
"Apa sebenarnya mau, Papa?" Zia nampak kesal.
Setelah pertemuannya dengan pengacara Farhat, kini ia tahu yang sebenarnya. Ternyata papanya terpaksa menerima suaminya, tapi kenapa ia selalu membuatnya untuk marah pada suaminya?
Apa rencananya? Dengan kecepatan tinggi, Zia mengemudikan mobilnya. Ia ingin segera bertemu dengan papanya, ia ingin tahu apa isi surat itu sebenarnya? Karena surat itu tidak sampai di tangannya, ia pernah membenci suaminya. Bahkan ia tega membuat Zidan tumbuh tanpa sosok ayah.
Saking kencangnya ia mengemudi, Zia pun akhirnya sampai dengan selamat. Wanita itu langsung turun dari mobilnya, cepat-cepat ia masuk dan langsung mencari keberadaan papanya.
"Pa, Papa ..." Zia berteriak sambil mencari papanya.
"Zia, kamu kenapa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Zifa sang mama.
"Papa mana, Ma? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." Zia terus mencari keberadaan papanya. Tapi ia tak menemukan sang papa. Zia menerobos masuk ke kamar yang di tempati oleh papanya.
Zia mengobrak-abrik seisi kamar itu, ia mencari surat yang dititipkan oleh Farhat. Ia yakin kalau surat itu pasti masih tersimpan.
"Zia, hentikan! Kamu itu kenapa?" tanya Zifa lagi.
"Papa, semua ini karena Papa!" Zia menghentikan aktivitasnya, lalu ia menghampiri mamanya. "Mama pasti soal ini!"
"Tahu apa?" Zifa tak mengerti.
"Surat, surat yang dititipkan pengacara Farhat untukku dari Mas Randy, dan Papa tidak memberikannya padaku. Itu kunci di mana aku tahu bagaimana kondisi Mas Randy saat itu, bahkan aku mengambil keputusan tanpa berpikir panjang."
Baru kali ini Zifa melihat kemarahan putrinya.
"Tapi Papamu tidak ada, dia baru saja pergi," kata Zifa.
"Katakan, di mana surat itu? Aku mau membacanya. Aku bukan orang yang gak punya hati seperti, Papa!"
"Sadar, Zia. Kamu itu seperti orang kerasukan saja."
"Aku begini karena Papa, selama ini aku mencoba diam dan mengalah. Bahkan aku sampai membenci Mas Randy."
Karena Zifa tak memberitahukan tentang surat itu, Zia kembali mengobrak-abrik meja kerja papanya. Sampai ia menemukan koper yang sudah usang di bawah kolong meja. Zia membuka isi koper itu. Betapa terkejutnya ia melihat isi di dalamnya.
Satu persatu ia mengambil isinya. Ia melihat beberapa poto di sana.
"Apa ini, Ma?" Zia menunjukkan poto suaminya yang tersimpan di koper tersebut, dan menunjukkannya pada Zifa.
__ADS_1
Zifa menghela napas, ia sudah yakin sejak awal. Sepintar-pintarnya suaminya menyembunyikan bangkai, lambat laun akan terungkap.
Satu langkah lagi, anakmu akan mengalami apa yang aku rasakan. Anakmu akan membayar semuanya, dulu, aku berpisah dengan anak dan istriku karenamu.
"Apa maksud tulisan ini?" Zia membaca tulisan itu tepat di belakang poto suaminya yang bersama papa mertuanya. Ia tahu wajah papa mertuanya, karena Randy sempat menunjukkan poto papanya padanya.
"I-itu-." Zifa tak bisa menjelaskan semuanya. Dendam suaminya memang teramat besar pada papa Randy.
"Apa Papa mengenal keluarga Mas Randy?" tanya Zia pada mamanya. "Jawab, Ma. Mama jangan diam saja! Jangan bilang kalau Mama membela Papa!"
Belum Zifa menjawab, Arya datang tiba-tiba.
"Sopan sedikit kamu sama Mamamu, Zia! Begini kelakuanmu pada orang yang sudah melahirkanmu!" sarkas Arya.
Luruh hati Zia ketika mendengar itu, bukan maksud hati ia menyakiti hati mamanya. Ia hanya terbawa emosi dengan situasi seperti ini.
"Maafkan aku, Ma. Aku gak bermaksud kurang ajar." Zia memeluk mamanya dengan erat.
Sedangkan Arya, ia melihat seisi kamarnya yang berantakan. Ia juga melihat koper usang miliknya tergeletak di atas meja. Lalu ia berpikir, mungkin anaknya marah karena ini. Zia sudah tahu semuanya, tapi apa dia juga tahu tentang surat itu? Pikir Arya.
Arya melangkahkan kakinya, menghampiri ke arah meja kerjanya. Tapi langkahnya terhenti ketika Zia memanggilnya.
"Pa? Apa maksud tulisan yang di poto itu? Papa dendam pada seseorang, dan Papa membalaskan dendam Papa melalui aku, begitu?" tanya Zia.
"Papa terpaksa menerima Mas Randy kembali padaku karena rencana Papa ini? Di mana hati nurani Papa? Bukan cuma Mas Randy yang sakit hatinya, aku juga sakit, Pa. Papa tega melakukan ini padaku! Itu sama saja Papa menyakiti cucu Papa sendiri."
"Kalau Zidan tahu, Zidan pasti membenci Kakeknya sendiri. Pantas selama ini selalu memojokkan Mas Randy, selalu bilang kalau dia tidak adil. Mas Randy sedang mencoba menebus kesalahannya, Pa. Papa hargai itu."
Tak kuasa, Zia pun menangis setelah mengatakan itu. Ia hanya tak habis pikir akan sikap papanya yang egois. Tidak mementingkan orang disekitarnya. Ada sosok anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Zidan yang menjadi korban di sini.
"Mama ..." Zidan datang.
Zia langsung mengusap pipinya yang basah, ia tidak ingin anaknya tahu akan permasalahan masa lalu kakeknya yang membenci keluarga papanya.
"Mama, nangis?" tanya Zidan.
"Gak, Mama gak nangis. Ini hanya kelilipan."
"Papa mana, Ma?" tanya Zidan.
__ADS_1
Zia mengerutkan keningnya, bukannya suaminya ada di rumah. Bahkan ia pergi hanya sebentar, lalu di mana suaminya?
"Suamimu pergi menemui anak itu," kata Arya. "Dia memang tidak peduli padamu juga Zidan, buka mata hatimu, Zia. Suami seperti ini yang kamu harapkan?" sambung Arya lagi.
"Stop, Pa. Mungkin ada hal penting yang ingin Mas Randy lakukan, kita tidak tahu apa yang dirasakan Mas Randy. Mas Randy merasa tertekan oleh sikap Papa. Papa selalu menyudutkannya, Papa seolah ingin aku dan Zidan membencinya. Setelah aku membencinya mungkin aku akan berpisah seperti apa yang tertulis di belakang poto itu."
"Dan satu lagi, Papa menyembunyikan surat yang Mas Randy titipkan untukku. Papa sudah berhasil memisahkanku dengan Mas Randy. Dan sekarang Papa mengadu domba aku sama suamiku sendiri. Aku benci, Papa. Papa tahu bagaimana rasanya jauh dari anak. Sakitkan, Pa?"
Setelah mengatakan itu, Zia pun keluar bersama putranya.
"Ma, Papa di mana sih?" tanya Zidan. "Apa yang sebenarnya terjadi antara Kakek sama Papa?"
"Kita temui Papa. Apa pun yang terjadi, dia tetap Papamu."
Zia keluar dari rumah itu, ia berniat menemui suaminya. Ia menyetir sendiri mobilnya.
***
Zia sampai di kediaman mertuanya, ia pun langsung masuk setibanya di sana. Kedatangannya disambut oleh pembantu di sana.
"Nyonya," sapa pembantu itu.
"Tuan ada di rumahkan?" tanya Zia.
"Tuan dan Nyonya besar tidak ada. Mereka pergi ke rumah sakit," tutur pembantu itu.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Bi?"
"Non Zia, Non Zia yang dibawa ke rumah sakit."
Zia terkejut mendengarnya, pasalnya, yang ia tahu anak sambungnya itu baik-baik saja.
"Rumah sakit mana, Bi?" tanya Zia kemudian.
"Hospital Residenc, Nyonya."
"Hospital Residenc? Itukan bukan rumah sakit biasa." Zia memang belum tahu semuanya tentang anak sambungnya itu. Setelah tahu di mana keberdaan suaminya, ia pun akhirnya pergi ke rumah sakit tersebut.
...****************...
__ADS_1
Mampir lagi di karya othor yuk? Ceritanya menarik loh, jangan lupa tambahkan favorit juga dan beri like serta komentar kalian ya, terima kasih.