Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 59


__ADS_3

Karena melihat Rani masuk ke dalam rumah, akhirnya Amar juga menyuruh ayahnya gadis itu untuk segera masuk. Sementara ia, ia pergi menuju mobilnya dan segera masuk karena sudah merasa sangat dingin.


Udara di sana membuatnya menggigil seperti di kutub utara.


Amar menghela napas sejenak, lalu meraih jaket yang berada di jok kursi belakang. Ia gunakan untuk menutup tubuhnya. Tak ada pilihan lain selain ini, ia ingin besok yang pertama dilihatnya adalah gadis itu. Wajah jutek serta nada bicaranya yang ketus membuatnya selalu merindukannya.


Pada akhirnya, ia memilih memejamkan matanya. Ia segera tidur karena takut besok kesiangan.


***


Di dalam kamar, Rani mengintip dari jendela. Ia melihat ke arah mobil yang ditumpangi oleh Amar. Sebenarnya ia merasa kasihan pada pria itu, tapi ia takut nantinya malah membuat pria itu betah berada bersamanya kalau ia bersikap baik padanya. Tidak ingin peduli, Rani pun membaringkan tubuhnya di kasur miliknya yang minim.


Beberapa kali ia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman, namun tetap saja ia tak bisa memejamkan matanya. Ia malah teringat akan pria yang ada di dalam mobil sana, ia mengira di dalam mobil itu dingin. Karena panik, Rani sampai tidak bisa berpikir dengan jernih kalau ac yang ada dalam mobil tentu pasti dalam keadaan mati.


Akhirnya, Rani beranjak dari posisinya. Ia keluar dari kamar dan mengambil sarung milik ayahnya. Gadis itu lalu keluar dari dalam rumahnya, menghampiri mobil Amar. Berniat memberikan sarung itu padanya, tapi ia bingung, mobil dalam keadaan pintu tertutup rapat. Ia tak mungkin menggedor pintunya, ia takut mengganggu. Mungkin saja pria itu sudah tertidur, pikirnya.


Tidak ada pilihan lain selain ia mencoba membuka pintu mobil itu. Pintu tidak terkunci, akhirnya ia bisa membuka pintu itu, ia menyelimuti Amar. Karena terkejut, Amar langsung menarik tangan gadis itu, sampai Rani terjerembab tepat di atas tubuh Amar.


Mobil jadi tergoyang karena hantaman tubuh Rani yang terjatuh. Kebetulan ada beberpa orang yang beronda pada malam itu.


"Sutttt, lihat. Mobil itu bergoyang," kata orang yang sedang beronda.


"Mana? Ah tidak juga,"ucap salah satu di antaranya.


"Eh, eh ... Lihat, mobilnya bergoyang lagi." Tunjuk pria yang pertama kali melihat mobil itu bergerak.


Akhirnya, mereka percaya bahwa mobil itu memang bergoyang.


"Jangan berisik, kita tangkap basah mereka. Mereka pasti berbuat mesum di dalam sana." Ketiga pria itu menghampiri mobil.

__ADS_1


***


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Amar,


"Lepas!" Bukannya menjawab, Rani malah menarik tubuhnya untuk segera beranjak dari atas tubuh pria itu. Tapi sayang, Amar malah menahan gadis itu.


"Ngapain?" tanya Amar lagi.


"Cu-cuma ma-mau ngasih sarung," jawab Rani terbata karena wajah mereka begitu sangat dekat, hanya menyisakan beberpa senti saja.


Karena tak kunjung terlepas, membuat Rani terus meronta. Pada akhirnya, yang sedang berjaga di malam itu semakin mendekat.


"Hayo ... Ketangkep basah ya, kalian." Ketiga pria itu menggerebek Rani dan Amar.


Sontak, Amar langsung melepaskan cekelannya dari pinggang gadis itu. Rani dan Amar segera saja keluar dari mobil, gadis itu langsung menjelaskan insiden kejadian. Tapi sayang, yang berjaga itu tidak percaya begitu saja.


"Duh, Neng Rani. Mamang tidak percaya kalau tidak melihatnya langsung. Tapi kamu tidak bisa mengelak, karena saksi bukan hanya, Mamang," jelas orang itu yang memang mengenal Rani.


"Pak, Pak ... Tolong ... Ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, Pak. Lagian Bapak bisa melihat sendiri kalau kami masih memakai baju utuh, kami tidak melakukan apa-apa!" elak Amar.


Amar harus menyelesaikan masalah ini tanpa banyak orang yang tahu, itu malah akan membuat namanya tercoreng. Apa lagi ia tamu di kampung itu, bisa-bisa para warga mengaraknya.


"Bapak-Bapak tenang ya, saya akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Tapi tolong, jangan sampai para warga yang lain tahu. Saya kasihan pada Rani, mungkin akan jadi bahan pembicaraan ibu-ibu di sini nantinya. Mohon pengertiannya, Pak," jelas Amar.


Sementara Rani, ia malu bukan main. Wajahnya sudah merah bahkan matanya sudah tergenang dengan air mata. Dengan sigap, Amar langsung menenangkan gadis itu.


"Kamu tenang ya, semuanya akan baik-baik saja," ucap Amar pada Rani.


Karena mendengar keributan di luar rumah, Kusno langsung saja menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Kusno pada ketiga pria yang sedang bertugas.


"Ini, Pak. Anak Bapak berbuat mesum dengan pria ini di mobil," lapor ketiga pria itu secara bersamaan.


"Iya betul itu, Pak. Ini tidak bisa dibiarkan," timpal salah satunya lagi.


"Tapi pria ini akan bertanggung jawab," jelas satunya lagi.


"Benar itu, Rani?" tanya Kusno, ia menyelidik meski tak percaya.


"Ti-tidak, Yah. Kami tidak melakukan apa-apa, itu hanya salah paham."


"Salah paham dari mana? Mobil bergoyang gitu," kata orang yang beronda benar-benar mendesak Rani.


"Malam ini juga, Rani dan pemuda ini harus segera menikah, Pak. Bisa-bisa aibnya semua warga akan terkena imbasnya."


"Yah, tapi Rani tidak melakukan apa-apa," jelas Rani pada ayahnya, "bagaimana ini, Tuan. Aku tidak mau menikah karena terpaksa begini," kata Rani pada Amar.


"Tapi tidak ada pilihan lain, Rani. Dari pada jadi bahan gosip besok, lebih baik kita menikah sekarang," ujar Amar mantap pada gadis itu, "baik, Pak. Saya siap menikahinya malam ini juga," kata Amar pada ayah Rani dan ketiga orang itu.


"Bagimana, Pak? Pemuda itu sudah setuju, kalau semuanya sudah setuju saya panggil Pak Halim dan Ustad Hafis kemari sekarang juga," kata bapak-bapak yang beronda itu.


Kusno menarik napas dalam-dalam, mungkin ini sudah waktunya Rani menikah. Walau kecewa tapi ia tak bisa menolak.


"Ya sudah, panggil mereka kemari sekarang juga. Saya tidak mau para warga tahu akan pernikahan yang seperti ini," kata Kusno.


Ketiga warga itu pun berbagi tugas, Juna menjaga di sini bersama Rani dan Amar. Takut pria itu lepas dari tanggung jawab. Ali memanggil Pak Halim, dan Jono manggil Ustad.


Rani nampak gelisah, sejujurnya ia belum siap menikah apa lagi menikah dengan pria yang belum lama ia kenal. Tak lama dari situ, kedua orang tadi sudah kembalk. Pak Halim dan Pak Ustad sudah datang. Karena sudah berkumpul, mereka masuk ke dalam rumah Kusno untuk menikahkan Rani dan Amar.

__ADS_1


Ingin rasanya Rani berlari, usianya saja baru genap 19 tahun. Cita-citanya belum tergapai, dan sekarang ia malah harus menikah dengan pemuda yang cukup dewasa jika dibandingkan dengan umurnya.


__ADS_2