
Zia sedikit tenang mendengar ucapan Angga. Lalu, ia pun menoleh ke belakang di mana Zidan yang sedang tertidur di sana.
"Maafkan, Mama," batin Zia. Ia sendiri merasa egois karena masalahnya dengan mantan suaminya, Zidan yang kena imbasnya. Lebih tepatnya, ia bukan tak ingin memberitahukan keberadaan Zidan pada Randy. Zia belum siap untuk itu, kelak entah itu kapan, ia pasti memberitahukan semuanya pada mantan suaminya.
Mobil Angga kembali melaju, karena dirasa Zia sudah tidak seperti tadi yang terlihat murung.
***
Malam pun tiba.
Malam ini, Randy tengah bersiap-siap. Mendadak, ia harus berangkat ke luar kota besok. Perusahaan cabangnya sedang ada dalam masalah, pikiran kalut, perusahaan pun ikut bermasalah.
Disaat Randy sedang mengemas baju-bajunya ke dalam koper, Zia datang tiba-tiba. Alisnya mengerut, papanya itu sedang apa? Mau ke mana? Pikir Zia. Ia mendekatkan diri pada papanya, berdiri tepat di sampingnya.
Randy yang melihat keberadaan anaknya, ia menghentikan aktivitasnya. Tubuhnya ia sejajarkan dengan tubuh Zia, memegang kedua pundaknya lalu berkata.
"Papa ada urusan di luar kota, besok Papa berangkat pagi-pagi," jelas Randy pada anaknya.
Tanpa ekspresi, Zia langsung memeluk tubuh papanya. Tak lama, ia melepaskan diri. Zia yang membawa selembar kertas dan langsung memberikan pada papanya. Randy mengambil kertas tersebut dan membacanya.
Beberapa detik kemudian, setelah membaca tulisan itu Randy langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Papa tidak setuju. Lagian mau pergi sama siapa? Lusa, Papa masih di luar kota. Dan Oma sudah tua, Papa gak mau kamu ikut!"
Zia menghentak-hentakkan kakinya, ia merengek karena ia ingin ikut dengan acara yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu. Lagian, acara itu dibuat untuk akhir sekolah. Dan itu kesempatan Zia berkumpul dengan teman-temannya di sekolah di taman kanak-kanak.
Zia mengatupkan kedua tangannya, ia meminta izin supaya papanya mau menandatangani formulir itu.
"Tidak! Sekali tidak tetap tidak!" Bantahan Randy sudah tidak bisa digugat. Bahkan ia kembali mengemas barang-barangnya ke dalam koper.
Zia yang kecewa langsung pergi meninggalkan papanya, ia pergi menemui neneknya. Setibanya di sana, ia memberitahukan pada sang nenek. Bahwa ia tidak mendapatkan izin dari papanya. Zia kembali murung dan bersedih.
"Jangan sedih, kita tetap akan berangkat, tanpa Papa" kata Eva.
__ADS_1
Mata Zia langsung berbinar, bahkan ia melompat-lompat sambil bertepuk tangan saking senangnya.
"Suutttt ..." Eva menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Jangan berisik, nanti Papa denger," jelas Eva.
Zia pun terhenti, ia memeluk neneknya dengan sayang.
"Sudah, sebaiknya kamu tidur," titah Eva pada cucu kesayangannya. Meski pun hidup dalam keadaan tidak normal, tapi Zia anak yang sangat pintar. Kecerdasannya di atas rata-rata.
***
Keberangkatan Randy pun terjadi hari ini
Randy sudah berada di Bandara, namun tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dengan tak sengaja.
"Maaf, saya tidak sengaja," kata orang itu.
Randy pun memakluminya, karena ini memang bukan salahnya, ia-nya saja yang kurang hati-hati, karena berhenti di tengah jalan
Sehingga keduanya pun berkenalan.
"Amar."
Ucap mereka bersamaan, karena penerbangan masih beberapa menit lagi. Jadi mereka putuskan untuk bersantai sejenak di kafe yang tersedia di Bandara, hingga obrolan mereka berlanjut sampai di mana membicarakan tentang perusahaan masing-masing.
Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka menjadi sebuah pertemanan. Randy pun menceritaka tentang kisah hidupnya sampai Amar sendiri menjadi iba.
Lain hal dengan kisah dirinya, ia mendapatkan sebuah perjodohan. Perjodohan dengan seorang janda kembang. Meski pun begitu ia tetap merasa bangga karena wanita yang dikenalkannya adalah janda dengan sejuta pesona.
"Wah, beruntung sekali kamu," kata Randy yang mendengar cerita Amar.
"Kamu juga semangat, siapa tahu kembali bertemu dengan mantanmu itu. Aku doakan semoga kalian berjodoh kembali."
"Amin," sahut Randy. Semoga saja begitu, karena jodoh siapa yang tahu.
__ADS_1
Karena penerbangan akan segera berangkat, pertemuan mereka pun harus berakhir di sini. Karena tujuan mereka berbeda. Kedua pria itu pun berpisah dengan cara berpelukkan, Randy menepuk punggung Amar.
"Aku harap kita akan bertemu dilain waktu," ujar Randy.
"Iya, siapa tahu bisnis kita bisa bergabung," timpal Amar. Disaat itu pula, ponsel milik Amar berdering, ia langsung mengangkatnya tepat di hadapan Randy.
"Iya, ada apa, Zia?" jawab Amar pada sambungan itu. Hingga obrolannya terus terdengar di pendengaran Randy.
Randy sedikit terkejut ketika mendengarnya, apa lagi terdengar nama Zia di sana. Tapi nama Zia itu banyak, lagian mana mungkin Zia yang dimaksud Amar adalah Zia-nya. Jelas-jelas mantan istrinya itu sudah bersuami, pikir Randy. Akhirnya, ia pun menghiraukan percakapan mereka. Dan ia memilih untuk segera pergi.
***
Di kediaman Zia.
"Bagaimana? Apa katanya?" tanya Arya pada Zia.
"Iya, katanya Amar akan menyusul nanti," jawab Zia.
Arya tetap memaksa meminta Zia menerima lamaran dari Amar. Kalau tidak dicoba, mau sampai kapan anaknya itu terus hidup sendiri, bahkan Zidan membutuhkan sosok ayah, dan Arya yakin kalau Amar adalah laki-laki yang tepat untuk masa depan putrinya juga cucunya.
Zia sendiri mencoba membuka hati untuk orang lain, dan melupakan mantan suaminya itu.
***
Si kecil Zia, nampak bahagia, meski pun tak mendapatkan izin dari papanya, ia tetap akan berangkat. Merasa aman karena papanya itu tidak ada, keberangkatannya tidak perlu ditakuti lagi ia dan neneknya bisa pergi tanpa cegahan Randy.
Hingga ia dan neneknya langsung bersiap-siap, menyiapkan semua barang yang akan dibawanya ke acara summer camp.
Hingga waktu tak terasa terus berputar.
Summer camp akan segera dimulai. Para murid sudah berkumpul di lapangan sekolah. Tidak semua orang tua ikut mendampingi, tak terkecuali Zia. Yola memang meminta bantuan pada Zia, ikut mengurus acara itu. Sekalian ia menjaga putranya di sana.
Selama Yola sedang mengabsen muridnya, Zia terus memperhatikan Zia anaknya Randy. Ia merasa kasihan pada anak itu, lalu ia arahkan pandangannya ke penjuru. Ia mengira kalau Zia pergi pasti bersama Camelia, tapi yang nampam malah ibu mertuanya. Mungkin saja Camelia ada urusan hingga ia tak dapat menemani anaknya, pikir Zia.
__ADS_1
Setelah mengabsen, Yola menyuruh anak-anak masuk ke dalam bus yang sudah di siapkan, semua anak-anak sudah masuk, tapi tidak dengan para orang tua. Mereka menaiki kendaraan masing-masing.
Dan mereka pun segera berangkat ke puncak.