Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Apa dia jodohku


__ADS_3

Setelah Kellan sukses mendaratkan satu tamparan keras pada wajah Istrinya, Kellan lalu berlalu pergi kekamar mandi meninggalkan Zea begitu saja tanpa rasa bersalah.


Zea memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu, dia begitu syok Kellan bisa melakukan hal itu lagi.


Zea pun melangkah lalu mendudukkan dirinya diatas kasur dengan masih memegang'i pipi mulusnya yang terasa panas namun, juga sedang dibanjiri pula dengan air matanya.


Selang beberapa menit kini Kellan telah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dibagian pinggang. Kellan lalu membuka lemari dan mencari baju ganti untuk nya.


"Sudah lah Ze, kenapa kamu menjadi cengeng sekali, sedikit-sedikit nangis." Ucap Kellan yang tak dihiraukan oleh Zea.


"Diam lah Ze! jangan buat aku menyesal karena telah memilih mu dari pada ibuku. Kau tau aku telah Berkorban banyak untuk mu, aku meninggalkan keluarga ku demi dirimu apa itu masih kurang untuk mu. Tapi kenyataannya sampai saat ini kau belum juga bisa memberikan aku keturunan." Ucap Kellan lalu pergi keluar kamar meninggalkan Zea yang tengah terisak.


Luka Zea kini bertambah Kellan mulai membahas masalah anak yang memang Zea belum bisa dapatkan.


"Apa begini Mas sifat aslimu, kau menampar ku dua kali dalam kasus yang sama, sama-sama aku tidak bersalah." Lirih Zea dengan terisak-isak.


Zea yang tengah terisak itu mengambil foto Ayah dan Bundanya yang ada diatas nakas.


"Yah, Bun, apa yang harus Zea lakukan? apa Zea harus bertahan atau mundur perlahan." Zea sungguh dilema harus bagaimana menyikapi ini semua.


Selang beberapa jam Kellan masuk kedalam kamar lalu baring disamping Zea, Zea langsung merubah posisi tidurnya menjadi miring memunggungi Kellan.


Hening, diantara mereka berdua tak ada yang membuka suara. Kellan yang nampak terlihat cuek dan tak merasa bersalah dan Zea yang sedang kalut dalam pikiran nya harus bagaimana kedepan nya.


Sampai keesokan paginya semua masih sama tak ada yang membuka suara baik dari Kellan ataupun Zea. Namun, Zea masih tetap menjalankan semua tugasnya dengan baik.


Setelah semua beres, Zea pun segera membersihkan diri. Setelah selesai Zea mengganti pakaian lalu merias wajahnya.


Kellan yang merasa neh pun bertanya-tanya pasalnya Istrinya ini tak pernah berpenampilan rapi dan tak pernah merias wajah jika ada dirumah lalu ini kenapa dia melakukan itu.


Apa dia mau pergi? namun, jika benar mau pergi dengan siapa dan kemana? begitu isi kepala Kellan saat ini namun, untuk bertanya dia pun enggan karena gengsi jika harus dia lebih dulu membuka suara.


Setelah selesai Zea mengambil tas dan ponselnya lalu pergi begitu saja tanpa pamit pada Kellan.


"Ternyata benar dia mau pergi, oh jadi begini ya, sudah berani pergi tanpa meminta izin dariku." Gumam Kellan dalam hati saat melihat Istrinya melenggang pergi begitu saja tanpa permisi.


Zea pergi begitu saja tanpa meminta izin kepada Kellan. Zea lalu membuka ponselnya dan menelfon sahabatnya untuk diajak menemaninya kedokter kandungan.


Tut........


"Iya Ze, Loe sudah dimana?" Tanya Jihan diseberang telepon sana.

__ADS_1


"Gue sudah jalan keluar rumah mencari taxi, kita mau ketemu dimana?"


"Baiklah kita langsung bertemu dirumah sakit aja oke."


"Oke." Setelah itu Zea pun mematikan panggilan telefon itu lalu menyetop salah satu taxi.


Taxi pun berhenti dan Zea langsung masuk. "Kerumah sakit K ya pak" Ucap Zea pada sang sopir ketika sudah masuk kedalam taxi.


"Baik Bu." Sang sopir pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit K.


Selang beberapa menit akhirnya Zea sampai, Zea pun langsung membayar dan keluar dari taxi mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Nah itu Jihan, Jihan!" Panggil Zea pada Jihan dengan berteriak lalu melambaikan tangannya dan berlari.


Jihan yang juga melihat sahabatnya itu ikut melambaikan tangan nya dengan tersenyum.


Zea yang tengah lari itu pun tak sengaja menabrak seseorang, hadeh seperti nya Zea ini hobi sekali ya main tabrak-tabrakan.


BRUUK .....


Kali ini tak ada adegan pandang-pandangan ya.


"Ternyata Anda hobi sekali ya menabrak saya." Ucap laki-laki itu.


"Maaf tuan saya tidak sengaja." Ucap Zea seraya nyengir kuda dan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Baiklah." Setelah mengucapkan itu laki-laki itu pun berlalu pergi meninggalkan Zea begitu saja.


"Bertemu lagi dan dia menabrak ku lagi, apa ini pertanda bahwa aku jodoh dengannya, apa ini bertanda yang tuhan berikan agar aku harus segera merebutnya dari laki-laki sialan itu." Gumam laki-laki itu dalam hati seraya tersenyum tipis.


"Siapa Ze?" Tanya Jihan pada Zea.


"Ntahlah gue nggc kenal, tapi dua kali gue ketemu sama dia dua kali pula gue nabrak dia." Zea seraya tersenyum mengingat pertemuan nya dengan laki-laki itu.


Jihan yang tak tau jika Sahabatnya ini sedang ada masalah didalam rumah tangganya pun tak terima jika sahabat nya itu kini tengah memikirkan laki-laki lain selain suaminya.


Jihan pun menonyor kepala Zea agar Zea sadar dari pikiran gilanya itu.


"Woy inget laki dirumah." Zea pun hanya memutar bola matanya malas.


Zea pun lalu menggandeng tangan sahabatnya itu berjalan masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Loe udah daftarin gue kan?" Tanya Zea disela-sela langkah kaki mereka.


"Iya udah gue daftarin online tadi pagi." Jawab Jihan.


Setelah mengkonfirmasi pada petugas kini Zea dan Jihan disuruh menunggu karena belum sampai dinomor antrian mereka.


"Kok gue deg-degan ya Ji bagaimana jika hasilnya." Lirih Zea, Zea benar-benar takut karena pernikahan nya berjalan hampir 2tahun tapi belum ada tanda-tanda ia akan hamil.


"Stttttts, jangan ngomong kayak gitu omongan adalah doa begitu juga dengan pikiran jadi Loe pikirin yang baik-baik aja dan ngomong juga harus yang baik-baik aja, positif tingking oke." Ucap Jihan yang mencoba memberi semangat pada sahabatnya.


Zea tak menjawab dia hanya mengangguk kan kepala pelan, seraya tersenyum getir ragu pada dirinya sendiri.


Selang beberapa jam mereka menunggu, kini giliran nama Zea yang dipanggil oleh suster yang berjaga.


"Ibu Ghazea Azhagar." Panggil suster tersebut.


Zea yang merasa namanya sudah dipanggil pun berdiri dan melangkahkan keruangan pemeriksaan.


Zea terus saja menggenggam tangan sahabatnya itu guna menetralkan gugup dan takutnya.


Zea dan Jihan kini sudah berada dalam ruangan tersebut, dokter kandungan pun sudah siap memeriksa Zea, lalu Zea dipersilahkan tidur dibankar yang sudah disediakan lalu dokter itupun mulai memeriksa.


Zea pun menjalani serangkaian tes demi tes untuk mengetahui detail hasil pemeriksaannya, USG juga tentu dilakukan.


Setelah pemeriksaan itu selesai Zea kembali turun dari bankar dan duduk dikursi yang suda tersedia.


"Semuanya baik ya Bu, tidak ada Masalah sedikit pun, dan Ibu juga subur tak ada yang perlu dikhawatirkan." Kata sang dokter lalu memberikan surat pernyataan tersebut kepada Zea.


Zea pun tersenyum mendengar semua apa yang dikatakan dokter tersebut padanya.


"Tapi kenapa saya belum juga hamil ya dok, sedangkan semua pemeriksaan saya tidak ada masalah kami menikah sudah 2tahun dok." Tanya Zea kepada dokter muda tersebut.


Jihan yang mendengar pertanyaan konyol dari Sahabatnya itu pun menonyor kepala Zea didepan dokter muda itu.


"Apa sih Loe." Zea yang tak sadar akan pertanyaan nya itu pun melayang kan protes pada Jihan karena menonyor kepalanya didepan dokter itu.


Sebelum sang dokter menjawab, dokter itu pun tersenyum melihat tingkah dua orang dihadapan nya.


"Bu, jadi begini kalau Ibu mau tau lebih jelasnya seharusnya kalian melakukan pemeriksaan ini beserta suami Ibu, biar saya dapat menyimpulkan. Kalau hanya Ibu sendiri yang melakukan pemeriksaan saya tidak dapat menyimpulkan apa-apa. Saya hanya dapat menerangkan apa yang saya periksa." Jawab dokter itu menjelaskan kepada Zea.


Setelah mendengar penjelasan dokter itupun Zea hanya nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, seraya merutuki kebodohan nya.

__ADS_1


__ADS_2