Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Dilema


__ADS_3

Setelah Zea selesai dengan acara konsultasi nya dengan dokter kandungan kini, mereka keluar dari rumah sakit itu.


"Kita mau kemana Ze setelah ini?"Tanya Jihan pada Zea, sebenarnya Jihan menaruh curiga pada sahabatnya itu pastilah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


"Gimana kalau kita ke danau saja." Tawar Zea pada Jihan. Dari jawaban Zea, Jihan langsung konek bahwa benar sahabatnya itu sedang ada Masalah.


"Baiklah." Jawab Jihan dengan menarik tangan Zea agar ikut dengannya berlari kepinggir jalan untuk mencari taxi.


Zea yang sempat kaget tangannya ditarik namun, dengan cepat mengimbangi agar tak jatuh.


Kini dua orang sahabat itu sudah mendapatkan taxi dan sudah sampai ditempat yang dituju.


Sebuah danau yang cantik, indah, sejuk, dan nyaman, senyaman pelukan orang yang kita sayang haha.


Zea dan Jihan kini tengah duduk dibawah pohon yang berhadapan langsung dengan danau sungguh pemandangan yang sangat indah.


Danau yang cukup besar dengan pemandangan yang mampu memanjakan mata disetiap sang pecintanya.


Zea kini tengah menikmati pemandangan yang sangat indah udara yang sejuk terasa nyaman untuk nya yang saat ini tengah tidak baik-baik saja. Namun, ada kelegaan juga pada diri Zea tentang hasil konsultasi nya tadi.


Dengan hasil konsultasi yang menyatakan bahwa dia sehat dan tak ada Masalah sedikit pun. Namun, kini pikiran menjadi bertambah lalu apa yang terjadi kenapa dirinya tak kunjung hamil.


Jihan sengaja memberi ruang untuk sahabatnya itu merenung, walaupun sebenarnya jiwa kepo gadis itu sudah tingkat nasional tapi Jihan masih tahan sebab di tahu Masalah yang sedang dihadapi sahabatnya saat ini sangat lah serius.


Ntah reaksi apa kira-kira nanti yang akan diberikan Jihan jika sampai Zea membuka suaranya menceritakan semua masalahnya.


Zea saat ini masih dilema antara mau cerita atau tidak dengan sahabatnya itu, kalau cerita dia takut sahabatnya akan ember ke Ayah dan Bundanya tapi jika tidak cerita dia butuh seseorang untuk diajak bertukar pendapat sungguh ini dilema bagi Zea.


Jihan kini justru malah menebak-nebak masalah yang dihadapi oleh Zea, Jihan menebak Masalah keturunan lah pemicunya namun, nyatanya itu hanya salah satunya.


Oleh karena itu tadi Zea memintanya untuk menemani nya Konsul kedokter kandungan begitulah kira-kira isi pikiran Jihan.


"Tak apa jika Loe belum mau cerita sama Gue." Ucap Jihan dengan melirik kearah zea.


Zea pun nampak menghela napasnya lalu menghadap kearah Jihan.


"Ntahlah." Hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Zea.

__ADS_1


Hening, itulah keadaan saat ini Zea maupun Jihan larut dalam pikirannya masing-masing.


Dikontrakkan......


Kellan kini tengah duduk santai diruang tamu sambil memainkan ponselnya. Namun, tak ada niatan untuk menghubungi sang Istri yang pergi ntah kemana.


Begitulah sifat Kellan akhir-akhir ini beda dengan dulu, kini Kellan sudah mulai menunjukkan sifat cueknya.


Jika dulu Kellan bucin dan posesif terhadap Zea kini justru sebaliknya. Semua itu mulai terjadi saat Kellan kembali menjalin komunikasi dengan mantan pacarnya.


Tiba-tiba ponsel Kellan berbunyi, Kellan pun langsung menggeser tombol hijau tanda menerima panggilan tersebut.


"Iya Bu, ada apa?" Ternyata sang Ibu lah yang menelfon Kellan.


"Nak, Ibu butuh uang." Ya, begitulah tak ada hal lain yang Ibu Kellan itu lakukan ketika menelfon Kellan. Beliau menelfon hanya pada saat jika meminta uang selebihnya dia tidak perduli, yang beliau tau hanya uang, uang, dan uang.


"Iya Bu, Kellan akan transfer." Dan begitu juga Kellan, berapapun jumlah uang yang Ibu nya itu minta selalu dia berikan tanpa berfikir dua kali biarpun itu uang untuk hal penting sekalipun tetap dia akan berikan.


Bagi Kellan kalau soal uang Ibunya lah prioritas nya, tanpa dia tahu bahwa sang Ibu hanya memanfaatkan nya saja, untuk membahagiakan anak keduanya dan menantunya.


Jika pada Kellan dia hanya memanfaatkan uangnya saja namun, jika pada anak keduanya Danu dilimpahi kasih sayang juga materi oleh Ibunya Kellan itu.


Sungguh pilih kasih yang terpampang nyata dipelupuk mata namun, anehnya Kellan menolak sadar akan hal itu.


Kellan pun mengetik nominal sebuah angka untuk segera memenuhi keinginan sang Ibu lalu mengirimnya.


Tak terasa hari semakin sore namun, kedua gadis yang satu bukan perawan itu masih enggan meninggalkan tempat tersebut.


"Rasanya gue sangat malas untuk pulang." Ucap Zea yang membuat Jihan mengerut kan dahinya.


"Seserius itukah masalah Loe Ze?" Tanya Jihan penasaran.


Zea tak menjawab dia hanya mengangguk kan kepadanya lesu.


"Cerita dong Ze, apa Loe udah nggak menganggap gue sahabat Loe lagi." Cerocos Jihan yang sudah tak tahan karena tingkat keponya semakin naik level.


"Gue bingung harus cerita mulai dari mana." Jawab Zea lesu.

__ADS_1


"Sebanyak apa Masalah Loe Ze, sampai Loe bingung harus cerita dari mana?"


"Sebanyak buih di lautan." Jawab Zea dengan cengengesan.


"Astaghfirullah Zea, gue udah tegang Loe malah ngelawak." Sewot Jihan pada sahabatnya itu yang justru malah ngelawak ketika dia sedang serius.


Zea sengaja melakukan itu untuk mencair kan suasana agar tak terlalu tegang.


Zea pun akhirnya memberanikan diri menceritakan semuanya dari awal hingga masalah tadi malam yang terjadi dalam rumah tangganya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Sialan." Umpat Jihan yang tengah menahan emosi sebab tak terima ternyata sahabatnya itu diperlakukan sedemikian rupa.


"Loe ini goblok atau gimana?" Tanya Jihan dengan penuh amarah.


"Tenangkan diri Loe Ji, ini lah yang aku takutkan jika cerita sama Loe." Lirih Zea dengan menetas kan air mata.


"Maaf gue kebawa emosi Loe kuat banget ya Ze, menghadapi ini semua sendiri. Tapi Zea, dia sudah main tangan dan selingkuh itu sudah tidak dapat ditoleransi lagi."


"Gue merasa gagal sebagai sahabat karena nggak ada dititik rendah dalam hidup Loe." Lirik Jihan dengan ikut menetaskan air matanya.


Jihan pun memeluk Zea dengan erat, lalu dibalas oleh Zea dengan erat pula kini mereka berdua pun menangis dengan posisi berpelukan.


"Berjanjilah Ji, untuk tidak memberi tahu Ayah dan Bunda." Zea mewanti-wanti Jihan agar tak memberi tahu Ayah dan Bunda nya.


Jihan pun mengangguk kan kepalanya.


"Janji." Ucap Zea dengan mengangkat jari kelingking nya.


"Janji." Jihan pun menautkan jari kelingking nya pada jari kelingking Zea sebagai tanda janji nya pada Zea.


"Masalah beginilah Ze, yang membuat gue takut memulai sebuah rumah tangga." Lirih Jihan.


"Ji, kita hidup dengan jalan ceritanya masing-masing, Loe nggc boleh takut pada kisah gue, gue yakin Loe akan mendapatkan seseorang yang tepat percaya sama gue." Jawab Zea memberi pengertian pada sahabatnya.


"Ntahlah Ze."


"Tuhan, jika dengan hubungan tanpa akad yang sah akan membuat mu murka, maka ijabkanlah do'aku untuk menjalani mahligai rumah tangga dengannya, jangan buat imanku hancur hanya karena godaan yang menjelma atas nama kesucian cinta." POV Jihan.

__ADS_1


__ADS_2