Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 64


__ADS_3

Rani baru saja selesai mandi, gadis itu mengenakan handuk berjalan menuju kamar. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya.


"Kemana dia?" Karena tidak ada, ia berjalan santai ke kamar.


Klek, pintu terbuka. Rani perlahan membuka pintu, sebelum masuk ia mengintip terlebih dulu. Takutnya suaminya itu ada di sana, ia merasa malu karena hanya menggunakan handuk.


Rani bernapas lega. "Ah, syukurlah." Rani mengira suaminya tidak ada. Ia pun menutup pintu menggunakan kaki sambil membelakangi pintunya. Tanpa sadar bahwa ada seseorang di balik pintu itu.


Ya, Amarl-ah yang berada di sana. Tadi ia sempat mendengar suara kaki melangkah, yang tadinya sedang rebahan, ia segera bangkit dan bersembunyi di balik pintu.


Perlahan, pria itu membuntuti istrinya dari belakang. Rani yang merasa ada sesuatu di belakangnya langsung membalikkan tubuhnya. Terkejut, ia pun mundur beberapa langkah sampai kaki bagian belakangnya terpentok pada bawah ranjang. Seketika, tubuhnya terjatuh ke tempat tidur.


Niat Amar ingin membantu istrinya agar tidak terjatuh, eh ... Alhasil, mereka berdua malah terjatuh secara bersamaan. Posisi Rani berada di bawah Amar. Tatapan mereka saling beradu. Amar menelan salivanya karena melihat ke arah dada Rani yang sedikit terbuka, handuknya terlepas meski hanya sebagian.


Menyadari akan tatapan suaminya, buru-buru ia membetulkan handuknya. Menyelipkan ujung handuk dengan sempurna, lalu tangannya ia silangkan di dada. Meski tangannya susah untuk bergerak tapi ia berhasil.


"Kenapa masih berada di atasku? Minggir tidak!"


Bukannya minggir, Amar malah mengendus di bagian leher istrinya. Wanginya begitu memabukkan, ingin rasanya ia menyesap kulit lembut dan harum itu.


Jantung Rani seakan berpacu lebih cepat dari biasanya, haruskah ia pasrah dan membiarkan suaminya mendapatkan haknya? Tatapan Amar begitu liar, ia pun semakin mendekatkan bibirnya di leher jenjang istrinya.


Menciumnya dengan perlahan sambil diendus-endus. Rani menggeliat karena geli. Tak hanya di situ, Amar menggerakan tangannya, merayap ke arah dada hendak melepaskan handuk yang mengikat tubuh istrinya.


Wajahnya terus menelusup di leher jenjang itu, dan tangannya terus menjelajah sampai ia berhasil melepaskannya meski masih melingkar di tubuh istrinya.


Sementara Rani, gadis itu akhirnya pasrah. Karena Amar memang berhak atas dirinya. Kini suaminya semakin memperdalam dan menenggelamkan wajahnya di bagian tengkuk, Rani semakin berdesir kala bibir suaminya terus menelusi lehernya.


Amar sedikit menjauhkan wajahnya, lalu kembali menetap istrinya. Menatapnya begitu dalam dan penuh cinta. Napas Rani jadi tak beraturan, bahkan hembusannya sampai menerpa ke wajah suaminya.


Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya, Amar hendak mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Ia menahan di tengah-tengah sebelum mendarat dengan sempurna. Sekilas ia melihat ke arah Rani, gadis itu memejamkan matanya. Sepertinya istrinya sudah siap akan menerima perlakuan suaminya.

__ADS_1


Pada akhirnya, kedua bibir itu menyatu dengan sempurna. Amar tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Rani yang tidak berpengalaman, gadis itu hanya mematung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga Amar sedikit menggigit bibir Rani di bagian bawah. Merasa sedikit sakit gadis itu akhirnya membuka mulutnya.


Amar langsung mengeksplor area mulut istrinya, menciumnya penuh dengan gejolak. Pria matang sepertinya tentu menuntut lebih dari ini. Sampai tangannya tidak bisa diam. Pria itu berhasil melerotkan handuk sampai ke perut, hingga gunung kembar itu terekspos tanpa penghalang.


Amar mendaratkan tangan di arah sana dengan sempurna, dan kedua bibir itu masih bermain dengan nikmat. Karena kehabisan oksigen, keduanya pun melepaskan tautan itu. Napasnya memburu dan tersengal.


Tatapan keduanya kembali saling beradu. Malu, Rani mencoba menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. Tapi sayang, Amar tak membiarkan itu terjadi. Ia malah berniat mencumbu bibir ranum itu kembali. Dekat ... Semakin dekat nyaris bersentuhan.


Kring ... Kring ... Kring ...


Bunyi ponsel milik Amar terdengar, hingga menggagalkan rencananya.


"Ah, Sial!" Amar pun tidak jadi mencium istrinya. Padahal ini momen yang pas baginya mendapatkan haknya sebagai suami. Tapi malah ada gangguan.


Rani langsung menarik handuk kala suaminya beranjak. Ia menjadi kikuk karena malu bila mengingat kejadian barusan.


Amar mengambil ponsel yang ada dalam saku celananya. Ia melihat ID pemanggil.


"Pulang sekarang, Mama tunggu!" Tanpa mendengar jawaban dari Amar mamanya langsung menutu ponselnya.


"Hallo, Ma ..." Karena tidak ada jawaban, Amar melihat ke layar ponsel, ternyata mamanya sudah mematikannya.


"Ada apa?" tanya Rani.


"Mama menyuruhku pulang," jawab Amar. "Kamu siap-siap, malam ini kita Bandung menemui keluargaku." Setelah mengatakan itu, Amar hendak meraih handuk yang dipakai istrinya.


Sontak, membuat Rani langsung menjauh.


"Aku becanda, aku mau mandi. Nanti handuknya berikan padaku, kamu siap-siap saja, dandan yang cantik." Amar pun langsung berlalu meninggalkan istrinya yang masih berdiri.


Setelah kepergian Amar, Rani jadi kepikiran. Harus berpenampilan seperti apa untuk menemui mertuanya? Sedangkan ia tak memiliku baju yang bagus. Kini, gadis itu menghampiri lemari bajunya. Melihat seisi baju itu, hingga tatapannya tertuju pada sebuah baju usang milik ibunya sewaktu muda dulu.

__ADS_1


"Apa aku pakai ini?" Rani melihat baju itu, dan ia layangkan ke udara. "Masih bagus, semoga saja muat." Tanpa berpikir dua kali, ia langsung memakainya.


Gadis itu melihat tampilannya di cermin, memutarkan tubuhnya. "Tidak buruk, bajunya masih bagus dan pas di tubuhku."


***


"Mas, ini handuknya." Kata Rani sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Masuk saja, tidak dikunci," sahut Amar.


Rani membulatkan matanya tak percaya, masa iya dia harus masuk, yang benar saja?


"Tidak, ini handuknya." Rani membuka pintu sampai tangannya saja yang masuk, ia tak berani masuk karena takut.


Mau tak mau, Amar pun mengambil handuk itu. Beberpa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Setibanya di luar, ia melihat Rani berdiri tepat di hadapannya. Melihatnya dengan takjub. Biasanya ia melihat istrinya selalu menggunakan baju seadanya, terlihat sedikit tomboy. Tapi kali ini, penampilan istrinya terlihat sangat cantik.


Menggunakan baju dres tanpa lengan, dan panjangnya selutut, warna hijau botol begitu melekat di kulitnya yang putih.


Rani melihat tatapan suaminya padanya.


"Apa aku terlihat norak? Bajunya sudah jelek ya? Apa ini tidak cocok aku pakai?" Pertanyaan Rani tanpa jeda membuat Amar membungkam mulut istrinya dengan mulutnya.


Tak lama, Amar melepaskan kecupan itu.


"Kamu cantik, saangaaattt cantik."


Rani pun tersipu malu mendapatkan pujian dari suaminya.


"Apa iya aku cantik? Tapi kenapa aku merasa ini tidak cocok untukku." Rani takut terlihat kampungan karena baju itu model tahun sembilan puluhan, di mana ia belum lahir ke dunia.


"Mas mau siap-siap dulu."

__ADS_1


__ADS_2