
DEG.......
Bertemu dengan seseorang yang pernah dicintai dengan begitu hebatnya, tapi juga menjadi sumber luka yang tak kalah hebatnya.
Sehingga membuat Ghazea Azhagar, menjadi mati rasa dan sangat membencinya. Pertemuan tidak sengaja ini seperti membuka luka lama.
Alvaro sebenarnya tau siapa yang ada didalam lift. Namun, dia tak menghiraukan dan seolah-olah mereka tak saling kenal. Baginya, masa lalu hanyalah hal yang tidak penting untuk dikenang.
Masuklah Alvaro kedalam lift tersebut dengan menggendong Suga, lalu berdiri tepat disamping Kellan.
Zea pun menyusul masuk kedalam lift dengan berdiri dibelakang Alvaro, mereka benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain.
Kellan nampak syok dan bertanya-tanya, setelah bertahun-tahun tak bertemu lalu dipertemukan dengan tidak sengaja.
Lebih parahnya, dia bertemu Zea sedang bersama suaminya yang baru dan seorang anak laki-laki yang usianya sepertinya sama dengan anaknya.
"Siapakah anak laki-laki itu? Jika itu anak mereka berdua rasaku tak mungkin. Apa mungkin itu anak dari suaminya?" Kellan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Hay, gimana kabarmu, Ze?" Tanya Diana basa-basi dengan bergelayut manja dilengan Kellan. Dia sengaja ingin menunjukkan bahwa, betapa bahagianya kehidupan nya bersama Kellan.
Dia sengaja memperlihatkan kemesraan nya. Agar Zea tau karma itu tidak berlaku untuk nya.
Zea tak menanggapi sapaan Diana, dia justru malah memalingkan wajahnya. Bukan karena iri, melainkan dia hanya malas jika harus berurusan kembali dengan mereka.
"Momy!" Suga memanggil Zea sebab dia merasa aneh, kenapa momynya diam saja saat disapa. Biasanya momynya itu adalah orang yang ramah kesemua orang.
"Momy? berarti benar dia anak dari laki-laki ini. Tapi kenapa saat menatap wajah anak itu aku merasa ada sesuatu yang berdesir dalam hatiku, ya!" Gumam Kellan dalam hati.
"Kabar kami baik." Bukan Zea, tapi Alvaro lah yang menjawab. Sebab dia tak mau jika nanti anaknya ini akan banyak bertanya tentang siapa? Dan kenapa Momy nya tak mau menjawab sapaan dari Diana.
Pintu lift pun kini sudah terbuka, Alvaro lalu menggenggam tangan Zea dan mereka pun keluar dari dalam lift bersama menuju mobilnya.
Kellan dan Suga pun saling menatap, rasa penasaran dalam benak Kellan pun tak lagi bisa dibendung. Dia memutuskan akan mengejar Zea untuk menanyakan siapa anak laki-laki itu.
Tapi, baru Kellan akan melangkah tangannya sudah ditarik oleh Diana.
Diana sepertinya tau apa yang Kellan rasakan saat ini.
"Tidak usah dikejar, anak kita sudah menunggu dimobil." Kata Diana menarik paksa Kellan.
__ADS_1
Kellan pun mau tak mau harus menuruti kemauan Istrinya. Kalau tidak, sudah dipastikan akan ada perang dunia yang entah keberapa?.
"Momy, kenapa paman itu melihatku seperti itu terus?" Ujar Suga, yang merasa aneh dengan sikap Kellan.
"Mungkin, paman tadi itu terpesona dengan ketampanan mu, sayang!" Lagi-lagi Alvaro lah yang menjawab.
"Kenapa, dari tadi Dady yang menjawab? Momy kenapa?" Tanya Suga , yang mengira bahwa Zea sedang tidak baik-baik saja.
"Momy, nggak kenapa-kenapa sayang. Momy hanya sedikit lelah." Jawab Zea, dengan tersenyum.
"Sini, Aku pijitin Momy." Tawar Suga.
Alvaro, pun menjadi gemas sendiri dengan putranya. Dia begitu penyayang.
"Terimakasih, tapi tidak usah sayang. Biar Dady saja nanti yang memijat." Ucap Zea, dengan mengacak gemas rambut putranya itu.
Disepanjang perjalanan Kellan tak henti-henti membayangkan dan kepikiran dengan anak laki-laki yang ada dalam gendongan Alvaro tadi.
Entah kenapa dia sangat penasaran dengan siapa anak laki-laki tersebut. Pikirannya kini di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
"Apa mungkin itu anak Zea. Jika benar, berarti itu anak ku dong. Tapi itu tidak mungkin. Saat itu Zea tidak sedang hamil, lalu bagaimana bisa dia punya anak dariku, kan?" Gumam Kellan dalam hati.
"Pasti lagi mikirin wanita murahan itu!" Ucap Diana dalam hati.
Jika Zea disebutnya wanita murahan, lalu sebutan apa yang pantas untuk nya ya kira-kira, hahaha.
"Sayang, gimana tadi mainnya, seru?" Tanya Diana pada Putrinya itu.
"Seru ma! Aku tadi dapat teman baru." Jawab Clarissa antusias.
"Wah, lain kali jika kalian bertemu lagi kenalin sama mama, ya!" Clarissa pun hanya mengangguk dengan tersenyum.
Ya, Clarissa Shahaab, dia adalah seorang anak perempuan cantik yang dilahirkan Diana Anastasya empat tahun silam.
Diana dan Kellan dikaruniai anak perempuan yang sangat cantik. Namun, entah sifat nya nanti akan menurun siapa? Apakah akan menurun dari Kellan atau Diana.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kini mereka bertiga pun telah sampai dirumah besar nan mewah milik Alvaro.
Lalu, Alvaro pun menggendong tubuh mungil Suga yang ternyata sudah terlelap.
__ADS_1
Diletakkannya Suga, diatas ranjang king size. Walaupun Suga masih kecil, tapi Alvaro sudah memberikan segala fasilitas dengan wah tentunya.
Setelah itu, Alvaro pun menyelimuti tubuh mungil Suga, dan mencium keningnya.
"Selamat malam, istirahat dengan nyenyak ya jagoan Dady." Ucapnya kemudian. Lalu, Alvaro pun keluar dari dalam kamar anaknya menuju kamarnya sendiri.
Ceklek.....
Lalu, Alvaro menghampiri Istrinya yang sedang berdiri menyilangkan kedua tangannya didada, menghadap keluar jendela.
Dengan tiba-tiba Alvaro pun memeluk Zea dari belakang.
"Are you okay?" Tanyanya dengan begitu lembut. Dia tau kalau saat ini Istrinya itu sedang ada yang difikirkan.
"Entah kenapa, setelah pertemuan tadi Aku menjadi ada sedikit rasa takut, kak!" Lirihnya Zea.
"Takut kenapa, sayang?"
"Takut, kalau Mas Kellan penasaran dan mencari tau siapa Suga?" Alvaro, lalu memutar tubuh Zea agar menghadapnya.
"Dengar, sampai kapanpun Suga adalah anak kita. Ingat, hanya anak kita berdua. Aku, sudah menutup semua akses informasi keluarga kita sayang. Tak perlu ada yang kamu takutkan. Meskipun dia tau yang sebenarnya, dia tak ada hak sedikitpun atas Suga, Paham?"
"Apa kamu tak merasa kalau Suga sangat mirip denganku?" Ujar Alvaro dengan memanyunkan bibirnya.
"Aaaaa, iya. Aku sangat merasa. Bahkan Aku cemburu, Aku yang telah mengandung nya sembilan bulan tapi tak sedikit ada yang mirip denganku, apa kau puas Tuan?" Jawab Zea, dengan sedikit kesal. Karena memang begitu adanya, entah kenapa Suga malah begitu mirip dengan Alvaro.
"Tentu saja, itu karena Aku yang memanjat pohon mangga dan membuat bumbu rujak special untuknya. Ingat, balas Budi itu penting. Maka dari itu, itulah rasa terimakasih nya padaku dan alhasil wajahnya mirip denganku." Ucap Alvaro dengan begitu sombongnya.
"Ngomong-ngomong, Budi itu siapa, kak?" Niat hati ingin becanda, tapi ini justru dijadikan Alvaro sebagai peluang agar dia tidak jadi puasa satu Minggu.
Kesempatan emas, tidak akan datang dua kali, bukan? begitulah pikir Alvaro.
"Sini, kakak kenalin sama siBudi!" Alvaro tersenyum penuh arti, membuat Zea justru malah merinding sendiri.
Lalu, Alvaro pun menuntut tangan Zea agar menyentuh benda pusakanya. Saat , tangan Zea benar-benar sudah menyentuh benda pusaka tersebut, tak menunggu waktu lama pun benda tersebut kini sudah meronta-ronta ingin dikeluarkan.
Reflek, mata Zea pun membulat sempurna karena merasakan kerasnya benda dibalik celana Suaminya.
"Kamu harus tanggung jawab."
__ADS_1