Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Surat kecil


__ADS_3

"Kamu kemana sayang?"


Disela-sela Kellan tengah memperhatikan sekitar, yang ternyata barang-barang pribadi milik sang Istri kini sudah tidak ada lagi satu pun yang tersisa. Penglihatan Kellan tiba-tiba fokus pada sebuah kertas yang terlipat diatas meja rias yang ditindih oleh sebotol parfum milik Kellan.


Lalu dia pun berjalan menghampiri meja rias tersebut dan mengambil kertas itu. Kellan lalu membuka apa isi tulisan dibalik kertas yang terlipat itu, dan berharap dia akan menemukan petunjuk keberadaan sang Istri.


"Surat kecil untuk seseorang yang sangat aku cintai. Mas, aku izin pamit ya. Aku minta maaf kalau selama mencintai mu, aku banyak kurangnya. Padahal aku sudah mengusahakan sebaik mungkin untuk membuat mu bahagia. Tapi sayangnya aku tak berhasil menjadi pemenang nya. Sekarang aku sudah ikhlas, aku sudah merelakan hubungan kita kandas. Kita dipertemukan untuk saling memberikan pengalaman. Jatuh cinta adalah patah hati yang disengaja bukan? jika aku berani mencintai mu, maka aku juga sudah siap kalau sewaktu-waktu aku harus kehilangan mu. Selamat menjalani hidup dan kisah mu yang baru, dengan orang yang baru pula. Selamat menjalani hari-hari mu tanpa aku sekarang. Ingat ya Mas, kamu harus bahagia selalu. Saranghaeyo." Isi surat yang ditulis oleh Zea, sebelum dia pergi.


Setelah selesai membaca surat dari Zea Kellan langsung menjatuhkan dirinya diatas lantai, tak terasa kini air matanya pun telah jatuh membasahi pipinya.


Penyesalan nya pun kini sudah tiada guna, apapun yang akan dilakukan olehnya kini tak bisa membuat Zea kembali.


Dia sangat merutuki kebodohan nya yang telah melukai hati dan perasaan orang yang sangat dia cintai.


"Sayang kamu dimana? jangan tinggalin Mas sayang." Lirih Kellan dengan menangis.


Lalu Kellan pun mencoba menghubungi Zea kembali namun, tetap saja hasilnya sama nomor ponsel Zea tidak aktif.


"Aaaahhhhhhhhh." Teriak Kellan frustasi.


"Aku harus mencari mu kemana?" Lirih Kellan kembali dengan mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba saja Kellan teringat dengan Jihan, karena setau Kellan hanya Jihan lah sahabat nya satu-satunya dikira ini.


Kellan lalu berlari menuju mobilnya dan bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai tujuan.


Setengah jam kurang lebihnya, kini Kellan telah sampai didepan kontrakan Jihan. Dia langsung turun dan mengetuk pintu rumah kontrakan Jihan.


Tok.....


Tok.......


Tak lama kemudian, Jihan pun membuka pintu rumahnya dan sedikit kaget saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Mas Kellan, mana Zea Mas?" Tanya Jihan kemudian saat tak melihat sahabatnya itu datang bersama Kellan.


"A--aku justru kesini ingin menanyakan apakah Zea ada disini?" Ucap Kellan sedikit gugup karena dia takut kalau Jihan akan mengamuk, jika tau apa yang sebenarnya terjadi.


Sebab dia tau, bahwa Jihan pasti akan melakukan sesuatu jika sampai tau Zea pergi karena ulah Kellan yang sangat fatal itu.


"Mas ini ngelindur apa gimana sih? Mas ini kan Suaminya, kalian tinggal satu atap. Bagaimana mungkin Mas Sampai tak tau Zea pergi kemana? atau jangan-jangan-----" Belum sempat Jihan melontarkan kata-kata pedas dan menyudutkan Kellan, Kellan dengan sengaja memotong omongan Jihan.


"Jangan seudzon deh, aku hanya baru saja pulang dari tugas luar kota pas sampai dirumah Zea enggak ada, tadi juga enggak pamit pergi kemana? aku pikir kerumah kamu." Jawab Kellan mencari aman.


"Kan bisa tuh ditelpon, jangan kayak orang kuno deh." Ucap Jihan, sedikit malas meladeni suami sahabatnya itu.


"Sudah, tapi tidak aktif." Lirih Kellan dengan wajah memelas.


"Pulang kampung kali dia, mungkin Zea tidak bahagia disini makanya pulang deh." Jawab asal Jihan, namun mampu membuat jantung Kellan berpacu begitu cepat.


DEG.........


Wajah Kellan kini menjadi pucat saat mendengar jawaban dari Jihan.


"Helloo, Mas, Mas!" Jihan melambai-lambaikan tangannya didepan muka Kellan yang tengah melamun, lalu memukul pundak nya saat tak mendapat respon dari Kellan.


Seketika Kellan pun terperanjat kaget oleh aksi Jihan dan mengelus dadanya. Kini fikiran Kellan menjadi campur aduk tak karuan.


"Mas kenapa? kok ngelamun, mana mukanya pucat lagi?" Tanya Jihan kemudian saat Kellan sudah sadar dari lamunannya.


"Tidak apa-apa, ya udah kalau gitu aku pamit." Tak menunggu jawaban Jihan Kellan pun lalu pergi dari rumah Jihan dan masuk mobil.


"Mampus Lue, emang enak ditinggalin!" Ucap Jihan sembari menjulurkan lidahnya mengejek.


Lalu Jihan pun menutup kembali pintunya. "Tapi kasian juga ya, ngeliat muka Mas Kellan tadi." Ucap Jihan yang sedikit ada rasa iba kepada Kellan.


Kellan pun kini mulai melajukan kembali kereta besi miliknya, membelah ramai nya jalanan kota.

__ADS_1


Dengan rasa bimbang Kellan kembali teringat ucapan Jihan. "Apa aku sekarang susulin aja Zea kekampung ya? tapi iya kalau Zea memang pulang, kalau ternyata enggak pulang, apa enggak digantung aku sama Ayah." Ujar Kellan dengan memukul setir mobilnya sebab, bimbang harus kemana mencari Zea.


"Ze, sayang pulang yuk, kamu dimana biar Mas jemput." Lirih kellan dengan kembali menetes kan air matanya.


Sungguh, Kellan saat ini tengah merasakan penyesalan begitu dalam dan sangat merasa takut kehilangan Istrinya.


Dia berharap ini hanya emosi sesaat dari Zea, dan dia berharap Zea tak akan pernah pergi meninggalkan nya dan mengakhiri rumah tangga seperti apa yang Zea tulis dalam suratnya itu.


"Ze, maafin Mas sayang, maaf."


"Kamu bodoh Kellan, kamu benar-benar bodoh!" Teriak kellan penuh emosi.


Kellan terus saja menjalankan mobilnya tanpa arah tujuan yang jelas. Walaupun dia tak tau harus kemana mencari Zea, namun dia pun tak mau pulang begitu saja.


"Nak, ayo makan, makanannya sudah Ibu siapkan." Ajak Ibu Syafana yang kini tengah menjemput menantu kesayangan nya itu kekamar.


"Iya Bu." Jawab Diana dengan malas dan lesu.


"Kamu kenapa? Kellan mana?" Tanya Ibu Syafana kepada menantu nya itu.


"Aku lagi kesel Bu sama Mas Kellan, Mas Kellan sekarang lagi dirumah Zea dan Ibu tau dia bilang mau disana selama empat hari, itu kan lama sekali Bu." Adu Diana kepada mertua nya dengan manja.


"Ya sudah, kita makan dulu ya, nanti biar Ibu yang bicara sama Kellan." Tawar Ibu Syafana mencoba menenangkan Diana.


Akhirnya mereka pun keluar dari kamar, lalu menuju meja makan. Diana pun langsung mendudukkan dirinya diatas kursi tersebut.


Ibu Syafana pun kini melayani makannya Diana, kalau biasanya Zea lah yang melayani makannya Ibu Syafana kini berbanding terbalik.


Saat sudah tersaji Diana pun langsung menyuap kan nasi kedalam mulutnya nya. Namun, tiba-tiba saja Diana menyemburkan makanan tersebut.


"Fiiiiuuhhhh"


Seketika Ibu Syafana pun kaget atas perlakuan Diana.

__ADS_1


"Masakan apa ini Bu, Ibu sengaja ya."


__ADS_2