Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 32


__ADS_3

Di kediaman Randy.


Zia sedang memakan ice krim bersama sang nenek di depan rumah. Tiba-tiba ada seorang pedagang mainan yang melintas di depan komplek, Zia pun melihat tukang mainan itu. Sontak, ia menarik baju neneknya. Ia menginginkan mainan tersebut.


Tapi Eva sedang tidak memegang uang, ia malas untuk mengambil. Akhirnya ia menyuruh Zia meminta uang terlebih dulu pada papanya.


"Masuk dulu, minta uangnya sama, Papa," kata Eva.


Zia menunjuk tukang mainan itu sambil menghentak-hentakan kakinya, ia takut si penjual mainannya ke buru pergi.


"Tidak, Oma yang akan mencegahnya untuk tidak pergi. Sekarang masuk dulu sana," titah Eva lagi


Akhirnya, Zia pun masuk ke dalam menemui papanya untuk meminta uang. Tapi ia malah melihat sang papa tengah tidur siang, dan tertidur di sofa ruang tamu. Zia mengguncangkan tubuh Randy, pria itu masih belum terbangun. Zia kembali lagi mengguncakannya sambil menepuk-nepuk pipinya, dan akhirnya Randy terbangun.


"Ada apa? Papa masih ngantuk." Jarang-jarang Randy ada di rumah di hari kerja, dan ia menggunakan hari itu untuk bermalas-malasan hari ini.


Zia memperagakan tangannya, menempelkan jari telunjuk dengan ibu jari dan memainkannya. Randy yang mengerti langsung menyuruhnya mengambil uang itu di dalam dompetnya yang berada di kamar.


"Papa masih ngantuk, kamu ambil saja di dompet. Dompetnya ada di dalam laci," ujar Randy.


Zia pun segera berlari ke kamar, sementara Randy tidur kembali. Setibanya di kamar, Zia langsung menuju laci dan mengambil dompet. Dibukanya dompet tersebut, yang dilihatnya sebuah poto wantia cantik mengenakan hijab. Zia mengambil poto itu sambil mengamatinya, sepertinya ia pernah melihat wanita ini. Tapi di mana? Sampai ia berpikir keras untuk mengingatnya, tetep saja ia lupa.


Zia mengambil uangnya, dan setelahnya ia meletakkan dompet itu kembali ke dalam laci. Poto-nya pun ia bawa karena akan menanyakan pada sang nenek, ia yakin kalau neneknya itu tahu siapa wanita yang ada di dalam poto itu.


Zia kembali menemui neneknya di luar, Eva tengah berada di depan gerbang. Ia sedang mencegat si penjual mainan itu.


"Lama sekali, ngapain aja di dalam?" tanya Eva.


Zia malah tersenyum tanpa dosa.


"Mau mainan yang mana?" tanya Eva lagi.


Zia menggelengkan kepalanya, ia tidak jadi membeli mainan tersebut. Keinginannya teralihkan pada sebuah poto, ia sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.


"Lah ... Kasian si Bapak-nya, sudah nunggu lama-lama malah tidak jadi," ujar Eva.


Sebagai gantinya, Zia tetap memberikan uang pada si penjual mainan itu. Ia memberikan selembar uang berwarna merah. Tukang mainan itu kegirangan.

__ADS_1


"Terima kasih, Neng." Kata orang itu sambil mencium uangnya.


Setelah itu, Zia menarik tangan neneknya untuk segera masuk ke dalam. Dan mereka duduk kembali di teras depan, bahkan ice krim yang sedang dimakan tadi pun sudah mencair.


"Ice krimnya sudah meleleh, apa mau ambil yang baru?" tanya Eva.


Lagi-lagi Zia menggelengkan kepala, ia malah menyodorkan sebuah poto pada neneknya. Eva pun mengambil poto tersebut, ia jadi teringat pada menantu kesayangan itu.


"Mama rindu, di mana kamu sekarang?" batin Eva.


Zia melihat neneknya melamun, ia pun menarik baju sang nenek. Sampai Eva terkejut dibuatnya.


Zia menulis sesuatu di bukunya.


"Siapa dia? Kenapa poto itu ada di dompet Papa? Kenapa bukan poto, Mama?" Zia menunjukkan tulisannya pada Eva.


Eva membacanya, setelah itu ia menyuruh Zia untuk duduk di pangkuannya. Eva pun mulai menceritaka semuanya pada cucunya itu. Semuanya ia ceritakan, termasuk poligami yang dikakukan Randy waktu dulu.


Zia kembali menulis sesuatu di bukunya.


"Nenek gak tahu di mana keberadaannya sekarang. Nama-mu dan nama wanita yang ada di poto ini sama. Sama-sama, Zia," jelas Eva.


"Zia? Mamanya Zidan juga Zia," batin Zia. Ia langsung teringat seketika, wanita yang ada di poto ini mamanya Zidan.


Dengan cepat, Zia menulis. Ia menulis tentang wanita yang ada di poto itu. Sampai Eva terkejut ketika membacanya.


"Kamu serius?" tanya Eva.


Zia menganggukkan kepala, meski tak sering melihatnya dan itu pun dari kejauhan, tapi Zia yakin kalau yang ada di poto itu adalah mamanya Zidan.


"Besok, Oma mengantarmu sekolah, dan Oma juga akan menunggu sampai jam pelajaran selesai," jelas Eva. "Sekarang, kamu simpan poto itu kembali ke tempatnya," titah Eva.


Zia pun turun dari pangkuan neneknya, ia kembali ke kamar hendak menyimpan poto tersebut. Tapi ia malah melihat papanya di sana, dan memberikan poto itu pada sang papa.


Randy sedikit terkejut ketika Zia menyodorkan poto itu padanya.


"Kamu mengambilnya?" tanya Randy.

__ADS_1


Zia mengangguk, setelah itu ia pun pergi dari hadapan papanya. Bukan untuk pergi melainkan ia mengintip sang papa, ia ingin tahu respon papanya ketika melihat poto itu.


Randy memandang wajah Zia di sana, menatap poto itu dalam-dalam. Menciumnya sampai begitu lama, sampai detik ini, tidak ada wanita lain yang mengisi hatinya selain Zia. Entah bertemu lagi atau tidak yang jelas ia masih menyimpan perasaan itu pada mantan istrinya.


***


Hari pun berganti.


Zia kembali sekolah hari ini, sesuai janji, Eva mengantarnya sekolah sampai jam pelajaran sekolah. Eva terus mengedarkan pandangannya, ia ingin bertemu dengan Zia, semoga saja apa yang diucapkan cucunya itu benar. Jika itu benar, berarti Zia sudah menikah lagi, dan itu artinya, Randy tidak akan bersatu dengan Zia.


Beberapa menit kemudian, ia melihat mobil berwarna hitam terparkir di halaman sekolah. Tak lama dari situ, anak kecil laki-laki turun dari mobil dan itu ternyata adalah Zidan. Kebetulan hari ini ia diantar oleh mamanya.


"Zidan ... Jangan lari-lari," kata Zia, Zidan pergi menuju ke dalam kelas.


Sementara di sebrang sana, Eva nampak terkejut melihat Zia. Sudah beberapa tahun ia tak pernah bertemu dengannya. Eva masih belum memperhatikan anak kecil itu, ia malah fokus ke Zia.


"Zia," panggil Eva.


Merasa namanya dipanggil, Zia pun menolah ke arah sumber suara. Ia pun tak kalah terkejut.


"Ma-mama," ucap Zia. Lalu Zia arahkan matanya ke arah Zidan, untung putranya itu sudah masuk ke dalam kelas. Apa ini saatnya anaknya itu tahu siapa papanya? Pikir Zia. "Tidak, aku tidak mau Zidan diambil oleh Randy," batin Zia.


Eva mendekat ke arah Zia, ia langsung memeluk tubuh menantunya itu. Betapa rindunya ia pada Zia.


"Kamu apa kabar? Mama kangen, Zi," ujar Eva.


Zia tersenyum kikuk, padahal hatinya begitu was-was. Ia belum siap mengenalkan Zidan pada mereka, ia takut Zidan diambil paksa oleh mantan suaminya itu.


"Mama sendiri apa kabar?" tanya Zia.


"Mama baik," jawab Eva.


"Kok, Mama ada di sini? Sedang apa?" tanya Zia lagi.


"Antar cucu sekolah."


Zia terkejut, jadi selama ini anak Randy pun sekolah di sini. Itu artinya, Zidan sudah mengenal saudaranya. Tak ingin obrolan itu berlanjut, Zia langsung pamit karena ada urusan.

__ADS_1


__ADS_2