
Anak kecil itu berlari menghampiri mamanya, dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukkan Zia. Zidan merengek tidak sabar akan apa yang ingin dibelinya nanti.
Randy yang melihat pemandangan itu nampak terkejut. Tiba-tiba saja ada anak kecil yang mungkin seumuran dengan anaknya memanggil mantan istrinya dengan sebutan mama.
"Maaf, sedikit lama. Tadi di jalan macet," sahut Angga yang baru saja tiba. Angga sendiri belum menyadari seseorang yang duduk bersama Zia.
Randy kembali terkejut, teman lamanya bersama anak kecil itu. Ada hubungan apa mereka? Baru memikirkan tentang hubungan mereka, anak kecil itu pun kembali merengek.
"Papa ... Kita duluan saja, sepertinya Mama masih sibuk." Kata Zidan sembari mengguncangkan tangan Angga.
Mendengar apa yang diucapkan bocah itu, Randy serasa tersengat aliran listrik, jantung Randy seakan terhenti seketika. Dadanya terasa sesak, ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Tetap diam meski dalam hati ingin memaki sahabatnya itu.
Tanpa melihat dan siapa yang menjadi klien Zia, karena Angga terlalu fokus dengan bocah lucu itu ia pun menerima ajakan Zidan. Angga dan Zidan pergi meninggalkan Zia dengan klien-nya. Bocah kecil itu menarik paksa tangan Angga.
"Sabar, Papa dan Mama akan membelikan apa yang kamu inginkan." Ujar Angga sembari menuyun tangan Zidan.
"Papa, Mama? Berarti mereka benar-benar sudah menikah?" batin Randy.
"Apa masih ada yang kurang jelas? Apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Zia pada Randy
"Apa dia anakmu? Kamu sudah menikah?" tanya Randy.
Bukan hanya Randy yang merasakan tubuhnya lemas, Zia pun mengalami hal yang sama.
"Apa Mas Randy tidak mencurigai Zidan? Apa dia berpikir Zidan itu anak Angga?" batin Zia. Kalau itu memang benar, setidaknya ia sedikit lega. Tapi tetap saja, sepintar-pintarnya orang menyembunyikan bangkai lama-lama bakal ketahuan juga.
"Kenapa diam? Apa itu benar?" tanya Randy lagi.
Zia langsung terkesiap dari lamunannya.
"Maaf, aku rasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu," jawab Zia. Karena ia rasa itu masalah pribadi, pertemuan mereka itu hanya sekedar rekan bisnis tidak lebih.
__ADS_1
"Tapi aku ingin tahu!" kekeh Randy.
"Apa Mas tidak bisa menyimpulkan apa yang barusan terjadi?" kata Zia.
Randy tak menjawab, yang ia pikirkan benar adanya. Zia sudah menikah dengan Angga dan memiliki satu orang anak dari pernikahan mereka. Pantas, Zia ikut berkecimpung di dunia bisnis ini, ternyata ia bekerja sama dengan suaminya, pikir Randy.
"Aku rasa pertemuannya sudah jelas, aku permisi kalau begitu. Terima kasih atas waktunya." Zia segera beranjak dari tempatnya.
"Aku kira kamu benar mencintaiku, Zi." Perkataan Randy mampu membuat Zia terhenti dan menatap wajah Randy dengan kedua alis yang mengerut, Zia tak percaya mantan suaminya bisa mengucapkan akan hal itu.
"Aku harus apa, Mas. Mengemis cinta padamu gitu?" batin Zia. "Sudah cukup kamu melukai hatiku, kamu tidak pantas untuk aku perjuangkan," batinnya lagi.
"Maaf, Mas. Aku harus segera pergi." Tak berlama-lama lagi Zia langsung meniggalkan Randy begitu saja. Padahal batinnya menjerit. "Dia anakmu, Mas. Anak kandungmu," gumam Zia.
Sepeninggalnya Zia, Randy kembali terduduk. Hatinya terasa diremas-remas. Pupus harapan ia ingin kembali, pertemuan ini membuatnya sakit. Tahu begini, ia lebih meminta untuk tidak dipertemukan. Setelah itu, ia langsung beranjak dari tempatnya. Ia memilih untuk pulang ke rumah.
***
Setibanya di rumah, wajah Randy nampak kusut. Tak ada gairah sama sekali. Kedatangannya disambut oleh putri semata wayangnya. Zia langsung memeluk tubuh sang papa. Ia juga langsung memberikan selembar kertas pada papanya.
Gadis kecil itu kecewa pada papanya. Eva yang melihat langsung menghampiri cucunya itu.
"Jangan sedih, Papa masih capek. Jangan mengganggunya dulu," ujar Eva. Tapi tidak seperti biasanya Randy seperti itu, apa yang terjadi padanya?
Di kamar.
Randy menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, menatap langit-langit sambil membayangkan apa yang dilihatnya tadi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Aarrggghhhh ..." Randy frustrasi, angan-angan untuk bujuk hilang seketika. "Apa kamu bahagia bersamanya? Bahkan di hatiku sudah tercantum namamu, surat yang kuberikan padamu pun tidak kamu pedulikan."
***
__ADS_1
Sementara Zia, ia masih berada di mal bersama Angga dan Zidan. Pikirannya berkelana entah kemana, sejujurnya ia masih mencintai mantan suaminya itu. Hatinya masih terjaga untuknya. Haruskan ia melupakannya? Apa mungkin keberadaan Amar akan menjadi pengganti suaminya itu?
Angga yang menyadari terus memperhatikan Zia, tidak seperti biasanya tatapan matanya begitu kosong.
"Zi, kamu kenapa?" tanya Angga.
"Apa Mas Angga tidak melihat siapa yang bersamaku tadi?" batin Zia. Ya, sepertinya begitu. Bahkan Angga tak membahas soal Randy.
"Kamu sakit?" duga Angga. "Sebaiknya kita pulang, barang yang belum ditemukan nanti kita cari lagi," sambungnya kemudian
"Zidan, kita pulang sekarang. Mama lagi kurang enak badan," sahut Angga pada Zidan yang sedang asyik memilih mainan.
Anak kecil itu langsung terhenti dari aktivitasnya, lalu berlari ke arah sang mama.
"Mama sakit?" tanya Zidan.
"Kepala Mama sedikit pusing, gak apa-apakan kita pulang sekarang?" kata Zia.
Tidak ingin mamanya kesakitan, Zidan pun menuntun sang mama. Mereka bertiga akhirnya pulang. Dalam perjalanan pulang pun Zia terus melamun, Angga yang memperhatikan sedikit heran. Pasalnya tadi dia baik-baik saja, kenapa sekarang jadi begini. Apa ada masalah? pikir Angga.
Angga melihat ke jok belakang, dilihatnya, bocah yang sedari memainkan mainan barunya terlelap. Angga menepikan mobilnya terlebih dulu, lalu menatap ke arah Zia. Zia yang menyadari langsung menoleh ke arah pria yang ada di sebelahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Zia.
"Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa?" tanya balik Angga.
"Aku takut Randy tahu tentang Zidan, dia pasti mengambil Zidan dariku." Wajah Zia langsung terlihat pucat karena saking takutnya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kenapa baru kepikiran sekarang?" Angga begitu penasaran. Sebanarnya apa yang terjadi.
"Kamu tadi terlalu fokus sama Zidan, klien-ku tadi itu, Randy. Tapi dia mengira kita sudah menikah dan Zidan anak kita."
__ADS_1
"A-apa?" Apa Angga harus jujur pada Zia mengenai Randy dulu? Angga ikut pusing karena rahasia ini, sejujurnya ia lebih memilih tidak tahu. Bertahun-tahun ia merasa berdosa pada Zia. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Arya mengancamnya.
"Sudah, kamu jangan terlalu memikirkan itu. Aku yakin, kalau pun Randy tahu, dia tidak mungkin tega memisahkanmu dengan Zidan, percaya padaku."