya Zia.


"Zi, tolong, Mama. Tubuh Zia tiba-tiba panas, apa kamu ada obat penurun panas?" tanya Eva.


"Ada, Ma. Sebentar aku ambilkan." Zia kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil kotak p3k, setelahnya ia berikan pada Eva. Zia pun ikut masuk ke dalam kamar yang di tempati mereka. Dilihatnya, anak itu tengah meringkuk. Zia pun ikut membantu memberikan obat untuknya.


"Sayang, minum dulu ya obatnya," kata Eva.


"Sini, Ma. Biar aku yang berikan." Zia meraih obat yang ada di tangan Eva, dengan cekatan ia memberikan obat tersebut.

__ADS_1


"Zia istirahat, jangan keluar kamar dulu," kata Zia. Anak itu mengangguk patuh, lalu kembali merebahkan tubuhnya di sana.


"Zi, terima kasih," ujar Eva.


"Mama tidak perlu sungkan, kalau butuh sesuatu bisa panggil aku."


"Andai Camelia masih ada, mungkin Zia ke sini pasti ditemani sama Mamanya."


Zia mengerutkan alisnya karena bingung mendengar perkataan wanita paruh baya itu.


"Maksud Mama apa?" Zia jadi penasaran.


"Camelia sakit, bahkan Zia terpaksa dilahirkan dalam keadaan prematur. Setelah melahirkan, Camelia meninggal," jelas Eva.


Zia sampai terkejut mendengarnya, ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada keluarga mantan suaminya itu.


***


Sementara Randy, pria itu sudah kembali dari luar kota. Setelah 2 hari berada di perusahaan cabang membuat perusahaan itu kembali normal. Dalam perjalanan, ia teringat akan anaknya. Karena tak sempat membeli oleh-oleh ia putuskan mampir di pusat perbelanjaan.


Setibanya di sana, sepintas ia seperti melihat seseorang yang ia kenal. Karena penasaran ia pun mengikuti orang itu, betapa terkejutnya ia ketika melihat orang itu. Apa lagi ketika melihat seorang wanita tengah mengandung. Randy semakin bingung.


"Mas, ini kayaknya cocok untuk anak kita," ujar wanita hamil itu pada suaminya.


"Iya, itu bagus. Ambil saja. Papa gak sabar melihatmu lahir." Pria itu mengusap lembut perut istrinya yang buncit.

__ADS_1


Randy terus memperhatikan mereka sampai di mana, ia mengenali wanita tersebut. Ia baru teringat. "Bukankah itu Mila, gadis yang ikut bekerja dengan Zia dulu?" tanyanya pada diri sendiri.


Randy tak habis pikir dengan pemikiran mantan istrinya itu, untuk apa bercerai dengannya kalau ujung-ujungnya dimadu juga, pikir Randy. Hingga kesalahpahaman itu semakin melebar.


Tak ingin ketahuan, Randy putuskan untuk mencari apa yang akan dibelinya di sana. Ia mencari sebuah boneka yang mungkin disukai anaknya. Setelah didapatkannya, ia pun segera pulang karena merasa sudah rindu pada anaknya.


Di perjalanan pulang, ia malah kepikiran tentang Zia. Ia begitu kecewa, jadi ini alasan Zia meminta cerai padanya hanya untuk menikah dengan Angga, bahkan status hubungannya tak jauh dari rumah tangganya. Kesal, ia hanya bisa mengumpat pada diri sendiri karena ia sedang berada di dalam taxi.


"Kalau hanya untuk dimadu lagi kenapa minta berpisah dariku!" Randy sedikit emosi di sana. Ia mempercepat laju mobilnya, ia ingin segera sampai di rumah. Dan akhirnya ia pun sampai.


Angga memanggil nama putrinya.


"Zia, Papa sudah pulang. Kamu di mana?" sahut Randy, ia tak sabar ingin bertemu dan memberikan boneka yang ia bawa. Tak ada sahutan dari siapa pun, ia kembali memanggil.


"Ma, Mama ... Aku sudah pulang nih, Ma. Kalian ada di mana?" Randy terus memanggil penghuni rumah itu.


Lalu, ada yang datang menghampirinya. Bukan Zia atau pun Mamanya, tapi asistent di sana yang menghampirinya.


"Tuan, Nyonya sama Neng Zia tidak ada di rumah. Mereka pergi ke puncak," jelas asistent itu.


Randy terlihat marah, di sana. Anak dan mamanya tidak menuruti apa yang diinginkannya.


"Berapa lama mereka di sana, Bi?" tanya Randy.


"Kalau gak salah, seminggu," jawab si bibi.

__ADS_1


Kekesalan Randy menjadi dua kali lipat, tak lama ia pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, meski pun lelah ia akan menyusul Zia ke puncak. Udara dingin di sana membuatnya sedikit khawatir, takut terjadi sesuatu pada anaknya itu.


Seusai mandi dan berpakaian, Randy meraih kunci mobilnya dan segera pergi ke puncak. Semoga kekhawatirannya terhadap Zia tidak terjadi. Kondisi tubuh Zia tidak seperti anak yang lainnya, anaknya itu gampang terserang penyakit. Buru-buru ia segera berangkat.


__ADS_2