Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 38


__ADS_3

Ucapan Randy seakan ancaman baginya, Zia benar-benar takut kalau Zidan diambil paksa oleh mantan suaminya itu. Saking takutnya, ia sampai tak melepaskan Zidan dari pangkuannya. Anak kecil itu hanya bisa menatap wajah sang mama, ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama, kenapa Papanya Zia tadi bilang aku anaknya? Apa Om tadi Papa Zidan?" tanya Zidan dengan polosnya.


Zia tidak menjawab, rasanya dadanya begitu terasa sesak. Lalu ia menatap ke arah Yola, seolah meminta bantuan, harus menjawab apa dengan pertanyaan anaknya itu.


"Apa dia Papa Zidan?" tanya Zidan lagi.


Dan Yola pun menghampiri Zidan, meraih tubuh anak kecil itu dari dekapan mamanya. Yola memejamkan mata ke arah Zia, mengisyaratakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Zia pun melepaskan Zidan, anak kecil itu beralih di pangkuan Yola, ia akan mengatakan yang sebenarnya pada anak itu. Karena ia rasa, Zia tidak akan memberitahukan masalah ini pada Zidan sekarang, temannya itu masih dalam emosi. Ia takut Zidan terkena imbasnya, sejatinya anak itu merindukan sosok ayah dalam hidupnya.


Bahkan Yola sering melihat Zidan menggambar seorang laki-laki dewasa di bukunya, setiap kali ia menanyakan siapa yang digambarnya selalu menjawab bahwa yang ia gambar adalah papanya. Karena tidak tahu wajah ayahnya, Zidan menggambar seseorang itu tanpa wajah detail-nya.


Hati Yola merasa tercubit ketika tahu akan hal itu, dan sekarang, sudah waktunya Zidan tahu siapa ayah kandungnya. Ia juga takut kalau spikis Zidan terganggu karena ini.


"Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku. Randy tidak mungkin mengambil Zidan darimu, karena ia tahu kalau anak itu lebih membutuhkan figur seorang Ibu," jelas Yola.


Zia sendiri menyadari akan hal itu, karena anak yang hidup bersamanya juga tanpa sosok ibu, tentu mantan suaminya akan berpikir seperti itu, pada akhirnya Zia pun menganggukkan kepalanya. Memberi izin pada Yola untuk menceritakan semuanya pada anaknya.


"Zidan rindu Papa?" tanya Yola.


Zidan Mengangguk.


"Ingin bertemu Papa?" tanya Yola lagi.


Lagi-lagi Zidan menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin bertemu dengannya, Tante. Tapi Mama tidak pernah memberitahukan Papa ke Zidan," terang Zidan, anak itu sambil menyembunyikan wajahnya di tubuh Yola, karena ia takut kalau mamanya marah. Pernah sekali Zidan menanyakan soal papanya, dan Zia pernah membentak Zidan, memintanya untuk tidak menanyakan lagi soal papanya itu.


Hingga sekarang, Zidan memendam kerinduannya pada papanya itu. Ditambah lagi, keberadaan Angga membuat hati Zidan terobati. Pasalnya, Zia tidak tahu apa yang sebenarnya dalam hati Zidan. Mendengar penuturan anaknya membuat mata hatinya terbuka.

__ADS_1


Keegoisannya tidak bisa ia paksakan, sejatinya kebahagiaan Zidan adalah segalanya.


"Mau bertemu sama, Papa?" tanya Yola kembali.


"Mau, Tante. Tapi Zidan takut, Mama." Zidan kembali menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Yola.


"Jangan takut, sekarang Zidan turun dan ikut sama Tante. Kita temui Papa, Zidan mau 'kan?" ajak Yola.


Zidan menganggukkan kepalanya dengan cepat, wajahnya langsung berbinar. Tak sabar ingin segera bertemu dengan papanya. Yola menuntun Zidan. Sementara Zia hanya bisa pasrah ketika melihat kepergian anaknya bersama sahabatnya itu.


***


Tap tap tap ...


Suara langkahan terdengar di pendengaran Randy, pria itu sedang menidurkan Zia. Ketika suara langkah itu semakin jelas, ia pun menoleh ke belekang. Ia melihat keberadaan anak itu bersama wali kelas anaknya.


Yola dan Zidan semakin mendekatkan diri, berdiri di samping Randy. Randy pun melihat wajah Zidan kembali, jarak yang begitu dekat membuatnya ada perasaan sesuatu di dalam hatinya. Bukan debaran atau apa pun, yang jelas ia begitu ingin memeluknya.


Karena menuju perjalanan tadi, Yola sudah memberitahukan pada Zidan, bahwa papanya adalah orang yang sama dengan Zia teman sekelasnya.


Terjawab sudah dugaan Randy. Pria itu langsung memeluk Zidan dan memangkunya. Menciumi wajah Zidan disetiap inci-nya. Setelah puas, ia menurunkannya. Kembali menatap wajah anaknya, wajahnya begitu persis dengannya sewaktu kecil.


"Anakku." Randy kembali memeluk anaknya itu.


Tak terasa, air matanya keluar. Betapa bahagianya ia sekarang, ternyata pernikahan singkatnya ada malaikat yang hadir dalam hidupnya.


Eva pun tak kalah bahagia, ia ikut meneteskan air matanya. Tak hanya Zia yang menjadi cucunya, lengkap sudah cucunya sekarang.


"Sini, peluk, Oma." Eva merentangkan tangannya ke arah Zidan, anak kecil itu pun langsung berlari ke arahnya. Dipeluknya cucunya itu, mengusap lembut pucuk rambut Zidan. Setelah itu, Zidan melepaskan diri dari pelukkan neneknya.


Zidan kembali menghampiri Randy, duduk di pangkuannya lagi. Randy tengah mengusap Zia yang sedang tertidur, ia juga mengenalkan Zia sebagai kakaknya.

__ADS_1


"Kalian saudara, Zia adalah Kakakmu," terang Randy pada Zidan. "Apa selama di sekolah kalian selalu akur?" tanya Randy.


Zidan mengangguk, meski dalam hati ia mengakui karena sempat menjahili kakaknya itu.


"Zidan harus memaklumi, Zia. Dia ada kekurangan, bantu Papa menjaga Kakakmu," pinta Randy.


"Iya, Papa. Tapi Papa janji, jangan tinggalkan Zidan lagi. Aku sayang, Papa," jelas Zidan.


"Tentu, Papa tidak mungkin meninggalkanmu. Kamu anak laki-laki Papa satu-satunya."


Sementara di ambang pintu, Zia yang menyaksikan ikut menangis. Ia tak menyangka bahwa Zidan akan sebahagia ini.


"Maafkan Mama sudah egois." Ucap Zia sembari berlenggang pergi dari sana, ia memberikan waktu kebersamaan pada mereka, karena setelah acara summer camp selesai, mungkin mereka akan kembali berpisah. Berpisah untuk bertemu kembali, itu yang dimaksud Zia.


***


Di malam pertama acara summer camp belum ada kegiatan, karena pihak sekolah masih memberikan waktu pada anak-anak untuk beristirahat.


Di bawah terangnya rembulan, Zia sedang menikmati dinginnya malam itu. Dalam lamunannya terlintas wajah Randy dan anaknya, mungkin jika mereka tidak berpisah, tentu Zidan pasti merasa bahagia. Tapi sayang, itu hanya angan-angannya. Karena pikiran Zia masih terbayang akan sikap dingin Randy sewaktu dulu.


Perasaan laki-laki itu hanya sesaat, yang di mana pria itu menginginkan kehangatan darinya. Pikir Zia.


Dalam kesendiriannya, tak luput dari pantauan seseorang. Ya, Randy-lah yang secara diam-diam memperhatikannya. Meski pun kecewa, perasaannya tidak bisa dibohongi. Ada kerinduan yang tersimpan dalam relung jiwanya, namun ia tak tahu harus mulai dari mana untuk mendekatinya.


Hanya satu cara untuk membuatnya kembali padanya, membuktikan perasaannya bahwa ia begitu mencintainya.


"Aku pastikan kamu akan kembali padaku!" yakin Randy.


Tak berselang lama, ia melihat Zia tengah menerima sebuah panggilan. Dan itu membuatnya begitu penasaran.


"Iya, Papa atur saja semuanya."

__ADS_1


Hanya itu yang terdengar di pendengaran Randy. "Apa yang mereka bicarakan? Atur semuanya? Apa yang dimaksud, Zia?" pikir Randy. Hingga Randy berpikir keras akan hal itu, sampai ia tak menyadari kepergian mantan istrinya itu.


__ADS_2