
Randy tidak tahu alamat di mana acara itu diadakan, lalu ia menghubungi nomor guru Zia.
Tapi sayang, panggilan itu tak ada jawaban. Randy pikir, pasti lagi sibuk. Bahkan nomor mamanya pun tidak bisa dihubungi. Sebisa mungkin ia mencari keberadaan mereka di puncak, setiap melihat rombongan ia memperhatikannya. Siapa tahu salah satu di antaranya ada teman Zia.
Karena acara summer camp itu bukan hanya dilakukan satu sekolah saja, melainkan sekolahan yang lain pun mengadakan acara itu. Sudah ada beberapa rombongan yang ia lalui, hingga pada akhirnya, ia menemukan sebuah villa yang cukup dipadati oleh anak-anak. Ia pun menepikan mobilnya.
Seorang anak kecil sedang bermain bola, bola itu menggelinding ke jalan. Sontak membuat anak itu berlari mengejar bolanya, Randy yang melihat ada motor tengah melaju kencang, dengan cepat ia berlari untuk menyelamatkan anak itu.
"Hati-hati, jangan main bola sembarangan." Ujar Randy pada anak itu, Randy terkejut ketika melihat wajah anak itu. Anak ini yang ia lihat kemarin di mal bersama Angga. "Jadi, ini anak Zia," batin Randy.
Sementara Zia, setelah memberikan obat pada anak mantan suaminya dan berbincang dengan Eva, berniat hati ingin menemui anaknya di kamar. Tapi ia tak melihat keberadaan Zidan di sana, sontak membuat Zia segera mencarinya.
Zia terus mencari Zidan, hingga pada akhirnya sebuah pemandangan mengejutkan dirinya. Ia melihat Zidan sedang berada dalam pelukkan seorang laki-laki. Karena posisi Randy membelakangi Zia, Zia pun langsung menghampirinya.
"Zidan, apa yang sudah terjadi," ujar Zia.
Seketika, Zidan terlepas dari pelukkan itu.
"Mama ..." Zidan pun akhirnya menangis karena merasa shock.
Zia yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia langsung saja memaki pria itu.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku?!" tanya Zia sedikit emosi karena ia mengira orang itu berbuat jahat pada anaknya.
Randy yang merasa tidak melakukan apa-apa langsung membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Harusnya kamu berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan anakmu! Untung anakmu tidak apa-apa, makanya kalau punya anak itu dijaga. Jangan sibuk sendiri," cetus Randy.
Zia begitu terkejut melihat keberadaan Randy di sini, mungkin keberadaannya memang untuk menemui Zia, anaknya.
Zia langsung memeluk tubuh Zidan, seolah takut bahwa Randy akan mengenali anaknya. Randy yang melihat sedikit curiga, kenapa Zia terlihat ketakutan? Apa ada yang ia sembunyikan? Hingga Randy menatap wajah Zidan lekat-lekat. Merasa tidak asing ketika melihat wajah anak itu.
Kemudian, ia juga teringat Angga akan kebersamaannya dengan Mila. Apa ada sesuatu yang ia tidak tahu?
Tanpa permisi, Zia langsung menggendong Zidan dan membawanya pergi dari sana. Randy hendak memanggil Zia kembali, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Tapi ada suara yang terdengar memanggil namanya.
"Randy?" panggil Eva. Eva sendiri tadi tidak yakin akan keberadaan anaknya, tapi setelah dilihat-lihat itu memang benar anaknya. Ia juga melihat Zia berjalan dari arah Randy, apa mereka sudah bertemu?
Eva sendiri belum pernah melihat wajah Zidan secara dekat, hingga ia belum tersadar akan kemiripan wajah Randy dengan wajah Zidan sewaktu kecil.
"Mama." Randy menghampiri mamanya, ia langsung menanyakan keberadaan Zia. "Zia mana, Ma?"
Eva berjalan lebih dulu, sedangkan Randy mengikutinya dari arah belakang. Dalam perjalanan menuju kamar anaknya, ia melihat keberadaan Zia yang sedang bersama Zidan. Ia juga melihat Yola di sana, mereka berdua nampak sedang bicara dengan serius.
"Yol, aku izin pulang saja. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada Mas Randy di sini, aku takut dia-."
"Takut apa?" pungkas Randy, ia pun menemui Zia di dalam ruangan sana. Dugaannya sepertinya memang benar, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Zia padanya.
Wajah Zia langsung pucat ketika melihat Randy ada di sini, jangan-jangan mantan suaminya itu sudah tahu siapa Zidan? Pikir Zia. Sampai di mana, Zia semakin memeluk Zidan begitu erat.
"Engap, Mama. Zidan tidak bisa napas," keluh Zidan.
__ADS_1
Kecurigaan Randy semakin menjadi.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa jangan-jangan dia anakku?" duga Randy. "Kamu jangan berbohong padaku, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Angga ternyata memiliki istri dan sedang mengandung. Apa kamu memalsukan pernikahanmu dengannya padaku, hah?"
Zia yang merasa tidak membohongi Randy langsung menggelengkan kepalanya, kapan ia mengakui pernikahannya dengan Angga? Bahkan Randy sendiri yang menyimpulkan itu waktu di mal.
Yola yang menyaksikan itu jadi ikut pusing sendiri, tanpa izin dari Zia ia pun ikut berucap.
"Zia, mungkin ini saatnya dia tahu semuanya. Kamu tidak bisa menyembunyikan ini selamanya darinya," ujar Yola.
"Katakan apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa dia memang anakku?" desak Randy.
Zia tidak menjawab, ia benar-benar takut kalau Randy akan mengambil Zidan darinya.
"Diammu ku anggap sebagai jawaban bahwa dia anakku!" Tunjuk Randy pada anak yang ada dalam pelukkan Zia.
"Kalau dia anakmu, apa yang akan kamu lakukan? Mengambilnya dariku, begitu? Aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi, dia anakku! Dan selamanya akan menjadi anakku!" kekeh Zia.
Randy langsung tergelak mendengar penuturan Zia, ia tak habis pikir pada mantan istrinya itu. Kenapa bisa berpikiran seperti itu? Zia tega memisahkannya dengan anaknya, apa salah Randy padanya? Apa karena kesalahan dimasa lalu membuat Zia dendam padanya? Apa isi surat itu kurang jelas bahwa ia tidak bisa membagi waktu karena sedang mengurus istrinya yang sakit?
"Aku pikir kamu mengerti posisiku, Zia. Ternyata kamu yang egois!"
"Apa kamu bilang? Aku egois! Bukannya kamu yang tidak peduli padaku? Aku pikir kamu serius menerimaku menjadi istrimu, nyatanya, kamu hanya peduli dengan istri mudamu."
Pertengkaran mereka terus berlanjut, sampai Zidan menangis karena takut. Tak hanya disitu, Zia anaknya Randy pun ikut menyaksikan keributan mereka, karena letak ruangan itu tak jauh dari kamar Zia.
__ADS_1
Zia menghampiri papanya, dan langsung memeluknya. Randy yang melihat langsung menggendong putrinya itu. Merasakan suhu tubuh Zia yang panas, ia langsung mengajak anaknya pergi dari sana, namun sebelumnya ia mengatakan sesuatu pada mantan istrinya.
"Urusan kita belum selesai!"