
Sudah berjam-jam Kellan menunggu Zea namun, Zea pun tak kunjung kembali kekamar inap Kellan.
Hingga sampai sore menjelang pun belum ada tanda-tanda Zea akan kembali. Sampai saat sang dokter dan suster kini masuk kekamar Kellan, untuk melakukan pemeriksaan kepada Kellan untuk yang terakhir hari ini sebelum sang dokter pulang.
"Selamat sore Pak!" Sapa dokter tersebut ramah.
"Sore juga dok, oya, apa dokter atau suster ada yang melihat Istri saya?" Tanya Kellan langsung sebab dia sangat takut jika Zea akan meninggalkan nya lagi.
"Ibu Zea maksudnya Pak?" Dokter itu justru kembali bertanya.
Kellan hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.
"Saya juga tidak tau Pak, hanya saja Ibu Zea tadi keruangan saya dan berpesan untuk saya menjaga dan merawat Bapak hingga sembuh." Terang dokter tersebut, menyampaikan pesan Zea.
DEG.......
"Apa ini artinya Zea meninggal kan aku lagi?" Monolog Kellan didalam hati.
"Pak, Bapak enggak pa-pa?" Tanya sang dokter membuyarkan lamunan Kellan.
"Iya, saya enggak kenapa-kenapa dok." Lalu dokter pun mulai memeriksa keadaan Kellan saat ini.
"Semuanya sudah membaik Pak, besok pagi bapak sudah bisa pulang sepertinya." Ujarnya dengan tersenyum.
Kellan pun hanya membalas dengan tersenyum getir. Dia bahagia karena sudah sembuh dan segera bisa keluar dari rumah sakit, tapi disisi lain dia sangat sedih sebab kini Zea meninggal kan nya lagi untuk yang kedua kalinya.
Dia sebenarnya sadar dan tau betul bahwa Zea sangat terluka dalam situasi ini namun, keegoisan nya menutupinya dan tetap menginginkan Zea selalu tinggal disisinya.
Mungkin jika kasusnya adalah ekonomi atau hal lainnya Zea tetap akan selalu setia berada disampingnya, tetapi tidak untuk ini.
Keesokan harinya Kellan pun dinyatakan benar-benar pulih dan diperbolehkan pulang.
Kellan pun pulang sendiri dari rumah sakit, tapi dia tak pulang kerumah Ibunya melainkan pulang kekontrakan nya yang dia tinggali bersama Zea selama ini.
Setelah sampai, dia pun langsung masuk kedalam rumah kontrakan nya dan mendudukkan dirinya diatas sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Kini aku benar-benar sadar sayang, siapa yang selalu ada untuk ku, disaat susah ataupun senang." Lirih Kellan.
"Jangankan orang lain, Istri baruku dan Ibu kandung ku, juga semua keluarga ku pun tak ada satupun yang datang disaat aku terkapar tak berdaya dirumah sakit. Tapi disaat aku sehat dan beruang, mereka semua memujiku dan mendekat."
"Tapi, kamu yang aku lukai secara terang-terangan justru malah datang dan menurunkan egomu untuk merawatku hingga aku sembuh seperti saat ini."
"Terimakasih sayang, kini kamu benar-benar pergi meninggalkan aku. Aku harus bagaimana Ze? apa aku harus merelakan kamu bahagia dengan yang baru? aku nggak bisa sayang, nggak bisa." Tangis Kellan kini pecah, Kellan menangis meratapi nasibnya yang sudah menjadi bubur.
Dia benar-benar kehilangan berlian hanya untuk memilih batu kerikil. Penyesalan Kellan pun kini tiada guna, semua sudah terjadi dan terlambat untuk diakhiri.
Kini Diana tengah mengandung benih Kellan, itu kenyataan nya. Juga seburuk apapun Ibunya dia juga tidak bisa jika harus memusuhinya.
Entahlah bagaimana pola pikir dan dimana hati nurani mereka, Bisa-bisa nya seorang Ibu membiyarkan anaknya terkapar tak berdaya dirumah sakit dan tak sekalipun menjenguk untuk sekedar melihat keadaan nya. Begitu juga dengan sang Istri, yang katanya sangat mencintai nya nyatanya dia juga tak sedikitpun perduli atas musibah yang menimpanya.
Tapi Zea, orang yang paling terluka disini, dia justru menurunkan egonya dan merawat sang calon mantan suaminya dengan begitu tulus.
Hari ini rencana Alvaro akan mengajukan gugatan perceraian Zea untuk Kellan.
"Kamu urus semuanya." Titah Alvaro kepada sang asisten.
Setelah urusannya selesai dengan asisten nya, Alvaro pun kini berjalan menghampiri Zea yang kini tengah sibuk memasak.
Alvaro pun menyunggingkan senyum nya, ada rasa bahagia yang teramat saat melihat itu.
"Masak apa Ze?" Tanya Alvaro saat sudah tepat dibelakang Zea, Zea pun sedikit terperanjat karena kaget mendengar suara Alvaro yang tiba-tiba sudah berada tepat dibelakang nya.
"Issshhh, kakak, aku kaget tau." Ucap Zea dengan mengerucutkan bibirnya membuat Alvaro menjadi sangat gemas.
"Maaf." Kata Alvaro dengan nyengir kuda lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Aku hari ini mau masak sup iga sapi, trus bikin sambal aja deh, males yang ribet-ribet." Ujar Zea dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apapun itu, kalau yang masak Tuan putri saya ikut aja." Jawab Alvaro dengan membalas mengedipkan sebelah matanya membuat mereka lalu tertawa bersama.
Zea ikut tertawa lepas bagaikan tak memiliki beban fikiran, padahal kepalanya terasa mau pecah saat memikirkan semua masalah yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Akhirnya, masakannya sudah siap sebab dibantu oleh Alvaro, kini Zea pun tinggal menyajikan saja dimeja makan lalu mereka berdua pun sarapan bersama.
Disela-sela acara sarapan kali ini, Zea pun mengutarakan pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepalanya beberapa hari ini.
"Kak, bagaimana dengan kedua orang tua ku?" Tanya Zea Dengan lembut.
Alvaro pun seketika meletakkan kembali sendoknya diatas piring.
"Kamu tenang saja, semua sudah kakak urus." Alvaro tersenyum manis kearah Zea.
"Apa itu artinya mereka sudah mengetahui ini semua?" Tebak Zea, mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Alvaro.
"Ya, begitulah." Jawab Alvaro dengan santainya, seperti bukan sedang membicarakan hal serius saja.
Zea nampak sedikit syok mendengar itu, bagaimana bisa semua itu terjadi dan bagaimana bisa kedua orang tuanya tak menelfon nya setelah mengetahui itu semua, seperti tak ada apapun yang terjadi.
"Bagaimana mungkin?" Tanya Zea penuh selidik dan menatap penuh arti kepada Alvaro.
"Apa? kenapa kamu menatap kakak begitu? emang apa yang akan kakak lakukan." Elak Alvaro, yang sedikit bergidik ngeri melihat tatapan horor Zea.
Tapi, bukannya Zea berhenti justru malah semakin tajam menatap Alvaro.
"Sudahlah, terlepas dari apapun itu, yang terpenting sekarang adalah kedua orang tua mu sudah tau, dan mereka baik-baik saja, oke!"
Sebenarnya dihati Zea kini sudah ada kelegaan, karena ternyata kedua orang tuanya sudah mengetahui apa yang terjadi dengannya. Tapi tak dipungkiri dia juga penasaran, apa yang dilakukan Alvaro hingga bisa meredam amarah kedua orang tuanya saat mengetahui ini semua.
Disebuah rumah kontrakan, kini Kellan terdiam melamun seperti mati tak mau, hidup pun segan. Tiba-tiba saja disela-sela lamunannya terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Kellan pun menyunggingkan senyumnya, diaberharap bahwa itu Zea lah yang datang.
Tok.......
Tok........
Kellan berjalan dengan antusias dan membuka pintu tersebut, setelah pintu terbuka senyumnya seketika pudar begitu saja.
__ADS_1
Ceklek.......