
"Pyaaaaaarrrrrrr."
Suara bantingan botol alkohol yang sudah habis diteguk oleh pemiliknya.
Emosi Alvaro kini tengah meluap-luap, ingin marah namun dengan siapa dia akan marah.
Semua yang terjadi saat ini tidak ada hubungannya dengannya namun, ia mampu ikut merasakan betapa sakit nya dikhianati.
Setibanya Shaka dikediaman Bosnya dia mendengar suara aneh dari dalam ruangan kerja sang bos, Shaka pun langsung berlari dan masuk tanpa permisi sebab ia khawatir jikalau terjadi sesuatu pada bosnya.
"Tuan baik-baik saja?" Tanya sang asisten tanpa basa-basi lagi, saat sudah berhasil nyelonong masuk kedalam ruangan tersebut.
Alvaro hanya terdiam tak menjawab sepatah kata pun, dia hancur hanya karena membayangkan bagaimana reaksi orang yang sangat ia cintai itu nanti saat sudah mengetahui semuanya.
Apakah dia akan kuat melihat pujaan hatinya hancur, sehancur-hancurnya.
Melihat keadaan sang bos yang sangat kacau Shaka pun semakin yakin bahwa bosnya ini sangat menyayangi Zea.
"Tuan, Tuan jangan begini, bagaimana Tuan akan menguatkan Nona Zea nantinya jika Tuan saja seperti ini." Shaka bicara dengan hati-hati, dia sebenarnya tak cukup berani berbicara seperti itu saat ini, dia takut kalau sang bos justru malah marah padanya.
Alvaro pun bangkit dari duduknya, lalu menghampiri asisten nya itu.
"Kau benar, terimakasih." Ucap Alvaro dengan menepuk pundak Shaka dan berjalan keluar ruangan menuju kamarnya.
Dirumah Ibunya Kellan.
Ibu Syafana kini tengah harap-harap cemas menunggu kabar gembira dari calon menantu idamannya itu.
"Kenapa Diana belum juga menelfon ya, apa aku saja yang menelfon." Gumam Ibu Syafana, lalu dia pun kini menelfon Diana.
Tut......
Tut.......
"Halo Bu." Diana menerima panggilan nya membuat dia menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa kamu tidak menelfon Ibu, Ibu sudah penasaran tau." Cerocos Ibu Syafana yang memang sudah memendam rasa penasaran nya.
"Ibu tenang saja, semua berjalan sesuai rencana, sebentar lagi Mas Kellan akan menjadi milikku seutuhnya." Terang Diana dengan senyuman liciknya.
Ibu Syafana pun bersorak kegirangan bak sedang mendapat kan uang lotre triliunan rupiah saja.
Dia yakin dengan ini akan mampu menyingkirkan Zea, dan dia juga pastikan hidupnya akan bergelimpangan harta saat nanti Diana sudah resmi sah menjadi menantu nya.
Akhirnya, apa yang diimpi-impikan olehnya selama ini sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
__ADS_1
Memiliki menantu kaya raya, yang akan dia bangga-bangga kan kekayaan nya didepan para saudara dan juga para tetangganya.
Dengan itu Dia juga yakin bahwa Diana sudah pasti mampu mengangkat derajat keluarganya jauh lebih tinggi dari saat ini.
Belum apa-apa saja dia sudah berkhayal terlalu jauh, yang padahal akan atau tidak terjadi nantinya.
Kesombongan dan gila harta lah yang membuat Ibu Syafana menjadi seperti ini, gelap mata.
Padahal Kellan sudah tidak kurang-kurang selama ini menjamin hidupnya dan menuruti semua kemauan nya namun, itu tidaklah cukup untuk nya.
Tentu saja itu semua akan terasa kurang jika untuk orang yang gila harta dan serakah.
Alvaro yang kini sudah mandi dan sudah kembali rapi, dia lalu menemui Shaka yang masih menunggunya diruang tamu.
Tap.....
Tap......
"Apa kau yakin akan melakukan itu sekarang?" Tanya Alvaro saat sudah berada diruang tamu dan mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Lebih cepat lebih baik Tuan, percayalah." Ucap Shaka meyakinkan bosnya, bahwa rencananya akan berhasil.
"Berapa lama, bajingan itu berada diluar kota?" Tanyanya kembali, dengan menggulung lengan kemejanya keatas membuat Alvaro semakin terlihat mempesona.
Tak mau membuang waktu Alvaro pun berdiri siap untuk pergi namun, saat Alvaro mulai melangkah kan kakinya tiba-tiba saja suara asisten nya itu membuat pergerakan Alvaro terhenti dan menatap nya dengan tajam.
Bagaimana tidak, tadi saja dia bilang lebih cepat lebih baik tapi ini apa, justru dia secara tidak langsung malah menyuruhnya istirahat padahal jelas itu akan membuang waktu.
"Tuan, apa sebaiknya tuan istirahat dulu saja, saya rasa Tuan tidak tidur semalaman." Merasa sedang ditatap tajam Shaka pun bergidik ngeri melihat itu, pasalnya jika bosnya itu sudah marah, emosinya setara seorang mafia kejam.
"Baik, kita jalan sekarang Tuan." Shaka pun langsung berjalan mendahului Alvaro.
Saat sudah diperjalanan, Alvaro nampak begitu gelisah dan membuang pandangannya keluar jendela hal yang tak pernah dia lakukan sebelum nya.
Sebelum berangkat tadi Alvaro juga sudah menghubungi Zea dan mengajak nya bertemu dengan alasan sarapan bareng disebuah restoran mewah.
Alvaro sengaja memesan private room, untuk menjaga kenyamanan Zea saat nanti dia membuka kebusukan Suaminya.
Zea kini tengah bersiap, dia mau menemui baby pandanya itu bukan semata hanya karena ajakannya untuk sarapan tapi melainkan karena Alvaro mengatakan bahwa dia akan memberi tahu sesuatu penting.
Dia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh baby pandanya itu.
Zea kini sudah sampai ditempat yang dituju, dia langsung bertanya kepada salah satu karyawan sesuai pesan Alvaro.
"Permisi Mbak saya mau tanya, dimana ruangan private room yang sudah dipesan atas nama Alvaro?"
__ADS_1
"Mari saya antar keruangan yang Nona maksud." Jawab sopan pelayanan itu dengan membungkuk.
Zea merasa aneh atas perlakuan pelayan tersebut, menurut nya ini terlalu berlebihan. Tapi dia tidak mau ambil pusing mungkin ini memang sudah menjadi prosedur restoran itu.
Pelayanan itu pun menunjukkan dimana ruangan yang dimaksud Zea.
"Ini ruangannya Nona, silahkan masuk anda sudah ditunggu," Kata pelayanan itu mempersilahkan Zea untuk segera masuk.
"Iya, terimakasih." Ucapnya dengan tersenyum.
"Sama-sama Nona, saya permisi." Setelah mengucapkan itu pelayanan itupun kini pergi.
Lalu Zea masuk kedalam ruangan private room tersebut, disana sudah ada Alvaro dan asistennya yang menunggu kedatangan nya.
"Halo, gimana hari ini cukup baik?" Sapa Alvaro dengan tersenyum saat sudah melihat Zea masuk.
"Halo juga, hari ini cukup baik." Jawab Zea dengan menarik satu kursi disamping Alvaro.
"Karena kamu sudah sampai bagaimana jika sekarang kita langsung sarapan saja terlebih dahulu." Ajak Alvaro yang memang semua jenis masakan sudah tersaji lengkap diatas meja.
Semua masakan tersebut tentu saja makanan kesukaan mereka berdua.
Kalau sudah begini, padahal belum ada hubungan apa-apa saja, sang asisten sudah merasa menjadi udara ada tapi tak nampak kehadirannya.
Merekapun kini sarapan bertiga, tak ada obrolan selama acara makan itu berlangsung sampai selesai.
Zea pun merasa sangat tersanjung atas perlakuan Alvaro yang tak pernah berubah sejak dulu walaupun sudah sebelas tahun tak bertemu dan dengan status yang berbeda.
Dia sempat mengagumi betapa besarnya cinta Alvaro padanya.
Saat sudah selesai Alvaro meminta pelayanan untuk segera membersihkan meja makan tersebut dengan alasan mereka akan lanjut meeting.
Mereka kini mengobrol ringan, sebelum akhirnya Zea menanyakan apa yang sebenarnya Alvaro ingin sampaikan.
"Kak, bukankah tadi kakak bilang akan memberi tau aku sesuatu?"
Alvaro sempat terdiam sejenak mendengar pertanyaan Zea, dia lalu menarik nafas panjang lalu dia hembuskan perlahan.
"Apapun yang akan kakak sampaikan dan perlihatkan, kakak harap kamu harus kuat, tabah, ingat ada kakak yang selalu disampaikan mu. Aku selalu ada untukmu." Alvaro tersenyum manis kepada Zea, membuat Zea semakin penasaran.
Lalu Alvaro meminta laptopnya yang ada pada asistennya itu, dan asistennya itupun langsung memberikan kepada bosnya itu
Alvaro pun kini mulai membuka laptopnya dan mengklik file yang berisi rekaman video tersebut.
"Apa kamu sudah siap, ini akan menyakitkan."
__ADS_1