
Di rumah sakit.
Randy begitu shock ketika ia tahu bahwa selama ini istri keduanya menyembunyikan penyakit yang begitu serius darinya. Bahkan dokter menerangkan kalau penyakitnya bertambah parah karena janin yang ada dalam kandungannya. Ia juga meminta pada dokter untuk mengugurkan kandungan istrinya, ia tidak ingin Camelia terlalu cepat meninggalkannya.
Tapi, Camelia tidak ingin menggugurkan kandungannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan disisa hidupnya, memberi kebahagiaan pada suaminya.
"Ku mohon, Ran. Jangan gugurkan kandungn ini, aku ingin dia lahir menggantikanku dalam hidupmu. Setidaknya anak ini bisa menemanimu nanti." Camelia terbaring lemas di atas branker, tidak ada yang diinginkannya saat ini. Disisa hidupnya sekarang, ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama suaminya.
Randy yang melihat keadaan istrinya menjadi iba, apa lagi saat ia tahu bahwa istrinya sedang sakit parah. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, Camelia terus muntah-muntah. Wajahnya begitu pucat. Untung ia belum pergi ke kantor hari itu, dan ia bisa membawa istrinya ke rumah sakit.
Randy begitu terpukul, yang ia lakukan sekarang hanya menjaganya. Berada di sisinya selama istrinya terbaring di rumah sakit, ditambah lagi, ia sedang membuktikan cintanya pada Zia. Membagi waktu seadil-adilnya, tapi jika begini, Zia pasti merasakan ketidakadilan dari dirinya lagi.
"Bukankah malam ini jatah Zia, kamu pergi saja. Temani dia," pinta Camelia.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Zia pasti mengerti. Aku akan menghubunginya kalau aku menemanimu di sini." Randy hendak meraih ponselnya, ia akan menghubungi Zia. Tapi, Camelia mencegahnya. Ia tidak ingin Zia tahu akan penyakitnya, ia tidak ingin dikasihani.
"Biarkan aku mengatakannya tentang ini," kata Randy.
"Tidak, aku tidak mau dia tahu. Bersikap adillah pada Zia, dia juga membutuhkanmu," kata Camelia.
"Aku sudah menghubunginya tadi kalau malam ini aku bersamamu, dan dia mengerti. Besok aku akan menemuinya," ujar Randy berbohong, ia memang menghubungi Zia, tapi tak ada balasan darinya. Ia sendiri bisa tahu kalau istrinya itu pasti kecewa padanya.
Tapi tak ada pilihan lain, Camelia memang butuh dirinya. Bahkan ibunya Randy pun tidak sudi menemaninya di rumah sakit. Randy terus menggenggam tangan istrinya, sampai ia tertidur pun tangan Camelia terus berada dalam genggamannya.
***
Sementara Zia, malam ini ia tak dapat tidur. Pikiran buruk terhadap suaminya muncul seketika. Ia malah membayangkan kalau suaminya tengah bermesraan bersama madunya, suaminya lebih memilih madunya ketimbang dirinya.
Karena tak dapat tidur, ia pun beranjak dari tempatnya. Ia lebih memilih shalat malam, berdoa agar semua dugaanya itu salah. Tapi tetap saja, yang namanya hati tidak bisa dibohongi. Zia terlalu naif untuk ini, ia merasakan cemburu pada madunya itu. Tak terasa, setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya.
Merasa sudah tenang, ia kembali ke tempat tidur. Dan mencoba memejamkan mata, dan akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.
__ADS_1
Keesokkan harinya.
Randy datang menemui istri pertamanya, semoga Zia tidak marah padanya. Semalaman berada di rumah sakit dan kurang tidur membuatnya pagi ini cukup lelah, kantung mata yang sudah seperti mata panda.
Randy menyiapkan diri sebelum bertemu dengan Zia, melihat keadaan wajahnya lewat kaca spion mobil yang menggantung di tengah.
"Pucat sekali." Ujarnya sendiri sambil menguap, perlahan ia membetulkan kemejanya yang sedikit kusut. Setelahnya ia pun turun dari mobil, dan langsung menuju ke toko. Toko pun terlihat belum buka, karena dari rumah sakit ia langsung menemui istrinya.
Ia langsung masuk ke dalam toko, ia melihat gadis kecil di sana, yaitu Mila. Gadis itu sedang membereskan kue-kue untuk dipajang, karena toko sebentar lagi akan buka. Mila kurang suka akan kedatangan Randy, sampai ia tak mempedulikan keberadaannya.
"Permisi, Zia ada 'kan?" tanya Randy.
Namun gadis itu tidak menggubrisnya, melihat ke arahnya pun tidak. Sampai Zia pun menampakkan diri di sana, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mila yang tidak menyukai suaminya.
Lalu, Randy pun melihat keberadaan Zia yang tengah berada di ambang pintu. Ia langsung menghampiri istrinya, hendak memberikan kecupan di keningnya. Tapi sayang, Zia menghindar.
"Malu, Mas," protes Zia. Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya, Zia merajuk pada suaminya itu.
Randy menggelangkan kepalanya sebagai jawaban. Dan Zia langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sedangkan Randy, ia pergi ke kamar mengistirahatkan tubuhnya di sana. Setelah Zia sudah membuatkan sarapan, ia langsung membawanya ke kamar. Tapi ia malah melihat suaminya tertidur.
"Bangun, Mas. Ini masih pagi kamu sudah tidur lagi, sampai jam berapa memangnya semalam?" tanya Zia spontan.
Randy langsung terbangun dan sambil menjawab, karena pertanyaan dari Zia tidak terpikir akan ke arah absurd.
"Jam berapa ya, Mas lupa," jawabnya sambil berpikir. "Kalau gak salah, jam 3 Mas baru tidur," jawabnya lagi.
Zia tambah kesal akan jawaban suaminya karena ia pikir sampai selarut itu bersama madunya, sedangkan ia malah tak bisa tidur karena memikirkannya yang sedang bermesraan. Zia meletakan piring yang berisikan makanan di atas meja, sampai meja berbunyi saking kencangnya.
Randy yang tidak mengerti hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena lapar ia langsung memakan makanan itu.
"Sini, ikut makan bersamaku." Randy menarik tangan Zia sampai gadis itu langsung terjatuh di pangkuannya. Hingga posisinya sekarang terduduk di pangkuan suaminya.
__ADS_1
Randy menyuapi Zia, tidak bisa menolak, Zia pun membuka mulutnya. Dan mereka sarapan bersama, Randy tersenyum melihat istrinya. Ia berharap akan selamanya seperti ini. Sarapan pun selesai, Zia tak lagi duduk di pangkuan suaminya.
"Mas, kapan carikan rumah untukku?" tanya Zia.
Randy menghela napas sejenak, ia sampai lupa memberi tempat untuk istrinya tinggal. Ia juga merasa toko ini kurang layak, kamarnya pun terlihat kecil.
"Mas akan usahakan secepatnya."
"Oh ya, Mas. Aku ada kabar gembira."
"Kabar gembira apa?"
"Ternyata aku masih punya orang tua, dan aku sudah bertemu dengan mereka."
"Oh ya? Bagus dong kalau begitu."
"Mas tidak berniat untuk bertemu mereka?"
"Mas ingin ketemu mereka, tapi jangan sekarang-sekarang ya? Mas masih sibuk."
Seketika wajah Zia berubah masam, segitu sibuknya sampai ia tidak ada waktu untuk menemui orang tuanya? Lagi-lagi Zia kecewa pada suaminya.
"Jangan marah, Mas usahakan secepatnya menemui orang tuamu."
"Kamu memang belum bisa adil padaku, Mas. Hanya Camelia yang kamu perhatikan."
"Sudah dong, jangan marah begitu!" Randy memeluk istrinya agar tidak marah lagi. "Aku kangen," bisik Randy kemudian. "Bolehkan," bisiknya lagi.
Karena memang kewajiban, Zia pun melayani suaminya di tempat tidur. Kalau yang pertama terasa sakit, kali ini Zia menikmati sentuhan suaminya. Mereka menghabiskan waktu bersama selama dua jam penuh di kamar. Keduanya bermandikan keringat, sampai Zia harus mandi dua kali pagi ini.
Karena memang lelah, Randy tertidur sangat pulas. Dengkuran halus terdengar di telinga Zia, sedangkan Zia langsung beranjak untuk membersihkan diri, karena ia harus membantu Mila di toko.
__ADS_1