Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Telah berakhir


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap, ini akan menyakitkan." Alvaro mencoba meyakinkan Zea, apakah benar-benar sudah siap.


Sebenarnya Alvaro sedikit ragu, tapi dia juga tidak ada pilihan lain. Dia yakin rencana asisten nya itu pasti yang terbaik untuk Zea.


Zea hanya mengangguk kan kepalanya tanda setuju, sebab dia memang sudah sangat penasaran apa sebenarnya yang akan diperlihatkan untuk nya itu.


Alvaro lalu benar-benar membuka file tersebut dan mulai memutar video hasil rekaman kamera tersembunyi nya.


Didetik menuju menit pertama video itu diputar, darah Zea berdesir panas, tubuhnya gemetar, lemas, Zea kini merasa nyawanya tengah terbang tak berada didalam tubuhnya.


Air mata lolos begitu saja tanpa permisi namun, tatapannya kosong. Diam tak bergerak sedikit pun, matanya pun tak berkedip walau hanya sedetik saja.


Hancur, dunia Zea saat ini hancur berkeping-keping bagaikan butiran debu.


Seseorang yang dia sangat cinta dan selalu dia bangga-bangga kan didepan kedua orang tuanya kini berkhianat.


Mungkin jika hanya menjalin hubungan dia masih bisa maafkan, tapi kali ini tak ada kata maaf untuk kesekian kalinya lagi bagi Kellan.


Cinta yang begitu besar untuk Kellan perdetik itu juga kini runtuh begitu saja seiring air matanya yang juga lolos begitu saja.


Alvaro hanya diam tak berani bicara apa pun sampai video itu benar-benar selesai diputar.


Setelah video itu selesai diputar, Zea pun masih tetap sama, hanya diam.


"Menangis lah." Alvaro menarik Zea agar masuk kedalam pelukannya.


Lalu Zea menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Alvaro dengan memukul-mukul punggung Alvaro.


Alvaro membiarkan apapun yang dilakukan Zea saat ini, dia pun semakin mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengelus kepalanya.


Dirasa Zea sudah cukup tenang, Alvaro pun perlahan melerai pelukan tersebut.


"Hey, dengar kakak." Kata Alvaro dengan menarik dagu Zea agar menghadapnya.


"Kamu harus kuat, ada kakak." Lanjut Alvaro.


"Dari mana kakak mendapatkan video itu." Tanya Zea dengan ragu dan suara lembut sampai Alvaro hampir tak dapat mendengar.


"Hubungkan laptop ku kekamera itu sekarang." Titah Alvaro tegas pada sang asisten.


"Baik Tuan." Shaka pun langsung melaksanakan perintah sang bos.


Kini laptop Alvaro sudah terkoneksi dengan kamera tersembunyi yang sengaja dia pasang secara diam-diam diapartemen Diana.

__ADS_1


"Kakak menyuruh anak buah kakak untuk diam-diam memasang kamera didalam apartemen kekasih Suamimu, dan ini hasilnya." Terang Alvaro pada Zea, lalu memutar laptopnya lagi kembali menghadap Zea.


Kini mereka berdua dapat melihat dengan live apa yang terjadi didalam apartemen yang terdapat dua sepasang kekasih itu.


Kellan dan Diana kini masih terlelap dengan posisi saling berpelukan, kelelahan akibat pertempuran dahsyat nya semalam yang terjadi beberapa ronde.


"Coba kamu telfon suamimu." Saran Alvaro kepada Zea, yang langsung mendapat anggukan kepala dari Zea.


Beberapa kali Zea menelfon namun, belum juga diangkat oleh Kellan hingga telfon Zea yang kesekian kalinya barulah Kellan terbangun dan meraba-raba mencari keberadaan ponselnya.


Setelah ketemu, Kellan melihat siapa yang menelfon terlebih dahulu sebelum menerima panggilan tersebut.


"Halo sayang." Sapa Kellan saat sudah menerima panggilan tersebut.


"Kamu sedang apa Mas?" Tanya Zea datar.


"Aku baru bangun sayang, soalnya semalam aku lembur."


"Lembur!" Zea sengaja mengulang kata lembur.


"Iya sayang, aku mendapat kerjaan cukup banyak dari kantor makanya sampai lembur-lembur begini, ini juga kemungkinan besar aku dua Minggu disini." Setelah Kellan mengatakan hal itu, Zea langsung saja mematikan panggilan telefon tersebut secara sepihak.


Kellan pun mengernyitkan keningnya karena heran tak biasanya Istrinya melakukan hal itu.


Kecewa, tentu saja Zea kecewa bahkan lebih dari itu. Menurut Zea hubungan rumah tangga yang dia bina dengan penuh perjuangan bersama Kellan hampir tiga tahun belakangan ini, selesai perdetik ini juga.


"Sssstttttt, berhenti lah menangis jangan kamu buang sia-sia air mata berharga mu ini hemmm." Kata Alvaro dengan kembali memeluk Zea.


Alvaro melerai pelukannya lalu menghapus air mata Zea dengan lembut.


Alvaro berdiri dan menarik Zea untuk ikut dengannya, Zea pun hanya menurut. mereka pun keluar dari ruangan private room tersebut menuju mobil Alvaro dan meninggalkan sang asisten begitu saja.


Shaka pun hanya menghela nafas berat, meratapi nasibnya yang kembali tak dianggap ada dan ditinggalkan begitu saja.


Lalu Shaka pun mengurus semuanya dan ikut pergi namun, bukan menyusul bosnya melainkan pergi ke perusahaan untuk mengurus kerjaan bosnya yang dapat dipastikan akan terbengkalai jika dibiarkan.


Hening, itulah yang terjadi didalam mobil yang dikendarai Alvaro dan Zea.


Alvaro fokus dengan menyetirnya selain itu memang dia sengaja memberi ruang untuk Zea merenungi semua yang terjadi kini.


Zea membuang pandangannya keluar jendela, tenggelam dalam fikirannya yang tengah kacau, sekacau-kacaunya.


Dia tidak menyangka hubungan nya dengan Kellan harus selesai dengan cara seperti ini.

__ADS_1


Rumah tangga yang sejahtera dan harmonis yang dia inginkan harus kandas begitu saja karena adanya orang ketiga.


Zea merasa ini tak adil untuk nya namun, mau bagaimana lagi dia juga tak dapat merubah takdir yang sudah ditetapkan untuk nya.


Harapan memiliki sang buah hati dan membangun keluarga kecil yang bahagia pun kini musnah sudah.


Begitu banyak kesalahan yang Kellan lakukan bahkan sampai melakukan kekerasan pun masih dia maafkan, namun untuk kali ini dia tak bisa.


Ini terlalu menyakitkan untuknya, dan ini kesalahan yang sangat fatal hingga Zea tak dapat menerima nya.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh kini tempat yang dituju Alvaro telah sampai.


Alvaro kini turun dari dalam mobil lalu membuka kan pintu mobil untuk Zea, Zea pun turun dari mobil dengan di bantu oleh Alvaro.


Zea masih dalam mode diam menurut saja kemana Alvaro akan membawanya, hingga kini telah sampai diatas puncak bukit.


"Kenapa kita kesini kak, apa kakak menyuruh ku bunuh diri." Pertanyaan Zea yang langsung mendapatkan sentilan tepat dikenangnya.


Pletaakkkkkk........


"Auwwwwhhh." Zea mengadu kesakitan dengan memegangi keningnya yang habis disentil oleh Alvaro.


"Suruh siapa kamu bicara asal." Sewot Alvaro dengan memanyunkan bibirnya.


"Kakak sengaja ngajak kamu kesini agar kamu bisa berteriak sekencang mungkin melepaskan semua beban yang ada." Terang Alvaro dengan langsung mempraktekkan nya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa."


"Aaaaaaaaaaaaaaaa." Dan begitu seterusnya bersautan hingga mereka merasa plong dan lelah.


"Setelah kamu lepas dari nya, aku akan pastikan tidak ada lagi air mata yang jatuh kecuali air mata kebahagiaan." Monolog Alvaro dalam hati.


"*Aku tidak pernah menyesal karena sudah mencintai seseorang dengan begitu tulus. Justru sebaliknya, aku bangga pada diri ku sendiri karena aku telah bisa cukup hanya dengan satu orang untuk aku cintai. Walaupun pada akhirnya aku kalah."


"Tuhan, atur saja jalan kedepan nya, mana yang terbaik menurut versi mu aku pasrah. Aku tidak sedang putus asa, hanya saja aku sudah lelah. Kemarin-kemarin kemudi masih bisa aku kendalikan, tapi sekarang aku sudah kehilangan keseimbangan. Saat ini sepertinya tenaga ku sudah hilang, terserah ombak akan membawa kapal ini berlabuh kemana?


aku pasrah."


"Aku menangis bukan karena tidak bisa meluapkan emosiku, tapi aku menangis karena betapa luar biasanya rasa yang ku dapatkan saat ini. aku berusaha menahan segala untuk belajar sabar, dan ikhlas saat amarah diatas puncak. Kesediaan yang paling sedih adalah kesedihan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata sedikit pun."


"Ada sakit yang tak bisa dijelaskan.


Ada kecewa yang tidak bisa diungkapkan.

__ADS_1


Ikhlas itu bohong, yang ada hanyalah rapuh, kecewa, terpaksa lalu terbiasa."


"Cepatlah sembuh wahai hati yang rapuh." Monolog Zea dalam hati*.


__ADS_2