
Sementara di kediaman Zia.
Setelah menyelesaikan shalat maghrib dan isya, mereka langsung makan malam dan ini baru saja menyelesaikan makannya.
Zia dan Randy serta anak-anak sedang berkumpul di ruang tv, mereka tengah menonton film kartun yang disukai Zidan. Si zia kecil yang tadinya tidak menyukai film kartun terbawa suasana hingga ia tertawa dengan yang cukup keras.
Zia dan Randy langsung saling tatap dan tersenyum, pria itu meraih tangan istrinya dan mengecupnya beberapa kali sampai Zia tersipu malu. Baru kali ini suaminya memperlakukannya dengan menganggap istri yang sesungguhnya. Mengingat beberpa tahun ke belakang, jangankan untuk mengingat, terlintas sedikit saja ia tak sudi. Zia benar-benar membuka lembaran baru dengan suaminya.
Mengubur masa lalu dan menyambut hangat masa depan yang kelak akan menemukan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Zia menyandarkan kepala di dada bidang suaminya karena posisi mereka tengah duduk berdampingan di sofa. Sementara anak-anak duduk di bawah beralaskan kain tebal dan hangat sambil rebahan.
"Sayang, aku bahagia bisa berkumpul bersamamu juga anak-anak." Kata Randy sambil mengecup pucuk kepala istrinya yang berbalut hijab.
Zia mendongakkan wajahnya sambil berkata, "aku juga bahagia, Mas. Bahagia karena keinginan Zidan terwujud, memiliki Papa." Zia semakin memperdalam sandarannya bahkan ia memeluk tubuh suaminya.
Randy pun menarik pinggang istrinya memeluknya dengan erat. Sampai aksi mereka dilihat oleh kedua putra putrinya. Zidan dan kakaknya ikut menghamburkan tubuhnya pada kedua orang tuanya, hingga mereka berpelukan bersama-sama.
"Terima kasih sudah bersatu demi kami," ucap Zidan.
"Iya, sayang. Maafkan Papa karena tidak tahu akan keberadaanmu." Randy menyesal karena begitu saja menerima surat perceraian yang dilayangkan istrinya itu.
"Sudahlah, Mas. Yang lalu biar berlalu. Sekarang kamu tinggal membuktikan pada kami kalau kamu menyayangiku dan Zidan." Kata Zia sembari melepaskan dekapannya dan melihat ke arah wajahnya.
"Iya, sayang. Mas akan buktikan itu semua."
Kalau tidak ada anak-anak, ingin rasanya Randy mencium bibir istrinya yang terlihat begitu menggoda. Warna bibirnya begitu natural berwarna merah jambu bahkan tanpa lipstik.
Randy melirik jam yang menempel di dinding, jam menunjukkan pukul 21.05, itu saatnya anak-anak tidur. Randy langsung saja mengajak putra dan putrinya untuk tidur, namun sesuai janji, sang istri menjanjikan kepada Zidan akan mengajak tidur bersama.
__ADS_1
Randy dan istrinya memasuki kamar, Zidan bergelayut di punggung sang ayah, sementara saudaranya tengah berada di pangkuan. Kedua anaknya begitu melekat bak perangko. Pria itu sampai kewalahan karena harus menjaga kedua anaknya agar tidak terjatuh dari pangkuannya.
Zia yang melihat tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala karena tingkah mereka yang sangat menggemaskan.
"Sudah-sudah, cepat turun. Kasian Papa tuh, dia kewalahan." Kata Zia sambil meraih tubuh Zidan yang menempel di punggung suaminya, "sudah malam, kalian cepat tidur," sambungnya lagi.
Zidan dan Zia saudaranya, mereka sudah membaringkan tubuhnya di kasur untuk tidur. Mama dan papanya masih duduk di tepi ranjang. Untung ukuran kasurnya cukup besar sehingga mereka berempat bisa tidur bersama-sama dalam satu ranjang.
Zidan dan Zia tidur di tengah-tengah, kedua orang tuanya di sisi satu lain. Randy melihat kedua anaknya sudah tertidur dengan pulas, bahkan sang istri pun sudah tertidur. Tapi pria itu merubahkan tidurnya, ia pindah di dekat istrinya.
Randy melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, mendekapnya dari belakang. Zia yang tertidur langsung terbangun karena terganggu akan pelukkan itu. Hingga posisinya langsung berbalik ke arah suaminya, mereka saling tatap.
"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Zia kemudian.
"Belum ngantuk," jawab Randy, "maaf, tidurmu jadi terganggu karena aku." Randy meraih dagu istrinya, menariknya hingga ia mendaratkan bibirnya di bibir istrinya.
Andai istrinya itu sedang tidak datang bulan, mungkin Randy sudah menggendong tubuh istrinya dan membawanya pindah ke kamar lain. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain bermain bibir, dan sesekali tangannya merayap. Berkelana menyelusuri lekuk tubuh istrinya.
"Permainanmu sudah cukup lihai sampai membangkitkannya." Randy meraih tangan istrinya dan meletakkan di bawah kepemilikannya yang sudah menegang bermode on.
"Mas ...," protes Zia yang terkejut.
Pasalnya ia sudah lama tak seperti ini, hingga ia kembali demam panggung. Tubuhnya mulai bergetar berkeringat dingin.
"Tidur ya, Mas. Aku takut kamu tidak bisa menahannya," ajak Zia.
"Biarkan seperti ini saja," bisik Randy.
__ADS_1
Mau tak mau, Zia tertidur dalam keadaan tangannya menggenggam sesuatu di balik kain yang di pakai suaminya. Karena sehabis shalat tadi, suaminya masih mengenakan sarung. Untung sang suaminya tidak meminta lebih, hingga mereka bisa tertidur dengan pulas dan nyaman malam itu.
***
Di tempat lain.
Rani sudah sangat mengantuk, tapi Amar tak kunjung pamit pulang.
"Kapan pria ini pulang, gak tahu apa kalau besok aku harus kerja!" rutuk Rani.
Keduanya lama berada di teras luar, sampai Amar sudah sangat kedinginan karena suhu di sana begitu sangat dingin. Mungkin ia belum terbiasa dengan kondisi di rumah Rani, rumahnya berada di pelosok bahkan jalanan hanya muat untuk satu mobil saja. Berpapasan dengan motor saja harus ada yang mengalah dari salah satunya. Bisa dibayangkan, jalannya juga masih berbatu.
"Kapan gadis ini menyuruhku untuk masuk? Tidak peka sekali," Amar menggerutu, ia berharap kalau Rani akan menyuruhnya masuk bahkan menginap. Karena kondisi jalan yang menyeramkan bagi Amar, lebih tepatnya ia memang betah berada di dekat Rani. Walau jutek, gadis itu terlihat manis dan menggemaskan.
Beberapa menit kemudian, Kusno menghampiri mereka. Karena ia tak mendengar suara mengobrol, tapi pria itu masih terlihat. Kusno juga mengkhawatirkan akan kepulangan pemuda itu, karena ini sudah cukup larut. Ia takut para preman tadi mencegatnya di jalan.
"Rani, ajak nak Amar masuk. Kamu gak kasihan dia menggigil kedinginan," kata Kusno.
"Ih ... Ayah ... Ngapain ngajakin dia masuk? Biarkan dia pulang, apa kata tentangga mengizinkan seorang pemuda malam-malam ada di rumah kita! Ada anak gadis loh di sini, apa Ayah yakin?" Rani sengaja bersuara sedikit kencang agar Amar mendengarnya dan memahami kondisi mereka.
"Tidak apa-apa, Pak. Aku tidak kedinginan kok," elak Amar.
Tapi sepertinya ia tak pandai berbohong, mulutnya bisa saja bilang begitu, tapi tubuhnya bergetar menahan dingin.
"Tapi ini sudah malam, nak. Bapak tidak mengizinkan kamu pulang, di sini rawan begal," kata Kusno.
"Tapi bukan berarti dia bisa nginap di sini, , Yah ... Apa kata tetangga nanti," sergah Rani.
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku bisa tidur di mobil. Itu pun kalau diizinkan parkir di depan rumah, Bapak," kata Amar pada ayahnya Rani.
Dan akhirnya, Amar bermalam di mobil di depan rumah gadis itu. Sementara Rani, ia lebih dulu meninggalkan Amar yang masih bersama ayahnya, karena gadis itu sudah sangat mengantuk.