
Dengan tangan bergetar Zea mengambil surat tersebut, lalu Zea menandatangani sesuai permintaan Kellan tanpa ragu.
Pada akhirnya kini Zea benar-benar ada diposisi ini, dititik terendah dalam hidupnya. Merelakan orang yang disayang untuk menjadi milik orang lain. Harus dengan terpaksa menyetujui suaminya menikah lagi.
Ponsel Kellan pun tiba-tiba berbunyi, lalu Kellan pun melihat siapa yang menelfon, lalu dia pun menerima panggilan tersebut.
"Mas, aku tiba-tiba pengen makan buah kesemek deh." Pinta Diana dengan manja saat sambungan telfon tersebut sudah tersambung.
"Baiklah, tunggu ya Mas akan cari kan." Jawab Kellan antusias, tanpa memikirkan ada hati yang tengah terluka menyaksikan kebahagiaan mereka.
Kellan pun mematikan panggilan telfon tersebut, lalu meminta izin kepada Zea.
"Sayang, Mas pergi sebentar ya, Diana ngidam pengen buah kesemek. Kamu tunggu Mas ya, malam ini Mas akan tidur disini." Ucap Kellan dengan mengelus kepala Zea.
Tak menunggu jawaban dari Zea, Kellan pun langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.
Sakit, tentu saja sakit, tidak mungkin ada Istri yang baik-baik saja ketika melihat interaksi antara Suaminya dengan calon madu yang sama sekali tidak dia inginkan.
Dengan masih menangis Zea pun mengambil ponsel lalu menelfon Alvaro.
Tut.........
Tut.........
"Are you oke?" Kata Alvaro tanpa basa-basi lagi, sebab dia tau jika Zea sedang tidak baik-baik saja.
"Aku baru saja menandatangani surat persetujuan Mas Kellan menikah lagi, hiks, hiks." Dengan masih menangis Zea mengatakan hal yang menyakitkan baginya itu.
"Ssssstttttttt, jangan menangis , ku mohon. Kamu harus kuat ingat ada dede bayi didalam perut kamu, lagi pula bukannya itu bagus. Agar urusan mu cepat selesai sebelum perut mu kelihatan membuncit." Alvaro sedikit lega, dia berharap agar semua ini cepat selesai dan Zea segera terbebas dari ini semua.
"Iya, kak Alvaro benar, aku harus kuat enggak boleh nangis demi Dede bayi." Ucap Zea dengan mengusap sisa-sisa air matanya dan tersenyum.
"Hanya untuk Dede bayi nih, untuk kakak enggak dong!" Goda Alvaro pada Zea, mampu membuat Zea tersipu malu. Untung saja mereka hanya bicara lewat telfon jika tidak sudah dipastikan Alvaro akan mendapatkan cubitan manja diperutnya.
"Sejak kapan kakak mulai genit seperti ini? ingat kak, aku masih Istri sah orang." Zea dengan sengaja menekankan kata Istri sah karena sedikit kesal dengan Alvaro yang sudah menggodanya.
"Enggak pa-pa, kan sekarang sudah menjadi calon janda." Lagi-lagi Alvaro kembali menggoda Zea.
Zea yang digoda pun justru hanya menyebikkan bibirnya, andai mereka sedang bertemu mungkin sudah ditarik oleh Alvaro bibir Zea karena saking gemasnya.
__ADS_1
"Kak, tiba-tiba kok aku pengen makan rujak buah mangga muda ya." Kata Zea dengan nampak tak bersemangat.
"Just for you, Kamu tenang ya kakak akan carikan untuk mu." Alvaro sangat bahagia mendengar permintaan Zea, karena dia punya kesempatan merasakan bagaimana bahagianya saat menghadapi Istri yang sedang ngidam.
"Tapi aku mau yang dari pohonnya langsung." Lirih Zea yang mampu membuat Alvaro menelan ludahnya kasar.
"Hahaha, oke-oke kakak pasti akan temukan." Tawa Alvaro sedikit terpaksa, sebab baru saja dia ingin merasa bahagia karena punya kesempatan merasakan mumetnya mengahadapi Ibu hamil tapi ternyata mumet nya beneran.
"Dimana coba aku bisa mendapatkan buah mangga muda dari pohonnya." Batin Alvaro dalam hati.
"Ya sudah, kamu siap-siap ya, kakak jemput." Lalu Alvaro pun mematikan panggilan telepon tersebut.
Alvaro pun beranjak dari duduknya lalu keluar ruangannya mencari sang asisten.
"Shaka, tolong carikan pohon buah mangga yang sedang berbuah, saya tunggu secepatnya." Titah Alvaro kepada sang asisten.
"Baik, Tuan." Hanya kata itu lah yang keluar dari mulut Shaka, sebab menolak pun tak mungkin bisa-bisa diungsikan ke planet mars jika dia berani menolak.
Alvaro pun langsung berangkat menuju kerumah kontrakan Zea, untuk menjemput nya.
Tak butuh waktu lama sang asisten pun kini sudah menemukan pohon yang tengah dicari.
Setibanya disana mereka berdua pun langsung turun dari mobil, lalu menghampiri Shaka yang sudah menunggu sedari tadi.
"Selamat sore Nona muda." Sapa Shaka dengan tersenyum pada Zea yang langsung mendapat kan tatapan tajam siap menerkam dari Alvaro.
Shaka pun langsung memudarkan senyum nya seketika, sebelum dia benar-benar diterkam oleh sang bos.
Zea hanya tersenyum melihat interaksi antara anak buah dan bosnya itu, dia merasa bahagia ternyata masih ada orang yang begitu menyayanginya.
"Dimana pohonnya." Tanya Alvaro dingin.
"Pohonnya ada didalam rumah ini Tuan." Jawab Shaka dengan menunjuk rumah tersebut.
Alvaro pun langsung mengetuk-ngetuk pintu gerbang rumah tersebut namun, sudah beberapa kali tak kunjung juga ada jawaban.
Tapi Alvaro pun tak pantang menyerahnya dia tetap berusaha, beberapa saat kemudian ada Ibu-ibu yang melintas dan melihat ada merekapun lalu menghampiri nya.
"Permisi, maaf Tuan-tuan dan Nona ada perlu apa ya." Tanya Ibu-ibu tersebut.
__ADS_1
"Begini Bu, Istri saya sedang hamil dan dia sedang ngidam buah mangga muda yang langsung dari pohonnya."
"Oh, begitu. Kalau begitu ambil saja Mas, kebetulan rumah ini adalah rumah adik saya, dan mereka sekarang sedang liburan jadi rumahnya kosong." Terang Ibu-ibu tersebut kepada Alvaro.
Tak butuh waktu lama Alvaro pun dibukakan pintu gerbang nya oleh Ibu-ibu tersebut, lalu Alvaro pun ikut masuk. Namun, baru beberapa langkah dia mendekati pohon mangga tersebut tiba-tiba saja Alvaro dikagetkan oleh gonggongan anjing penjaga rumah tersebut.
Tak berfikir lama Alvaro pun Langsung lari terbirit-birit lalu dengan pedenya loncat ke gendongan sang asisten.
Shaka pun sempat oleng menerima tubuh sang bos yang tiba-tiba saja loncat kedalam gendongannya.
Untung saja badan Shaka tak kalah jauh kekar dan besarnya sama seperti Alvaro, sehingga dapat menopang berat tubuh Alvaro tanpa jatuh meskipun sempat oleng.
Zea dan Shaka pun saling pandang, Zea seolah-olah bertanya ada apa lewat sorot matanya dan dijawab Shaka dengan menaikan bahunya tanda dia juga tak tahu.
"Kakak kenapa?" Tanya Zea dengan menepuk punggung Alvaro yang amaih nempel pada gendongan Shaka.
Alvaro yang sadar bahwa dia kini tengah berada dalam gendongan sang asisten pun langsung turun dan membenarkan kemejanya guna menutupi sedikit rasa malunya karena dia begitu dengan disaksikan oleh pujaan hatinya.
"Aku hanya kaget saja, tadi tiba-tiba ada suara anjing menggonggong." Terang Alvaro dengan nyengir kuda.
"Kaget atau takut Taun." Goda Shaka yang langsung mendapat pelototan tajam dari sang bos.
Zea pun menahan senyuman ketika melihat pemandangan yang menurut nya lucu.
Akhirnya dengan kesepakatan bersama, merekapun kini masuk bertiga. Setelah sudah Sampai Alvaro kembali dikejutkan oleh anjing tersebut.
Bagaimana tidak, dia sudah capek-capek lari hingga harus menahan malu didepan Zea rupanya sang anjing ternyata ada didalam kandang nya dan bukannya diliar.
"Jadi kakak takut dengan anjing yang didalam kandang dan dirante?" Goda Zea dengan menahan tawanya, padahal dia sangat ingin tertawa terbahak-bahak saat ini.
"Mmmmmm itu, tadi tu kakak enggak tau kalo anjing ternyata didalam kandang, hehehe." Jawab Alvaro dengan terkekeh.
Lalu setelah drama takut anjing itu selesai, kini Alvaro menyuruh Shaka untuk mengambil buah mangga tersebut. Namun, saat Shaka baru saja ingin manjat pohon mangga tersebut tiba-tiba dicegah oleh Zea.
"Jangan!" Teriak Zea menghalangi Shaka manjat pohon. Shaka pun langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa?" Tanya Alvaro bingung.
"Dede bayi nya maunya kakak sendiri yang mengambil kan mangga nya dan harus manjat." Jawab Zea dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"K--kakak."