
"Ku mohon keluar." Lirih Zea dengan sudah bercucuran air mata, dia tak mampu lagi membendung nya ini terlalu sakit untuk nya.
Kellan lalu perlahan melangkah keluar kamar dengan ragu, dia mendudukkan dirinya disofa dengan mengacak rambutnya frustasi.
Ini semua pasti terjadi namun, Kellan tak menyangka jika harus dengan cara seperti ini dan secepat ini.
Ada rasa penyesalan dan takut kehilangan Istrinya namun, semua itu tiada guna. Semua sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana kellan harus mau tak mau menikmati nya.
"Aaarrgghhhhhhh." Teriak Kellan merutuki kebodohan nya.
"Kamu bodoh Kellan sangat bodoh, sekarang bagaimana jika Zea benar-benar akan meninggalkan kamu!" Teriak Kellan kembali dengan meraup wajahnya kasar.
Kellan menyesal telah berani bermain api, tapi tidak dipungkiri bahwa dia terjebak di situasi ini. Terjebak dalam cinta segitiga, dia mencintai dua wanita sekaligus dan sama-sama memiliki rasa takut kehilangan dan juga rasa ingin memiliki keduanya.
"Aku kuat, tapi aku cape." Lirih Zea dengan menangis sejadi-jadinya.
"Kak Varo tolong." Disela-sela Zea terisak dia mengingat Alvaro sebab memang hanya Dialah mode bosternya selama ini.
Sebab Alvaro lah Zea tau semuanya, juga karena dia lah Zea kuat mengahadapi ini semua.
Jika tak ada Alvaro entah bagaimana Zea saat ini, saat dia tau bahwa Suaminya ternyata telah berkhianat di belakangnya.
Disebuah gedung pencakar langit, terdapat dua laki-laki tampan, nampak sedang mengobrol.
"Apa yang terjadi." Tanya Alvaro kepada sang asisten.
"Hari ini, Ibu mertua nona Zea datang menemui nona Zea tapi---" Shaka nampak sedikit ragu untuk memberi laporan tersebut sebab, takut kalau sang bos murka.
"Katakan." Mau tak mau Shaka harus mengatakan sebab, mau seperti apapun dia mencoba menutupi toh bosnya juga akan tau.
"Mertua nona Zea datang dengan membawa kekasih Kellan, dan laporan yang saya terima Ibu mertua nya sudah membongkar semuanya dihadapan nona Zea, Tuan." Sambung Shaka menjelaskan apa yang telah terjadi dikediaman Zea tadi.
"Brengsek." Umpat Alvaro, dia sangat khawatir dengan kondisi Zea saat ini, karena mau bagaimana pun tidak mungkin jika Zea saat ini akan baik-baik saja atas apa yang terjadi saat ini.
Namun, Alvaro juga tak dapat bergerak gegabah sebab, dia harus sadar posisinya saat ini.
__ADS_1
Beberapa Minggu telah berlalu, Diana masih saja selalu mendesak Kellan agar sesegera mungkin mereka harus menikah.
Kellan merasa sangat pusing dibuatnya, disatu sisi dia tidak bisa menolak Diana, disisi lain hubungannya dengan Zea sangat-sangat sedang tidak baik.
Bagaimana caranya untuk Kellan meminta persetujuan Zea untuk menikah lagi jika keadaan masih buruk seperti ini namun, Diana pun tak mau tahu akan hal itu.
Seperti habis mendapat dorongan nyali besar Kellan mencoba memberanikan diri membuka suara berbicara dengan Zea.
"Sayang, Mas tau ini sangat menyakitkan untuk mu. Tapi, aku tak ada pilihan lain." Kellan sengaja menjeda ucapannya untuk menarik nafas dalam-dalam.
"Aku akan menikahi Diana secepatnya." Lanjut Kellan kembali, dengan lagi-lagi mematahkan berkeping-keping hati Zea.
Jedarrrrrrrr............
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, ketika Zea mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Suami tercintanya itu.
Walaupun Zea sudah tau ini akan terjadi, tapi tetap saja pernyataan yang langsung didepannya nampak bagaikan sengatan listrik untuk nya.
"Ya, menikahlah." Jawab Zea dengan sesantai mungkin, dia tak mau lagi menunjukkan kelemahan nya dihadapan siapapun kecuali Alvaro.
Kellan sempat terkejut mendengar jawaban dari Istrinya, pertanda apa ini kenapa Zea tidak berkomentar apapun justru malah dia langsung setuju begitu saja tanpa adanya perdebatan terlebih dahulu.
"K---kamu serius." Tanya Kellan tak percaya atas jawaban Zea.
"Memangnya kalau aku tidak setuju itu akan merubah semuanya, tidak kan. Apapun jawaban ku kalian akan tetap menikahkan." Zea sungguh muak dengan ini semua tapi dia harus tahan sampai waktunya tiba.
Kellan seperti tertampar oleh perkataan yang Zea keluar kan dari bibirnya. Bibir yang biasanya hanya mengeluarkan kata manis namun sekarang itu semua sudah tidak ada lagi.
Disela-sela saat Kellan ingin kembali bicara namun, ponselnya tiba-tiba saja berdering.
Lalu Kellan pun menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya, halo ada apa Di?" Tanya Kellan saat sudah menerima panggilan tersebut.
"Mas cepat lah kemari, aku nggak enak badan." Rengek Diana dengan manja.
__ADS_1
"Kamu sakit, baiklah tunggu Mas ya Mas akan segera kesitu." Kellan nampak panik setelah mendengar keadaan Diana.
Kellan langsung menyambar kunci mobilnya. "Sayang, Mas harus pergi menemui Diana, dia sakit." Kellan mencium kening Zea lalu pergi begitu saja.
Tiba-tiba saja air mata Zea jatuh begitu saja tanpa permisi. Sakit, tentu saja Istri mana yang takkan merasa sakit jika ada diposisi Zea saat ini.
Untung saja masih ada masa lalunya yang menjadi team support nya dan selalu ada juga selalu membantu nya.
Memberi nya sebuah kekuatan, bahwa kita tidak boleh lemah menghadapi beban hidup. Yakin kita akan mampu menjalani ini semua dengan baik.
Kini giliran ponsel Zea yang berbunyi membuyarkan lamunannya.
"Are you okay." Suara Alvaro saat panggilan kini sudah tersambung.
"Yes, Iam okay." Jawab Zea dengan memaksakan senyumnya walaupun Alvaro tak akan mengetahui sebab mereka hanya melakukan panggilan telepon biasa bukan video call.
"Tidak usah berpura-pura dihadapan ku, hemm." Suara lembut Alvaro yang mampu membuat Zea merasa nyaman dari dulu.
Sikap Alvaro yang tak berubah dari dulu ternyata mampu membangun kan kembali sinyal-sinyal dihati Zea namun, Zea sadar betul siapa dia saat ini.
Dia cukup sadar diri, bahwa dirinya kini tak pantas lagi bersanding dengan Alvaro.
"Sungguh kak, aku baik-baik saja." Kata Zea mencoba meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa walaupun dia tau itu hanya sia-sia. Sebab Alvaro tak akan percaya dengan hal itu.
Kellan kini sudah sampai dikediaman Ibunya, sebab Diana memang tinggal disana semenjak Diana sudah dikenalkan Kellan pada keluarganya.
Lalu Kellan pun buru-buru masuk kedalam kamar nya, kamar dimana dulu dia dan Zea tidur. Kini kamar tersebut berganti menjadi kamar Diana.
Aneh tapi nyata, ya begitulah Diana yang sangat terobsesi ingin memiliki Kellan hingga menghalalkan berbagai cara, hingga dia lupa telah menyakiti dan menghancurkan hati seorang wanita yang sama seperti nya.
Kellan langsung menghampiri Diana yang terbaring diatas ranjang dengan selimut tebalnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Kellan panik dengan mengecek suhu badan Diana.
"Kita kerumah sakit ya." Tak menunggu jawaban dari Diana Kellan pun langsung menggendong Diana ala bridal style.
__ADS_1
"Hoooeeeeekkkkk."