Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Siuman


__ADS_3

Sebenarnya Zea sedikit ragu untuk mengikuti ajakan Alvaro untuk menjenguk Kellan, tapi mau bagaimana pun Kellan tetap masih menjadi suaminya dan selain itu, Zea juga belum sepenuhnya mengosongkan hatinya untuk Kellan.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kini mereka berdua pun telah sampai. Alvaro pun membangun kan Zea yang tertidur dengan pulas nya, penuh kehati-hatian agar tak membuat Zea merasa tak nyaman.


"Ze, Zea, bangun sudah sampai." Suara lembut Alvaro dengan mengelus pipi mulus milik Zea, membuat sang empunya bergeliat kecil.


Zea pun perlahan-lahan membuka kedua bola matanya dan mengucek-ngucek matanya.


"Sudah sampai kak?" Tanya Zea saat dia baru bangun dengan melihat-lihat sekitar.


"Iya, baru saja sampai." Jawab Alvaro sambil tersenyum.


"Mau sarapan apa?" Tanya Alvaro.


"Apa aja kak." Jawab Zea dengan masih menguap.


"Ya udah, kita masuk dulu ya, abis itu baru kakak nyari sarapan." Ajak Alvaro, yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh Zea.


Mereka berdua pun turun dari mobil, dan berjalan beriringan masuk kedalam rumah sakit.


Saat sudah sampai didepan resepsionis Alvaro pun langsung menanyakan dimana kamar Kellan dirawat.


Setelah mendapat informasi tersebut, mereka berdua pun langsung berjalan menuju kamar inap yang Kellan tempati.


Kini mereka berdua sudah sampai tepat didepan pintu kamar Kellan namun, tiba-tiba langkah Zea terhenti sejenak.


Zea mencoba meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia tak ingin karena pertemuannya ini, akan membuat hati Zea goyah pada pendiriannya.


Dia takut akan terluluh kan kembali oleh rasa iba pada Kellan, dan membuyarkan semua rencananya.


"Apa kamu ragu?" Tanya Alvaro, walaupun dia sudah tau jawabannya namun, entah kenapa dia ingin saja bertanya.


Zea hanya diam tak menjawab, dia hanya mengangguk kan kepalanya.


"Sudah tenang, ada kakak." Kata Alvaro dengan kini menggandeng tangan Zea.

__ADS_1


Lalu Alvaro pun membuka pintu kamar Kellan dan mereka berdua pun masuk dengan satu tangan Zea masih digandeng oleh Alvaro.


Pada saat sudah masuk kedalam ruangan tersebut, Zea pun kini menjatuhkan air matanya sebab melihat keadaan Kellan.


Hal yang ditakuti oleh Zea ternyata benar adanya, dia akan iba dengan melihat keadaan Kellan.


Bagaimana tidak, Kellan adalah masih suami sah nya, selain itu Kellan juga adalah orang yang pernah sangat dia cintai.


Selain itu, dia juga sangat kasian pada Kellan terlepas dari kesalahannya. Kasian sebab, dikala dia sehat semua orang memujanya tapi disaat dia sakit jangankan orang lain keluarga, Istri, dan bahkan Ibu kandungnya pun tak ada yang datang untuk menjenguk dan merawatnya.


"Kamu harus kuat, kita kesini hanya karena rasa kemanusiaan dan sebab dia masih suami sah mu." Ujar Alvaro mengingat kan pada Zea agar dia tidak terbawa oleh suasana.


"Iya kak." Jawab Zea dengan tersenyum manis kearah Alvaro.


"Ya sudah, kakak nyari sarapan dulu ya." Setelah mengatakan itu, Alvaro pun keluar dari kamar tersebut untuk mencari sarapan.


Zea pun mendudukkan dirinya dikursi yang ada disebelah bankar tempat Kellan tertidur.


"Mas, ini aku Zea. Bangun lah Mas, kasian Istri dan calon anakmu mereka pasti merindukan mu." Lagi-lagi Zea meneteskan air matanya, tetesan air mata Zea pun jatuh mengenai tangan Kellan yang terbalut perban untuk selang infus.


"Selamat pagi Bu." Sapa dokter muda tersebut.


"Pagi juga dok." Jawab Zea yang sedikit kaget akibat suara tiba-tiba dari sang dokter.


"Keluarga pasien ya." Tanya dokter muda itu.


Zea pun hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Baiklah, saya periksa dulu ya bapak Kellan." Ujar sang dokter dengan lembut dan tersenyum.


Setelah selesai memeriksa dokter itu pun langsung berpamitan untuk memeriksa pasien lainnya.


Dari hasil pemeriksaan hari ini, dokter itu pun sempet tidak percaya dengan hasilnya. Sebab, perubahan yang ditunjukkan oleh Kellan begitu pesat padahal kemarin-kemarin tak ada perubahan sama sekali.


Dua hari sudah Zea dan Alvaro berada dirumah sakit. Zea dengan begitu telaten dan sabar mengurus Kellan yang sedang terbaring tak berdaya.

__ADS_1


Alvaro pun semakin terkagum-kagum dengan kebaikan Zea. Meskipun dia sudah dilukai begitu dalam, tapi dia masih bisa dengan ikhlas merawat orang yang telah menorehkan luka teramat dalam itu.


Saat Zea telah selesai mengepel tubuh Kellan, dan Zea mau pergi tangan Zea tiba-tiba digenggam oleh tangan Kellan.


"Terimakasih." Lirih Kellan, dengan membuka kedua bola matanya perlahan.


Zea pun sempat kaget karena tangannya tiba-tiba digenggam.


"M--mas Kellan, M--mas Kellan s--sudah siuman." Ucap Zea dengan terbata-bata karena syok. Kellan pun tersenyum manis kearah Zea.


Lalu Zea pun menekan salah satu tombol untuk memanggil team dokter. Selang beberapa menit, dokter pun masuk kedalam kamar inap Kellan.


"Alhamdulillah, akhirnya bapak siuman juga." Ucap syukur sang dokter, lalu dokter itu pun memeriksa keadaan Kellan saat ini.


"Kemajuannya sungguh pesat ya Bu, jika terus begini satu atau dua hari Pak Kellan sudah bisa pulang sepertinya." Ujar sang dokter pada Zea.


"Iya mudah-mudahan, terimakasih dok." Selesai memeriksa dokter itu pun keluar dari kamar inap Kellan.


"Kamu dengar Mas, keadaan mu sudah stabil dan diperkirakan boleh pulang satu atau dua hari lagi jadi, aku rasa kamu sudah enggak butuh bantuan ku lagi bukan?" Kata Zea dengan melangkah menuju wastafel untuk membuang air bekas ngepel tubuh Kellan tadi.


"Jangan tinggalkan Mas lagi Ze." Lirih Kellan.


"Mas nggak bisa kalau harus tanpa kamu." Kini Kellan mulai menjatuhkan air matanya dihadapan Zea.


"Maaf Mas, aku nggak bisa. Rasa cintaku padamu memang begitu besar, tapi rasa kecewa dan lukaku juga tak kalah besarnya." Monolog Zea dalam hati.


"Istirahat lah Mas, aku mau beli sarapan dulu ya." Zea lalu melangkah keluar dengan menahan sesak didalam dadanya.


Zea sebenarnya masih sangat mencintai Kellan, dia tak ingin berpisah dengan Kellan, tapi dia juga tak mau jika harus berbagi suami dengan perempuan lain walaupun itu sah secara agama dan hukum.


Dia tidak akan kuat jika setiap hari dihadapkan dengan situasi harus berbagi suami, jika berbagi makanan itu adalah hal wajar, tapi jika berbagi suami itu hal diluar nalar Zea. Zea tak akan mampu menghadapi itu.


Disaat Zea keluar kamar, dia langsung dikejutkan oleh keberadaan Alvaro. Ternyata Alvaro sedari tadi sudah ada didepan kamar inap itu, dia sengaja ingin menguping semua percakapan Zea dan Kellan. Zea langsung berhambur masuk dalam pelukan Alvaro.


"Betapa bodohnya aku, hanya demi sebuah pelangi yang datang sementara, aku rela melepaskan matahari yang selalu ada, dan kini aku tenggelam dimalam yang tak berujung." POV Kellan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2