
Randy menepikan mobilnya, mungkin benar apa kata istrinya. Ia butuh istirahat.
"Minum dulu, Mas." Zia menyodorkan air minum dalam kemasan. Dan Randy mengambilnya, lalu meneguknya.
"Kamu kenapa sih, Mas? Sepertinya lagi banyak pikiran, apa yang kamu pikirkan?" tanya Zia.
Haruskah ia jujur? Tapi ia takut kalau istrinya malah salah paham dengan kondisi seperti ini. Ia takut nanti malah menjadi masalah baru. Mungkin ini belum saatnya membicarakan masalah ini. Setelah hatinya merasa tenang, ia kembali mengemudi. Dan anak-anak pun sudah tenang duduk di belakang bersama sang pengasuh.
Mobil kembali melaju, tanpa terasa, perjalanan yang ditempuh selama tiga jam lebih itu akhirnya sampai di pusat perkotaan. Waktu yang ditempuh lebih lambat dari biasanya, karena ia mengemudi dalam keadaan santai. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada mereka.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah mewah milik Zia. Randy pernah mengajaknya pindah dari rumah itu, berhubung rumah itu tidak ada yang menempati, Zia pun menolak pindah. Zidan sudah mulai masuk sekolah, ia tak ingin mendaftar ulang sekolah Zidan kembali. Lagian, Zidan tidak ingin pindah dari sekolahnya. Dan akhirnya, Randy mengalah untuk itu.
Sesampainya di sana, mereka semua turun dari mobil. Lalu segera masuk ke dalam rumah. Zidan nampak mengantuk, dan si pengasuh pun mengajak Zidan ke kamar. Tapi tidak dengan si kecil Zia. Seperti keinginannya, gadis kecil itu ingin ke rumah neneknya. Di sini, ia takut akan kakek tirinya yang menurutnya galak.
"Mas, Zia kenapa sih? Kok dari tadi murung terus?" tanya Zia.
"Dia mau ke rumah Mama, aku akan mengantarnya sebentar. Aku akan cepat kembali," kata Randy.
"Istirahat dulu, Mas. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan, supir 'kan ikut sama Papa. Aku gak mau kejadian tadi terulang. Tunggu Papa sampai, ya? Mereka dalam perjalanan, kok." Zia membujuk suaminya.
Si kecil Zia terus menarik bajunya, ia tak ingin menunggu kakek tirinya datang. Ia tak ingin bertemu dengan pria tua itu.
"Iya," kata Randy yang mengerti akan keinginan putrinya.
"Ya, Mas pergi dulu. Mumpung Zidan sedang tidur." Randy mencium kening istrinya terlebih dulu sebelum berangkat.
"Tapi, Mas. Kalau Zidan bangun terus nanyain kamu gimana?"
"Bilang saja aku nganter Zia dulu." Setelah mengatakan itu, Randy berlalu.
Zia hanya menghela napas panjang, ia mencoba memahami keadaan. Karena penat, ia pun akhirnya mengistirahatkan tubuhnya. Tapi ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
***
Randy mengantar Zia ke rumah Eva. Anaknya sedari tadi hanya diam, Randy sesekali menoleh ke arah anaknya.
"Zi," panggil Randy.
Zia menoleh.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi, katakan sama Papa?" tanya Randy.
Zia tak berani mengatakan semuanya, anak kecil itu terlalu takut untuk mengadu. Ia tak ingin papanya dan kakek tirinya bertengkar hanya karena dirinya. Zia memilih untuk bungkam.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara, Papa gak akan maksa."
Mobil terus melaju, karena jalanan lancar, ia lebih cepat sampai. Kedatangannya disambut hangat oleh Eva. Zia langsung turun setibanya di sana, gadis kecil itu menghamburkan tubuhnya di tubuh sang nenek.
"Kalian cepat sekali kembali? Katanya mau jalan-jalan dulu di Bandung?" tanya Eva.
"Iya, niatnya sih begitu, Ma. Tapi Zia ngajak pulang, jadi ya kita semua pulang," jawab Randy.
Zia menarik lengan sang nenek, mengajaknya masuk ke dalam. Dan mereka duduk di ruang tamu. Zia mendaratkan kepalanya di paha Eva. Eva menyentuh kepala anak itu.
"Zia sakit?" tanya Eva pada Randy.
"Sakit?" Randy mengulang kata Eva. "Gak, Zia baik-baik saja kok," terang Randy.
"Tapi ini panas loh." Eva kembali menyentuh kening Zia. Tubuhnya terasa hangat.
"Masa sih, Ma?" Randy tak percaya, lalu ia ikut menyentuh kening anaknya. "Iya, Ma. Panas."
"Aku bawa Zia ke kamar dulu, Ma," pamit Randy.
***
Di rumah Zia.
Arya dan istrinya baru sampai, mereka ikut pulang karena anak dan cucunya sudah pulang. Hal pertama yang ditanyakan Arya setibanya di rumah, pria tua itu menanyakan keberdaan Randy.
"Mana suamimu?" tanya Arya.
Zia yang baru selesai mandi dan bersantai di ruang tamu langsung terduduk di sofa.
"Pergi antar Zia ke rumah Mama Eva," jawab Zia.
"Lalu, Zidan mana?" tanyanya lagi.
"Tidur," jawab Zia lagi. "Papa kenapa sih tanya-tanya terus, kaya wartawan aja?"
__ADS_1
"Suamimu itu hanya peduli sama anak bisu itu ya ketimbang, Zidan? Zidan tidur dia malah pergi."
"Hanya mengantar saja, Mas Randy akan cepat pulang kok," kata Zia.
Namun, menit berikutnya. Zidan terbangun dari tidurnya.
"Pa, Papa ...?" Zidan mencari keberadaan Randy, bocah itu teringat akan janji papanya yang akan mengajaknya bermain setibanya di Jakarta.
"Cucu Kakek sudah bangun." Arya langsung menggendong cucu kesayangannya. "Papamu tidak ada, Zidan main bareng Kakek saja ya? Mau main apa? Kita main di taman belakang ya?"
"Zidan mau maen sama Papa, Kek. Zidan tunggu Papa pulang," ucap Zidan. "Aku mau turun," pinta Zidan.
Arya pun menurukan Zidan, bocah itu menghampiri mamanya. "Ma, Papa kemana memangnya?" tanya Zidan sambil mendudukkan tubuhnya di sofa di samping mamanya.
"Mengatar Kakakmu dulu ke rumah Oma," jawab Zia. "Tunggu ya, sebentar lagi Papa pulang," sambungnya lagi.
Satu jam berlalu.
"Ma, kok Papa belum pulang juga?" Zidan tidak sabar menunggu.
"Telepon, suruh saja pulang. Kamu gak kasian lihat Zidan menunggu? Menunggu itu hal yang membosankan," celetuk Arya "Suamimu itu memang tidak pernah bisa adil," sambungnya lagi.
"Pa, stop, Pa! Jangan pernah menjelakan Mas Randy di depan Zidan," kata Zia.
"Loh, memang gitu 'kan? Buktinya suamimu hanya peduli sama anak bisu itu! Dulu juga dia hanya peduli sama istri mudanya."
Kondisi di sana sedikit memanas, apa lagi dengan Zia. Kenangan dulu terasa terungkit, apa yang terjadi padanya dulu, ia tak ingin anaknya mengalami seperti dirinya.
Akhirnya, ia pun menghubungi suaminya. Belum ponsel itu tersambung, suara mobil dari arah luar terdengar dan ia yakin kalau itu suaminya. Zidan yang mengetahu hal tersebut langsung beranjak dari tempatnya. Ia berlari keluar untuk menemui papanya, ia akan menagih janji pria itu.
Memang pada dasarnya anak kecil yang belum ngerti apa-apa, setibanya di hadapan sang papa, Zidan mengajaknya untuk segera berangkat ke tempat bermain yang terletak di mal. Padahal, Randy baru sampai. Ia lelah untuk hari ini. Ia menolak keinginan putranya.
"Papa bohong, katanya mau ajak aku jalan-jalan. Tapi Papa malah pergi ninggalin Zidan." Bocah itu menangis karena tidak jadi pergi ke tempat area permainan.
...****************...
Selagi nunggu ini up, kalian bisa mampir dicerita ini dulu ya. Terima kasih sudah mengikuti cerita sampai di sini. Mohon maaf bila masih ada yang kurang. Cerita ini hanya hiburan ya teman-teman.
__ADS_1