
Kini Rani dan Amar sudah siap, mereka sedang menunggu Kusno. Duduk berdua di lantai beralas dengan tikar. Tanpa permisi, Amar langsung mendaratkan kepalanya rebahan di paha istrinya. Mulai terbiasa akan kedekatan yang dilakukan suaminya, Rani mengelus rambut Amar meski masih kaku.
Amar tersenyum manis melihat wajah sang istri yang sama tengah menatap dirinya. Kejadian di kamar tadi membuat Amar tak gentar lebih mendekatkan diri. Rani miliknya, ia berhak atas apa semua yang ingin dilakukannya. Selagi menunggu kedatangan Kusno, Amar terus memainkan rambut istrinya.
Beberapa menit kemudian, Kusno datang. Rani langsung membangunkan suaminya, ia merasa sangat malu karena sudah terciduk dengan posisi Amar yang hendak mendekatkan wajahnya ke arahnya.
"Ayah, Mas." Kata Rani sambil menarik diri dan membetulkan posisi duduknya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Kusno, ia melihat anak dan menantunya sudah terlihat rapi. Terlebih lagi melihat Rani yang menggunakan baju mendiang istrinya. Mata Kusno langsung berkaca-kaca, anak gadisnya sama persis dengan istrinya dulu.
"Ayah." Rani beranjak berdiri menghampiri sang ayah. Ia mengusap air mata yang sudah terjatuh mengenai pipi ayahnya. "Maaf, Rani terpaksa memakai baju ini. Rani dan Mas Amar akan pergi ke Bandung malam ini juga," jelas Rani.
"Mendadak sekali." Jawab Kusno sembari mengusap sudut matanya. Ia tak mengkhiraukan penjelasan anaknya yang memakai baju istrinya, ia suka hanya saja kenangan masa lalu terlintas jelas saat bersama sang istri tercinta. Baju yang dikenakan Rani adalah hadiah ulang tahun yang ia berikan. Sampai sekarang, baju itu masih terjaga meski modelnya sudah kuno.
"Iya, Yah. Mama menyuruhku pulang, dan aku akan mengajak Rani untuk kukenalkan kepada mereka," timpal Amar.
Kusno menatap ke arah menantunya, ia berjalan mendekat. Menepuk pundak menantunya itu sambil berkata, "Ayah titip Rani, jaga dia seperti Ayah menjaganya. Jangan sekali pun kamu menyakitinya, jika tidak ada cinta pulangkan saja, Ayah menerima kembalinya Rani di sini."
"Tentu aku akan menjaganya, aku tidak akan menyia-nyiakan istriku," jawab Amar mantap.
"Ayah mengizinkanku pergi?" tanya Rani.
"Tentu, dia suamimu sekarang. Patuhlah padanya, jadi istri yang baik dan jangan membangkang," kata Kusno pada anaknya. "Ayah lepaskan tanggung jawab padamu, Amar," sambungnya pada menantunya itu.
"Ayah." Rani menghamburkan tubuhnya di pelukan sang Ayah. Gadis itu menangis karena ini pertama kali untuknya meninggalkan ayahnya. "Ayah jaga diri Ayah baik-baik selama aku tidak ada, aku akan segera kembali," tutur Rani.
"Hmm, kalian hati-hati. Jika ada sesuatu beri kabar pada Ayah lewat Mpok Atin." Atin sendiri adalah pemilik warung yang biasa ia belanja, tepatnya untuk kasbon. Kusno tidak memiliki ponsel, dan tidak tahu cara menggunakannya.
Rani mengangguk lalu melepaskan diri dari pelukkan ayahnya, ia mencium punggung tangan ayahnya. Amar pun melakukan hal yang sama seperti Rani. Setelahnya mereka segera pergi dari sana.
__ADS_1
***
Rani nampak tegang, belum sampai di rumah mertuanya gadis itu sudah deg-degan. Takut akan kedatangannya tidak diterima oleh keluarga suaminya, apa lagi dengan kondisinya. Gadis yang jauh dari kata sempurna, apa lagi dari segi penampilan.
"Kamu oke, Rani?" Pertanyaan Amar membuyarkan lamunan Rani.
"Ah, iya, Mas. Aku baik-baik saja." Rani menutupi kegugupannya. Tapi sayang, deru napas yang tersengal membuat Amar mengetahui bahwa istrinya sedang dalam tidak baik.
Amar meraih tangan istrinya, menggenggamnya lalu menariknya. Diciummya tangan tersebut, semoga dengan begini gadis itu bisa lebih tenang. Amar benar-benar membuktikan bahwa ia serius menjadikan Rani istrinya.
"Kamu tenang, ada aku di sini. Selama ada aku kamu akan baik-baik saja." Amar kembali mengecup tangan Rani.
Karena perjalan masih jauh, yakni membutuhkan lebih dari dua jam untuk sampai kota Bandung dari kota Jakarta. Amar menyuruh istrinya untuk istirahat.
"Tidurlah, perjalanan kita masih jauh," jelas Amar.
"Aku tidak ngantuk, Mas." Bagaimana bisa tidur dalam keadaan hati yang gelisah? Pertama kali jalan sama laki-laki dan langsung menemui mertua, bayangkan bukan calon. Tapi sudah jadi mertua.
Tak terasa, sudah hampir dua jam Amar mengemudi tanpa henti. Dan sebentar lagi mereka sampai di kediaman mamanya Amar. Tujuan sudah sampai kota Bandung, hanya tinggal melewati beberapa kilo meter lagi mereka sampai. Pada akhirnya, mereka pun sampai di rumah megah berpagar yang menjulang tinggi.
Ada mobil sang pemilik rumah, security yang menjaga langsung membuka pagar karena ia hapal betul mobil yang di kendarai Amar. Apa lagi ada pemberitahuan bahwa anak sang majikan akan pulang malam ini.
Mobil yang di kendarai Amar sudah terparkir di garasi. Ia membuka sabuk pengaman terlebih dulu lalu melihat ke arah istrinya. Dilihatnya, sang istri tengah tertidur. Perlahan, Amar mengguncang tubuh istrinya.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai," bisik Amar tepat di telinga Rani.
Gadis itu menggeliat, tanpa sadar ia sudah ketiduran.
"Sudah sampai." Rani mengucek kedua metanya, jantungnya semakin berdebar kala ia melihay sekeliling. Apa ia sudah sampai dalam rumah? Ruangan yang dilihatnya nampak luas sekali dan terlihat bagus.
__ADS_1
"Ayok turun," ajak Amar kembali.
"Mas." Rani menahan tangan suaminya.
"Gak apa-apa, Mama sudah menunggu. Ayok?" Amar turun lebih dulu, lalu menghampiri pintu mobil ia membukakan pintu untuk isitrinya.
Dan akhirnya, Rani pun turun sambil dituntun bak anak kecil. Gadis perlahan berjalan mengikuti kemana suaminya pergi. Sampailah mereka di ruang tamu, mereka sampai jam sepuluh malam. Rumah sudah terlihat sepi, bahkan ruangan itu nampak gelap.
"Sepertinya Mama sudah tidur, kita langsung ke kamar saja ya?" ajak Amar.
"Mas, aku mau pipis," kata Rani. "Dapur sebelah mana, Mas?" tanyanya kemudian. Sudah terbiasa menuju dapur jika ingin ke kamar mandi karena letak kamar mandi di rumah berada di dapur. Otomatis Rani menanyakan itu.
"Sebelah sana." Belum Amar melanjutkan kata-katanya, Rani sudah berlari terbirit-birit. Meski pun gelap, tapi masih ada cahaya remang-remang yang nampak dari lampu luar.
"Sepolos itu kamu, Rani. Di kamar juga ada kamar mandi," gumam Amar.
Pria itu menyusul istrinya ke dapur. Rani sudah tidak nampak, mungkin gadis itu sudah sampai toilet. Dan benar saja, Rani sudah keluar dari arah pintu kamar mandi. Setelah selesai, Amar kembali mengajak Rani. Ia mengajaknya untuk beristirahat.
Tapi sayang, saat langkah mereka sampai di anak tangga yang pertama, seketika lampu menyala. Rani sampai silau dari sinar lampu tersebut, ia menyipitkan matanya. Perlahan mata kembali normal.
"Amar?" Suara itu mengalihkan mereka.
Amar dan Rani membalikkan tubuhnya. Rani menelan salivanya, sambil menatap seorang wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik.
Setelah berbalik badan, Amar menuntun Rani berjalan menemui mamanya. Belum melangkah, suara wanita itu kembali terdengar.
"Mama mau bicara denganmu." Ucap wanita itu pada Amar sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan mereka.
...----------------...
__ADS_1
Sebelum nunggu novel ini up, kalian bisa baca karya teman othor🙏🙏