Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Penyesalan


__ADS_3

Tiba-tiba saja bayangan wajah Zea melintas di kepala Kellan namun, Kellan mencoba menepis dan mencoba memasukan lagi senjata rudal miliknya kedalam goa bersemak belukar milik Dania.


Tapi, lagi-lagi bayangan wajah Zea melintas di kepala Kellan dengan begitu jelas, membuat seketika senjata rudal Kellan yang sudah siap tempur itu tiba-tiba saja menciut seperti kerupuk kesiram air.


"Aaaaaaaaaa, sial!" Teriak umpatan dari Kellan yang merasa frustasi, Kellan lalu berlalu kekamar mandi meninggalkan Dania begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Braaakk.......


Kellan menutup pintu kamar mandi itu dengan sedikit keras karena menahan amarah.


Kellan lalu menyalakan shower dan memulai mengguyur tubuhnya guna menetralisir rasa yang sulit diartikan, satu sisi ia menginginkan pelepasan tapi disisi lain sirudal enggan melakukan nya dia sungguh dilema dibuat si rudal nya sendiri.


Diana yang merasa kesal pun mengacak kasar rambutnya.


AAARRGGGGGGGG.....


Bagaimana tidak kesal, Diana yang sudah mode on dan ingin menuntut lebih dari Kellan justru harus menelan kekecewaan padahal permainan belum menemui puncaknya, jangankan puncak setengah permainan saja belum sampai.


Padahal tinggal sedikit lagi rencana Diana berhasil namun, nyatanya ia harus menelan kegagalan itu kembali.


Selain kecewa, Diana juga merasa bingung sekaligus penasaran, kenapa tiba-tiba Kellan mengumpat dan pergi begitu saja meninggalkan nya.


Diana pun kini turun dari ranjangnya lalu memunguti dan memakai kembali bajunya tadi.


Lalu Diana mendudukkan dirinya diatas ranjang sambil menunggu Kellan keluar dari kamar mandi, sebab bagi Diana Kellan punya hutang penjelasan padanya.


Enak saja dia sudah membuat Diana on lalu meninggalkan begitu saja saat tinggal selangkah lagi berhasil membobol gawang tersebut.


Hampir satu jam Kellan berada dikamar mandi, lalu kini Kellan pun keluar dengan hanya melilitkan handuk sepinggang.


Diana pun kembali terpesona melihat tubuh sexy Kellan, kini gantian Diana lah yang dengan susah payah menelan slavinanya.


Glekkkkk......


Kellan pun berjalan menghampiri Diana dan berjongkok dihadapan Diana.


"Maaf, aku tak bermaksud sungguh." Lirih Kellan yang merasa bersalah pada Diana.

__ADS_1


"Tak apa, aku paham dimana posisiku." Diana berkata dengan memalingkan wajahnya kesembarang arah.


Dikota A.


Alvaro kini menjelaskan secara detail semua kejadian sewaktu di Swiss, alasan mengapa ia menutup semua akses tentangnya.


Zea pun mengerti dengan semua kejadian itu, kini Zea justru merasa bersalah dan menyesal ternyata fikirannya selama ini terhadap Alvaro salah besar.


Tapi, sebesar apapun rasa bersalah dan penyesalan Zea namun, itu semua kini sudah tidak ada gunanya.


Nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana cara kita untuk menikmati bubur tersebut.


"Maaf." Lirih Zea dengan menitikan kembali air matanya.


Entah perasaan apa yang Zea rasakan saat ini, Zea pun cukup bingung apakah ini adalah rasa yang belum selesai? Entahlah hanya hati Zea yang tau jawabannya.


"Sudahlah, kita tak usah membahas itu lagi. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara agar kamu bahagia, aku nggak rela jika harus melihat mu menderita. Cukup aku saja yang menderita kehilangan mu, kamu harus bahagia tapi jika tidak bisa maka aku tidak segan-segan akan merebut mu kembali, itu janjiku." Ucap Alvaro tegas dihadapan Zea.


"Sekarang jawab kakak, apa kamu bahagia?" Sambung Alvaro kembali dengan menggenggam tangan Zea dan menatap wajah Zea.


"Entahlah kak, aku sendiri bingung." Mendengar jawaban dari Zea, Alvaro mencoba mencari jawaban lain lewat sorot bola matanya namun sialnya selain kebimbangan Alvaro tak dapat menemukan jawaban lain.


Tapi, disisi lain Alvaro juga bangga pada pujaan hatinya itu, karena Zea mampu melewati ini semua sendiri dan bisa menyembunyikan semua ini dari kedua orang tua nya.


Zea juga mampu membangga-banggakan suami dan mertuanya dihadapan kedua orang tuanya, yang jelas-jelas itu bertolak belakang dari kenyataan nya.


Tapi disisi lain Alvaro juga sangat terluka melihat orang yang dia sayang disakiti hati juga fisiknya, dikhianati, dan diperlakukan tidak adil oleh mertua dan suaminya sendiri.


"Tenang lah, kakak pasti akan membantu mu." Sebener nya jika menuruti keinginan Alvaro, Alvaro ingin saat ini juga membawa pergi pujaan hatinya itu.


Melepaskan Zea dari suami yang tidak bisa bersyukur telah memiliki Zea namun, semua itu Alvaro urungkan sebab Alvaro ingin mengumpulkan cukup bukti agar Zea tak ada ragu sedikitpun untuk meninggal laki-laki yang tak pantas dicintai oleh Zea menurut Alvaro.


"Ya sudah, sekarang kamu masuk lalu istirahat kakak mau pulang dulu ya." Ada rasa terbesit tak rela saat Alvaro berpamitan akan pulang namun, dengan cepat Zea menepis rasa Itu.


"Baiklah, terimakasih kak untuk hari ini. kakak hati-hati ya." Jawab Zea yang langsung membuat Alvaro tersenyum bahagia.


Padahal kata-kata itu wajarkan untuk diucapkan walaupun kita tak memiliki hubungan spesial. Namun, entah kenapa kata-kata itu mampu membuat Alvaro merasa bahagia dan menjadi hal special baginya.

__ADS_1


Mungkin memang lebay kedengarannya tapi, itulah kenyataannya. Mungkin karena cintanya Alvaro begitu besar lah yang membuat itu terjadi.


Alvaro mengacak rambut Zea sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Zea, dan dengan tersenyum yang dipaksakan dari Zea mengiringi kepergian Alvaro.


Kini, Alvaro benar-benar telah pergi Zea pun menuruti perintah Alvaro, ia langsung masuk dan beristirahat tak perduli jika waktu menunjukan akan segera malam.


Zea butuh untuk istirahat sejenak akan menenangkan hati dan pikiran nya.


Zea sesungguhnya sangat lelah atas sikap Ibu mertuanya itu, tapi tak ada apapun yang bisa Zea lakukan mengadu pada sang suami juga itu artinya hanya akan menambah masalah baru.


Jika mengadu kepada kedua orang tuanya, sudah dipastikan hubungannya dengan Kellan akan selesai begitu saja.


Zea pun kini, membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu perlahan memejamkan matanya sampai akhirnya ia terlelap dengan nyenyaknya.


Melepas sejenak beban pikiran yang menguras emosi dan air mata.


Dirumah mewah bak Istana yang memiliki dua lantai yang didisain khusus untuk pujaan hatinya namun, sayangnya itu sia-sia terdapat seseorang yang tengah duduk dengan menaikan kakinya dimeja meraup wajahnya kasar.


Aaarggggggg.......


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, merebutnya saat ini itu salah sebab Zea belum mau pergi, tapi aku tidak bisa melihatnya terluka lebih lama lagi." Lirih Alvaro merasa bersalah atas kejadian beberapa tahun silam, andaikan ia tak datang terlambat waktu itu, ia dapat memastikan bahwa Zea tak akan mengalami hal seperti ini.


Ditengah lamunannya tiba-tiba saja pintu ruang kerja Alvaro ada yang mengetuk dari luar.


Tok.......


Tok........


Tok........


"Masuk." Ucap Alvaro dingin.


"Permisi tuan, saya hanya ingin menyampaikan informasi penting, informasi tersebut sudah saya kirimkan ke alamat Email pribadi tuan muda." Ternyata yang mengetuk adalah asisten pribadi Alvaro yang ingin menyampaikan laporan penting.


Alvaro yang penasaran pun langsung membuka laptopnya lalu mengecek Email nya untuk melihat laporan apa yang dikirimkan asisten pribadinya.


Setelah dibuka Alvaro sukses membulatkan bola matanya, rahang Alvaro pun kini mulai mengeras menandakan ia sangat murka lalu dengan tangan mengepal Alvaro memukul kan tangannya diatas meja.

__ADS_1


Braaakkkkkkk.........


"Brengsek....."


__ADS_2