
Kellan yang sudah tersulut emosi masuk kedalam kamar dan melihat sang Istri yang tengah merias diri pun semakin tersulut emosi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Pertanyaan sederhana namun mampu membuat merinding untuk orang yang mendengar nya tak terkecuali Zea sang Istri. Zea yang takut campur merinding mendengar suara berat sang suami dan melihat wajah suaminya merah padam menahan amarah, dia pun menatap bingung pada suaminya. Ada apa dengan suaminya itu.
"M--maaas, k--kaau sudah pulang.?"
"Kenapa? Apa kau terkejut melihat ku sudah pulang dan menyaksikan semuanya." Kini lagi-lagi Zea dibuat bingung oleh kata-kata dari Suaminya pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ada apa sebenarnya ini.
"Maksud kamu apa Mas, bicaralah yang jelas." Jawab Zea yang penasaran, sebenarnya ada apa sehingga Suaminya menjadi seperti ini.
"Kau masih bertanya ada apa? Apa kau tidak merasa telah membuat ku murka." Kini Kellan bicara dengan mulai menaikan suaranya sedikit meninggi.
"Katakan dengan jelas apa yang membuat mu seperti orang kesetanan begini Mas, tidak usah bertele-tele." Jawab Zea mencoba tenang, setelah mendengar suara suaminya yang mulai meninggi.
"Baiklah, baik, akan aku katakan." Kellan pun menjeda kata-katanya dan menarik nafas lalu dihembuskan kasar lalu meneruskan kembali ucapakan.
"Kenapa Ibu yang memasak di dapur, Kenapa bukan kamu, bukankah itu tugas kamu?"
"Itu karna Ibu sendiri yang meminta Mas, tadi aku pas mau masak tiba-tiba Ibu datang dan melarang ku untuk memasak, Ibu bilang biar Ibu saja, Ibu sedang ingin memasak. Tadi juga saat aku mau bantu lagi-lagi Ibu menolak, kata Ibu dia sedang ingin masak sendiri tanpa mau dibantu." Jelas Zea yang sebenar-benarnya, tak ada yang ditutup-tutupi. Namun, respon Kellan diluar dugaan Zea, Kellan justru kelihatan semakin marah.
"Apa itu masuk akal, kau coba membohongi ku, hah!!" Bentak Kellan tepat dihadapan Zea, membuat Zea syok.
"Aku tidak pernah membohongi mu walaupun pun itu hanya masalah sepele, aku bicara apa adanya tapi kenapa kau membentak ku!" Jawab Zea yang ikut menaikan suara nya sedikit meninggi.
Kellan pun semakin marah mendengar suara Istri nya yang sedikit meninggi dihadapan nya.
PLAAAAKKKKKK......
__ADS_1
Satu tamparan sukses mendarat dengan sempurna dipipi mulus Zea yang tidak hanya meninggal kan luka pada hati tapi juga bekas pada pipi mulus milik Zea.
Zea pun kaget dan syok mendapatkan tamparan dari Kellan, selain rasa sakit fisik, sakit dihatinya jauh lebih sakit dari pada bekas tamparan Kellan itu. Zea memegangi bekas tamparan dipipinya itu dengan menegakkan kepala dan menatap tajam pada Kellan.
"Kau berani meninggikan suaramu dihadapan ku hah!" Bentak Kellan lagi.
"Padahal disini kau jelas-jelas bersalah, sudah ada buktinya juga dan kau mengelak dengan meninggikan suaramu dihadapan ku, apa begini memang sifat aslimu, hahh!" Bentak Kellan kembali.
Zea masih diam mematung menahan sakit fisik dan hatinya dengan mencoba memahami situasi macam apa ini, sesungguhnya Zea masih bingung dengan ini semua. Ada apa ini sebenarnya.
"Kau tau, waktu aku diluar kota Ibuku menelfon ku, beliau meminta uang untuk belanja karna kau jarang memasak, dan kau sering memasak makanan yang Ibuku tidak makan, bahkan kau juga bermalas-malasan kan, ketika aku sedang tak ada dirumah sampai Ibuku harus mencuci bajunya sendiri. Kau baik dan rajin hanya ketika ada aku, bukan begitu sifat aslimu, hah!!" Lagi-lagi Kellan membentak Zea.
DEG.........
Zea pun kembali syok mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Kellan. Sungguh ini diluar dugaan Zea, omong kosong macam apa lagi ini.
"Kau percaya semua itu." Tanya Zea dengan lembut, menahan sesak didada dan air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.
"Baiklah, jika kau lebih percaya dengan semua yang dikatakan Ibu mu dari pada aku. Semua terserah padamu." Setelah mengatakan itu Zea pun menyambar tas dan ponselnya lalu pergi meninggal kan Kellan begitu saja.
Zea pun melangkah dengan gontai keluar dari rumah Kellan untuk menenangkan dirinya, Karna jika Zea masih ada didalam tentu tak akan bisa menghindari pertengkaran yang membuatnya muak, terlalu berat ini semua untuk nya. Memperdebatkan suatu hal yang tidak pernah dia lakukan tapi dia menjadi tersangka didalamnya, sungguh drama yang sangat menyakitkan, Mau heran tapi itulah kenyataannya.
Ibu Kellan yang melihat Zea keluar rumah dengan menangis pun menyunggingkan senyumannya.
"Berhasil, semoga dia tidak kembali lagi, tapi jika dia berani kembali lagi, berarti ini adalah awal untuk nya." Kata Ibu Kellan dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Zea pun terus melangkah tanpa tujuan, membawa seribu luka dan rasa kecewa begitu dalam. Kecewa dengan Suaminya, juga kecewa dengan keadaan dan ditemani dengan air mata yang masih setia membasah'i pipi mulusnya. Zea pun tetap terus melangkah dengan sesekali memejamkan matanya dan memukul-mukul dadanya akibat menahan sesak di dadanya, tanpa memperdulikan sekeliling nya yang tengah memandanginya.
Sepeninggalan Zea, Kellan pun mengusap wajahnya kasar dan meninju udara sembari berteriak. Dengan nafas memburu Kellan mencoba meluapkan amarahnya.
AAARRGGGGGGGG........
Kellan pun menghempaskan tubuhnya dengan kasar diatas sofa, dan meraup wajahnya kasar lalu mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Apa aku sudah keterlaluan?, Apa aku terlalu berlebihan menyikapi ini semua, tapi kamu yang semakin memancing emosiku Ze." Monolog Kellan yang mengingat-ingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Tap.....
Tap.......
Tap.......
Suara kaki melangkah dari luar, Kellan yang mendengar pun reflek menengok kearah suara.
"Kamu tidak keterlaluan Nak, dia pantas mendapatkan itu, bagaimana pun kamu itu kepala keluarga apapun kesalahan mu dia tidak berhak membentak mu seperti tadi." Kata Ibunya Kellan yang mencoba memperkeruh suasana, seraya masuk kedalam kamar Kellan dan mendudukkan dirinya disamping Kellan.
Ibu nya Kellan pun mengelus-elus punggung Anak nya itu dan kembali berucap.
"Kalau kamu tidak tegas nanti dia bisa ngelunjak Nak, dan melakukan hal lebih dari itu." Kata Ibu Kellan kembali masih dengan mode kompornya.
Kellan pun nampak berfikir mencerna semua perkataan dari sang Ibu, lalu menyimpulkan bahwa ada benarnya juga kata-kata sang Ibu andai tadi dia tak melakukan itu mungkin Istri nya akan melakukan hal lebih dari tadi.
__ADS_1
"Iya Ibu benar." Jawab Kellan dengan mengangguk-angguk kepalanya. Kellan pun berfikir untuk apa dia merasa bersalah toh yang dilakukan nya itu ada benar nya juga, bahwa dia harus tegas pada sang Istri.
Hari semakin larut malam, Kellan pun mondar-mandir diruang tamu menunggu kepulangan sang Istri, dengan mencoba menghubungi ponsel sang Istri. Namun, hasilnya nihil ponsel sang Istri ternyata tidak aktif. Kellan pun mencoba berulang kali namun, hasilnya tetap sama.