
"Masakan apa ini Bu, Ibu sengaja ya!" Ucap Diana setelah menyembuhkan makanan tersebut dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Membuat Ibu Syafana dan Ayah Rama kaget, pasalnya selama ini Diana tak pernah melakukan hal-hal seperti saat ini.
"Dasar menantu kurang ajar, sialan, untung kaya." Batin Ibu Syafana dalam hati.
"Memang masakan Ibu kenapa Nak, biasanya kamu makan enggak kenapa-kenapa tuh." Jawab Ibu Syafana dengan menahan emosinya agar tak kelepasan dihadapan menantu kesayangan nya itu.
"Ini rasanya aneh Bu, mana asin banget lagi Ibu mau bikin aku darah tinggi apa?" Sewot Diana semakin menjadi-jadi.
Saat Ibu Syafana mulai semakin terpancing emosi, Ayah Rama pun menggenggam tangan Istrinya.
"Sabar Bu, mungkin ini efek dari kehamilan nya." Bisik Ayah Rama pada Ibu Syafana.
Ibu Syafana pun mengurungkan niatnya yang ingin memarahi balik Diana.
"Hisssss, membuat selera makan ku hilang saja." Setelah mengatakan itu, Diana pun lalu berdiri dan melangkahkan menuju kamarnya.
"Ini semua gara-gara Kellan, pasti Diana begitu karena efek kesal pada Kellan juga." Ucap Ibu Syafana mencoba meyakinkan dirinya.
Lalu mereka berdua pun melanjutkan kembali makan malam yang tertunda sebab ada drama kecil yang Diana buat.
Tak selang berapa lama pun tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
Tok......
Tok.......
"Yah, bukain dong pintunya, Ibu cape." Ayah Rama pun bergegas membukakan pintu tersebut.
Tak lama kemudian Ayah Rama pun masuk dengan menenteng sebuah box makanan.
"Ini Bu, kamu Anter kekamarnya saja." Kata Ayah Rama dengan memberikan box itu kepada Istrinya.
"Apa ini Yah?" Tanya Ibu Syafana bingung.
"Makanan yang dipesan Diana lewat ojek online Bu." Ibu Syafana pun lalu mengambil box tersebut dan berjalan menghantarkan kekamar Diana.
__ADS_1
"Nak, ini pesanan makanan mu." Ibu Syafana pun mengulurkan box itu kepada Diana.
"Ibu ini gimana sih, harusnya kan Ibu pindahin dulu makanannya kedalam piring baru bawa kesini." Tegur Diana yang lagi-lagi dengan nada tak bersahabat.
Dengan menahan kesal Ibu Syafana pun langsung keluar dari dalam kamar Diana dan membawa kembali box makanan tersebut.
Setelah selesai memindahkan isi makan tersebut, Ibu Syafana pun kembali lagi mengantar makan itu kedalam kamar Diana.
"Ini Nak, sudah Ibu pindahkan. Sekarang makan ya." Ujar Ibu Syafana dengan lembut namun, menahan kekesalannya.
Diana pun lalu mengambil piring yang dibawa Ibu Syafana lalu mulai menyuapkan makanan tersebut.
Tiba-tiba saat Diana makan pun tanpa sengaja dia tersedak.
"Uhuuuk, uhuuuuk."
"Minum Bu, minum."
Ibu Syafana pun langsung berlari menuju dapur untuk mengambil air minum untuk Diana.
Setelah sampai dikamar, beliau pun kini kembali disemprot oleh menantunya itu.
"Iya, maaf ya Nak, Ibu lupa." Ucap Ibu Syafana.
"Ya sudah, Ibu keluar gih, ganggu nafsu makan aku." Ingin rasanya Ibu Syafana menampar mulut Diana saat ini juga namun, beliau sadar Dian adalah mesin ATM berjalan nanti, jadi apapun yang Diana lakukan beliau hanya bisa sabar dan menahan diri.
Disuatu tempat yang sangat indah duduklah dua orang manusia berbeda jenis namun tanpa status yang jelas dia adalah Zea dan Alvaro.
"Kak, gimana nasib anak ku kelak?" Lirih Zea yang kini menyenderkan kepalanya di bahu Alvaro.
"Kamu tenang saja Ze, kakak akan menjamin masa depannya kelak. Jangan pikirkan itu." Ujar Alvaro yakin.
"Bukan materi maksud aku Kak." Ucap Zea yang kini sudah menatap wajah Alvaro.
"Kakak tau apa yang kamu maksud Ze, kamu jangan khawatir ya. Meskipun kakak bukan Ayah biologis nya, tetapi kakak akan tetap menganggapnya sebagai anak ku sendiri." Kata Alvaro, meyakinkan Zea bahwa dia bersungguh-sungguh atas ucapannya.
"Kamu tenang saja, setelah kamu melahirkan kakak akan langsung menikahi mu agar dia tidak akan pernah kehilangan sosok vigur seorang Ayah." Sambung Alvaro dengan mengusap perut Zea.
__ADS_1
"Tapi aku sedang hamil kak, apa aku bisa bercerai saat ini, dan apa kata tetangga nanti kak." Kecemasan Zea, yang hanya ditanggapi santai oleh Alvaro.
"Sudah, jangan pikirkan apapun itu, kamu tau beres dan fokus pada kehamilan mu saja." Ucap Alvaro dengan mengelus pucuk kepala Zea.
"Kakak janji Ze, kakak akan menggantikan sosok Kellan sepenuhnya dalam hidup mu dan anakmu nanti." Monolog Alvaro dalam hati.
Lalu Zea pun kembali menyender kan kepalanya di bahu Alvaro dan merekapun kembali menikmati betapa indahnya bintang bulan diatas langit malam ini.
Dibawah langit yang sama namun, beda keadaan. Jika Zea kini tengah menikmati malam namun, berbeda dengan Kellan. Kellan kini tengah gelisah mencari keberadaan Zea kesana kemari tapi tak jua dia temukan.
Hanya tinggal satu tempat yang belum Kellan datangi, yaitu kampung halaman Zea.
Tapi untuk kesana pun Kellan tak cukup keberanian, sebab dia takut betapa murkanya kedua mertuanya saat tau apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka saat ini.
Tapi disisi lain dia pun tak ada pilihan lain, hanya itu satu-satunya tempat kemungkinan terbesar Zea ada disana.
Disela-sela lamunannya tiba-tiba ponsel Kellan berbunyi, dia pun tersenyum berharap Zea yang menelfon.
Setelah dilihat siapa yang menelfon, senyuman dibibir Kellan pun pudar seketika.
Dia pun mencoba mengabaikan panggilan tersebut namun, lagi-lagi ponsel itu berbunyi bahkan berkali-kali.
Kellan pun mau tak mau harus menerima panggilan tersebut, karena jika tidak diangkat ponselnya akan terus-menerus berbunyi. Jika mau dinonaktifkan pun di tak bisa, sebab dia taku jika Zea nanti tiba-tiba menghubungi nya.
"Halo, ada apa Di?" Ucap Kellan saat sambungan telfon itu tersambung.
"Mas, kamu dimana?" Tanya Diana dengan manja.
"Kan tadi Mas sudah bilang, empat hari aku akan bersama Zea." Ujar Kellan memberi pengertian pada Istri keduanya itu.
"Mas, aku lagi hamil loh, aku butuh kamu ada disisi aku. lagian Zea kan sehat dan sedang tidak hamil jadi tidak ada salahnya kan jika kamu lebih banyak dengan ku dulu." Pinta Diana merayu Kellan. Namun, yang dirayu justru malah semakin pusing tuju keliling dibuat keadaan.
"Maaf Di, kali ini aku enggak bisa." Lalu Kellan pun mematikan sambungan telefon tersebut secara sepihak.
Dia pun memijat-mijat kepalanya yang terasa berdenyut dengan menggunakan sebelah tangannya.
Sungguh pusing Kellan dibuat oleh keadaan saat ini. Disatu sisi dia harus mencari Zea, disisi lain dia juga takut jika sewaktu-waktu Diana yang sedang hamil membutuhkan nya.
__ADS_1
"Bbbrrrruuuukkkkkkk."