
"Dady." Seketika Alvaro, pun mengusap matanya uang hampir saja menjatuhkan air matanya.
"Apa, Dady mengganggumu, hemmm?" Ucap Alvaro, dengan mengelus lembut tangan mungil Suga, lalu mencium nya.
Bocah mungil itu pun menggeleng kan kepalanya, sebagai jawaban untuk sang Ayah.
"Mandi yuk," ajak Alvaro.
Suga pun seketika mengangguk kan kepalanya dengan cepat. Akhirnya, mereka berdua pun mandi bersama. Tapi kali ini benar-benar hanya mandi, sebab hari sudah mulai gelap.
Zea, pun kini bergeliat kecil diatas ranjang, lalu membuka matanya pelan-pelan. Lalu, dia pun melihat jam yang ada di ponselnya.
Saat sudah tau jika hari sudah mulai gelap, dia pun menengok kesamping untuk membangun Suga. Namun, ternyata yang mau dibangunkan sudah bangun duluan.
Zea, pun lalu turun dari ranjang dan menyiapkan baju ganti untuk anak dan Suaminya.
Pukul dua puluh satu lewat, Kellan baru saja sampai dirumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Kellan lalu berjalan masuk kedalam rumah.
Rumahnya nampak sepi, mungkin karena memang sudah malam. Kellan, lalu membuka pintu rumah tersebut.
Ceklek....
"Tumben tidak dikunci?" Gumam Kellan dalam hati.
Saat Kellan baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja lampu diruang tamu tersebut menyala begitu saja. Membuat Kellan kaget, hingga mengelus dadanya.
"Ya, ampun! ngapain si Di, pakek acara ngagetin segala? Kalo Aku jantungan gimana?" Cerocos Kellan, yang kesal dengan kelakuan Istrinya.
"Biarin aja, struk sekalian. Mati juga nggak pa-pa!" Jawab Diana dengan ketus.
"Jaga ucapanmu Di!" Kellan yang pikiran nya sedang kacau pun kini mulai tersulut emosi.
"Ucapan yang mana yang musti dijaga untuk Suami macam kamu, Mas!" Diana yang memang dari tadi sudah menahan emosi, akhirnya kini dia bisa meluapkan nya.
"Kemana kamu perginya beberapa hari ini sampai tidak masuk kantor, hah?" Bentak Diana.
"Sibuk ya, sibuk ngurusin anak nggak jelas sekaligus wanita murahan, itu!" Sambung Diana, meluap-luap.
"Kamu pikir, jika kamu sampai dipecat. Mau dapet uang dari mana lagi kita, hah. Lalu, apa kamu akan menjadi laki-laki tidak berguna yang menumpang hidup dengan ku, hah!" Rahang Kellan, mengeras mendengar ucapan Diana.
Plakkk............
Satu tamparan keras, mendarat sempurna dipipi mulus milik Diana. Setelah itu Kellan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Diana yang sedang meringis kesakitan akibat tamparan darinya.
__ADS_1
Lalu, Kellan pun mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kacau, sungguh kacau pikiran Kellan saat ini.
Dia pun pergi kerumah Ibunya. Berharap disana mendapatkan ketenangan. Namun, justru sesampainya disana ternyata bukannya ketenangan tapi justru menambah beban pikiran.
Kebun yang menjadi penopang kehidupan kedua orang tua Kellan, rupanya telah dijual oleh adik Kellan dan uangnya habis untuk berjudi.
Kini, Bu Syafana tengah syok berat saat sang pembeli datang kerumahnya. Untuk memperingatkan Ibu Syafana, agar tak datang ke kebun itu lagi. Sebab, sang pemilik yang baru akan membangun sebuah hotel.
Ibu Syafana meronta-ronta tak terima, dan justru malah menuding pemilik baru itu telah menipunya.
Namun, sekeras apapun Ibu Syafana ngeyel tak terima, itu hanya akan sia-sia. Karena, sang pemilik yang baru mempunyai cukup bukti. Bahkan sertifikasi tanah tersebut sudah berada dalam genggaman nya.
Sehingga dia pun tak takut pada ancaman Ibu Syafana yang katanya akan membawa perkara ini ke jalur hukum.
Setelah menurut pemilik baru tanah tersebut selesai, dia pun lalu pergi begitu saja meninggalkan kediaman Ibu Syafana.
Ibu Syafana, menangis histeris meratapi nasibnya. Anak, yang selalu disayang, dipuja-puja, telah mengkhianati nya. Dengan menjual diam-diam kebun yang menjadi harapan satu-satunya untuk kelangsungan hidupnya kini dan nanti.
Kepala Kellan rasanya ingin pecah. Belum terpecahkan masalah asal-usul anak Zea, ditambah Diana yang meremehkan, dan kini mengetahui fakta bahwa kebun yang menjadi mata pencaharian kedua orang tuanya telah habis dijual sang adik untuk berjudi.
"Gimana ini, Nak?" Kata Ibu Syafana, dengan menangis.
"Itu lah, akibat Ibu selalu memanjakan Danu!" Ucap Ayah Rama dengan nada ketusnya.
"Yah, Bu, sudah lah. Semua sudah terjadi. Kalian jangan ikut-ikutan bertengkar dong, bikin Kellan tambah pusing aja!" Jawab Kellan, memarahi kedua orang tuanya yang justru malah ribut saling menyalahkan satu sama lain.
Kellan, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kenapa masalah datang bertubi-tubi, seperti tak ada hari lain saja. Begitu pikir Kellan.
Keesokan harinya, Zea tengah sibuk mempersiapkan baju-baju yang akan dibawa olehnya saat pulang kampung.
Rencananya hari ini, mereka akan pulang kampung. Menepati janji Alvaro kepada putra semata wayangnya.
"Sayang, tidak usah membawa baju banyak-banyak. Nanti, jika kurang kan bisa beli aja." Ujar Alvaro, dengan membantu menutup koper yang akan dibawa.
"Iya, kak." Jawab Zea, dengan senyuman manis nya.
Setelah itu Alvaro pun menarik koper tersebut keluar dan menyuruh sang sopir untuk memasukkan kedalam mobil.
Kali ini Alvaro sengaja membawa sopir, agar dia dapat lebih punya banyak waktu untuk anak dan Istrinya.
"Sayang, ayo sarapan dulu!" Teriak Zea, dari lantai bawah memanggil Suga yang tak kunjung turun.
Merasa dipanggil Suga pun langsung berlari menuju lantai bawah.
__ADS_1
"Kok lama banget sih, ngapain aja anak Dady ini, hemmm?" Tanya Alvaro, pada Suga.
"Aku lagi bingung, Dad." Jawab Suga, dengan wajah murung.
"Bingung kenapa, sayang?" Tanyanya kembali.
"Suga, bingung mau bawa mainan yang mana," Jawabnya dengan wajah cemberut.
Alvaro pun tertawa mendengar jawaban dari anaknya tersebut. Ada-ada saja, dia begitu dilema ternyata hanya karena bingung mau membawa mainan yang mana.
Zea hanya menggeleng-geleng kan kepalanya sambil tersenyum.
"Sayang, nggak usah bawa ya. Nanti disana Dady belikan mainan yang kamu mau, oke!" Ucap Alvaro, dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Horreeeeeee..." Sorak Suga, kegirangan.
Lalu, mereka pun kini mulai menyantap sarapan mereka. Setelah selesai, merekapun langsung bergegas siap-siap untuk pergi.
Setelah semua sudah siap, merekapun berjalan beriringan menuju mobil yang sudah ready, disiapkan oleh sang sopir.
Saat mereka sudah masuk, sang sopir pun mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Disepanjang perjalanan mereka bertiga mengobrol, bercanda, hingga bernyanyi.
"Stop, pak, stop!" Teriak Zea, tiba-tiba. Mengagetkan semua orang didalam mobil tersebut. Lalu, sang sopir pun menepi kepinggir jalan untuk berhenti menuruti perintah majikannya itu.
"Sayang, kamu kenapa? Ngapain teriak-teriak gitu." Ujar Alvaro, heran.
"Aku pingin jajanan itu, kak." Zea menunjuk salah satu jajanan anak SD, yaitu telur gulung. Yang berjejer dipinggir jalan.
Alvaro pun nampak kaget, kenapa tiba-tiba Istrinya itu ingin jajanan anak SD itu.
"Pak, tolong belikan ya, semua." Ucap Zea, dengan memberi uang pecahan lima puluh ribu rupiah kepada sang sopir.
Sang sopir pun menuruti perintah Nona mudahnya, dan turun untuk membelikan apa yang diinginkan Nona mudanya.
Setelah dapat, sang sopir pun kembali lagi kedalam mobil dan memberikan telor gulung permintaan Zea.
Lalu, Zea pun mengambil telur gulung tersebut dan mulai menyantap nya dengan lahap.
Alvaro dan Suga pun kompak menelan slavinanya, saat melihat begitu lahapnya Zea makan telur gulung bahkan tanpa menawari mereka.
"Hoooeeeeekkkkk!"
__ADS_1