Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Tak sadarkan diri


__ADS_3

"Bbrruuuuukkkkkk." Tabrakan pun tak dapat lagi dihindarkan.


Akibat kelalaian Kellan sendiri yang telah berkendara dengan menelfon, apa lagi posisi dia kini tengah galau hingga membuat konsentrasi nya buyar.


Mobil Kellan menabrak pohon besar dipinggir jalan, untung saja Kellan tadi tidak ngebut. Entah apa jadinya jika Kellan tadi berkendara dengan kecepatan tinggi.


Tak lama kemudian dia ditemukan oleh salah satu pengendara mobil lainnya, lalu ditelpon kan ambulance.


Kini Kellan pun telah dibawa kerumah sakit, untuk menjalani serangkaian perawatan.


Dokter yang menangani Kellan pun keluar untuk mencari keluarga nya.


"Keluarga pasien!" Teriak dokter tersebut namun, ternyata tak ada satu pun orang yang berada diluar menunggu Kellan.


Dokter itu pun kembali masuk keruang UGD. "Sus, apa tidak ada keluarga korban yang ikut?" Tanya sang dokter kepada salah satu suster yang ikut membantunya tadi.


"Tidak ada dok, yang saya tau pasien adalah korban tabrakan tunggal lalu ditolong salah satu pengendara dan dibawa kesini oleh ambulance." Terang suster tersebut, sang dokter pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari sang suster.


"Apa ada barang-barang yang dibawa?" Tanya nya lagi sang dokter tersebut.


"Sepertinya ada dok, dititipkan kebagian resepsionis." Ujar sang suster.


Dokter muda tersebut pun lalu keluar menuju bagian resepsionis. Setelah sampai dia pun lalu menanyakan data tentang pasiennya itu.


"Apakah ada titipan barang dari orang yang mengantarkan korban kecelakaan tadi mbak?" Tanya dokter tersebut.


"Ada dok, ini." Ujarnya dengan memberikan ponsel dan dompet milik Kellan.


Lalu dibukanya dompet untuk melihat identitas pasien dan ponselnya tersebut kemudian dokter muda itu pun melihat daftar panggilan terakhir. Dia pun langsung menelfon nomor tersebut.


Tut.........


Tut..........


Tak ada jawaban hingga panggilan yang ke Tiga barulah ada jawaban dari sang pemilik nomer itu pun karena tidak sengaja.


"Halo, selamat malam. Apa benar saya bicara dengan Istrinya bapak Kellan? begini Bu, saya hanya ingin memberi tahu bahwa Bapak Kellan saat ini tengah dirawat dirumah sakit akibat kecelakaan tunggal." Terang dokter muda tersebut saat panggilan telefon nya sudah tersambung.


DEG........

__ADS_1


Zea pun syok mendengar ucapan sang dokter saat dengan tidak sengaja dia menerima panggilan tersebut.


"Halo Bu, halo!" Karena tak ada jawaban apapun dokter itu pun kembali bersuara. Namun, bukannya jawaban yang dia dapatkan melainkan pemilik nomer tersebut justru malah mematikan panggilan telfon tersebut secara sepihak.


Dokter itu pun mengernyitkan keningnya sebab heran, apakah ada yang salah sehingga pemilik nomor itu justru malah mematikan sambungan telfon nya begitu saja.


"Kamu kenapa Ze?" Alvaro yang baru saja masuk, sebab dia dari luar membeli makanan pun sedikit bingung kenapa Zea nampak syok.


"Mas Kellan kecelakaan kak." Lirih Zea dengan meneteskan air matanya. Mau bagaimana pun Kellan tetap Suaminya, itu lah yang membuat Zea kini syok dan sedih.


Selain itu juga dia bingung harus bagaimana. Haruskah dia pulang menemui Kellan atau membiarkan saja.


"Kamu tau dari mana?" Tanya Alvaro lagi.


"Tadi nomor ponsel Mas Kellan menelfon ku terus menerus, lalu aku enggak sengaja menerima panggilan nya dan ternyata yang bicara bukan Mas Kellan tapi dokter yang menangani Mas Kellan." Jelas Zea kepada Alvaro, Alvaro pun hanya mengangguk-anggukkan nya.


"Sebentar, coba kakak telfon asisten kakak untuk menyelidiki hal ini." Ujar Alvaro, lalu dia pun merogoh Kantong kemudian mengeluarkan ponsel dan langsung menelfon Shaka.


Tut......


Tut......


"Coba kamu selidiki, apa benar Kellan mengalami kecelakaan dan kini dirawat dirumah sakit." Ucap Alvaro memberi perintah kepada Shaka.


"Baik Tuan." Shaka pun langsung bergegas mencari informasi tersebut.


Setengah jam kemudian informasi yang Alvaro butuhkan kini sudah siap.


Lalu Shaka pun menghubungi Alvaro dan memberikan informasi sedetail mungkin.


"Ternyata benar Ze, Kellan kecelakaan tunggal. Dia menabrak pohon besar dipinggir jalan, menurut informasi tak terlalu parah sih tapi dia harus dirawat untuk beberapa hari kedepan." Terang Alvaro kepada Zea.


"Lalu bagaimana? apa kamu mau kakak antar menemui nya?" Tanya Alvaro membuyar lamunan Zea.


"Tidak usah kak, kan sudah ada Diana dan ibunya." Walaupun Zea sedikit nyeri mengatakan hal itu namun, dia harus bisa menerima bahwa itu benar adanya.


Akhirnya sang dokter pun menghubungi nomor ponsel lain yang ada dalam didaftar panggilan terakhir Kellan.


Setelah tersambung dokter muda itu pun kembali memberi tahu kejadian yang menimpa Kellan.

__ADS_1


Diana pun nampak santai mendengar informasi tersebut, Entah karena dia sedang kesal dengan Kellan atau memang itulah sifat asli Diana.


"Bu, Mas Kellan kecelakaan dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Ibu kesana gih temenin Mas Kellan dan rawat dia." Perintah Diana kepada sang Ibu mertua seperti sedang memerintah seorang pembantu.


"Loh kok Ibu, harusnya kan kamu. kamu kan Istrinya Nak!" Jawab Ibu Kellan yang dia pun sangat malas jika harus berurusan dengan rumah sakit.


"Bu, aku itu trauma dengan rumah sakit, Ayah, Ibu, dan calon suamiku dulu meninggal bersamaan dirumah sakit. Apa lagi posisi ku sekarang kan sedang hamil, itu sangat tidak baik bagi kesehatan ku dan calon anakku." Bantah Diana tak mau kalah dari sang Ibu mertua.


Akhirnya setelah perdebatan cukup panjang, diantara mereka atau pun Anggita keluarga lainnya tak ada yang pergi kerumah sakit satu pun.


Hingga beberapa hari kini Kellan dirumah sakit namun, tetap sama tak ada satu orang pun yang datang menemui nya.


Sampai akhirnya dokter pun tak tega, lalu dia pun mencoba kembali menghubungi kembali nomor Zea. Sebab ternyata kondisi Kellan saat ini justru malah semakin memburuk dan belum juga sadar kan diri pasca kecelakaan itu, padahal luka yang diderita tak begitu parah.


Dokter pun cukup heran dengan kondisi ini, kenapa bisa pasien belum juga sadarkan diri.


Setelah sambungan telefon tersebut menyambung namun, bukan Zea yang menerima tapi Alvaro lah yang menerima.


"Halo, selamat malam." Ucap dokter muda itu ramah.


"Iya, selamat malam." Jawab Alvaro dingin.


"Maaf pak, saya menganggu, saya hanya ingin mengabarkan bahwa pasien belum juga sadarkan diri semenjak pasca kecelakaan itu, dan juga tak ada satu pun keluarga yang datang walau hanya untuk menjenguk nya." Jelas dokter itu, berharap dengan ini ada yang menjenguk Kellan dan memotivasi nya. Siapa tau dengan cara itu bisa membuat Kellan sadar dari tidur panjangnya.


"Apa anda tak menghubungi pihak keluarganya?" Tanya Alvaro datar.


"Sudah pak, tapi tetap saja tak ada yang datang satu pun." Jelasnya kembali.


"Baiklah, kami akan datang menemuinya." Jawab Alvaro, sebab dia tak ada pilihan lain, apa lagi ini menyangkut nyawa seseorang.


Saat sambungan telfon itu berakhir, Alvaro pun lalu menemui Zea yang sedang duduk menikmati indahnya malam.


"Ze, kita pulang kekota A yuk." Ajak Alvaro saat sudah duduk disamping Zea.


"Ngapain kak?" Tanya Zea bingung, kenapa Alvaro tiba-tiba mengajak nya pulang kekota A.


"Menjenguk Kellan, Kellan belum juga sadarkan diri dari pasca kecelakaan itu, dan katanya tak ada satu pun keluarganya yang menjenguk nya." Kata Alvaro dengan menatap Zea.


DEG............

__ADS_1


__ADS_2